Disdik Diminta Siapkan SOP Bina Karakter di Sekolah

0
342
ANGGOTA DPRD Kota Tanjungpinang Petrus M Sitohang (kanan) dan Agus Djurianto (kiri) saat sidang paripurna membahas pendidikan dan persoalan lainnya di Tanjungpinang, baru-baru ini. F-istimewa

TANJUNGPINANG – Derasnya perkembangan zaman turut mempengaruhi perilaku siswa di sekolah. Anak makin nakal bahkan kadang terjadi bully hingga mengompas adik kelas.

Belum lagi perbuatan yang suka melawan orangtua, melawan guru termasuk seks bebas hingga harus berhenti sekolah akibat MBA (Merried by Accident) atau hamil di luar nikah.

Anggota Komisi I DPRD Kota Tanjungpinang, Petrus M Sitohang mengatakan, jika semua pihak dituntut kerja sama memajukan pendidikan, maka semua pihak lebih dituntut lagi untuk mengatasi persoalan anak-anak atau siswa saat ini yang kadang sudah berbuat di luar batas.

Petrus mengatakan, jangan sampai cepatnya kemajuan zaman diikuti pula dengan perubahan siswa yang makin nakal dan moralnya bergeser menyimpang.

Dinas Pendidikan, kata politisi PDIP Tanjungpinang ini, harus melakukan tindakan antisipasi. Harus dilakukan kajian seperti apa melihat perilaku anak yang menyimpang di sekolah dan bagaimana menanganinya.

”Harus ada SOP (Standar Operasional Prosedur) penanganan perilaku yang menyimpang di sekolah-sekolah. Harus ditunjuk guru untuk menangani ini dan diberi pelatihan,” jelas Petrus, kemarin.

Kenapa SOP ini harus disiapkan di seluruh sekolah dan menjadi perhatian penting Karena akhlak siswa itu lah yang harus diutamakan. Untuk apa siswa yang pintar jika tidak berakhlak mulia.

Dalam program Nawacita Presiden RI Joko Widodo, kata dia, siswa yang menempuh pendidikan dasar SD-SMP difokuskan pada pembentukan karakter anak yang bagus.

Kemudian, setelah di SMA sederajat fokus pada pengetahuan dan keterampilan agar siap dipakai dunia usaha. Tanjungpinang sendiri, kata dia, sudah ditetapkan menjadi daerah dengan status darurat kasus anak.

Penetapan status darurat kasus anak ini karena perilaku siswa yang sudah di luar batas, sudah di luar dugaan. Hal ini tidak boleh dibiarkan karena bisa menjadi virus bagi siswa yang lain. Jika ini sudah terjadi, makin sulit menanganinya. Sehingga tidak bisa dianggap sepele.

Perlu dilakukan upaya tangkal (antisipasi) di sekolah-sekolah. Itulah gunanya SOP penanganan karakter anak tersebut sangat diperlukan. Untuk membuat SOP ini, sebaiknya Dinas Pendidikan melibatkan psikolog yang ahli di bidangnya.

Petrus berharap, Disdik sudah memiliki program ini, sehingga dewan akan menyetujui anggarannya dalam menyiapkan SOP penanganan karakter siswa di sekolah-sekolah tersebut.

Disdik, kata dia, harus taat dengan aturan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang dikeluarkan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI melalui Permendikbud tentang PPDB.

Jika sudah ditetapkan untuk SD, misalnya maksimal 28 orang per kelas dan minimal 20 orang, maka patuhi aturan itu. Jangan sampai memaksakan siswa hingga 40 orang per kelas.

Dampaknya salah satunya pada pengawasan guru terhadap anak di dalam kelas sudah berkurang. Sebab, jumlah anak yang diawasi sudah terlalu banyak. Angka maksimal 28 siswa di satu kelas itu sudah tepat dan tidak asal dibuat Kementerian Pendidikan.

Guru pun bisa stres mengawasi anak yang terlalu banyak di dalam kelas. Diawasi di sebelah kiri, ribut di sebelah kanan. Diawasi di sebelah kanan, ribut di sebelah kiri.

”Sudah pasti pengawasan anak berkurang. Karena jumlah siswa tidak ideal lagi. Beban guru terlalu berat. Kita ingin siswa pintar, tapi siswa sendiri tak bisa konsentrasi penuh saat belajar. Terlalu penuh dalam satu kelas,” ungkapnya lagi.

Di sisi lain, guru juga selalu ada kekhawatiran saat ini dengan banyaknya tenaga pengajar yang dipolisikan karena memukul siswa. Sehingga, sulit bagi guru mendisiplinkan siswa yang nakal.

Orangtua, kata dia, perannya lebih besar lagi dalam membentuk karakter anak. Orangtua harus sering konsultasi dengan guru terkait kondisi anaknya baik itu untuk mata pelajaran atau kondisi kejiwaan atau perilaku anaknya sendiri di sekolah.

Apabila misalnya anak takut ke sekolah, ini masalah. Harus diketahui apa persoalannya. Belum tentu anak mau jujur kepada orangtuanya. Bisa saja hal ini terjadi karena anak di-bully di sekolah atau sering jadi korban pemerasan.

Guru pun juga harus memperhatikan karakter seluruh siswanya. ”Kan guru tahu juga mana siswa yang pendiam, yang kasar, yang nakal, yang pintar, yang penakut. Jika ada siswanya yang nakal, harus segera ditangani. Bagaimana caranya, inilah gunanya SOP penanganan karakter anak itu,” ungkapnya lagi.

Petrus menambahkan, secara psikologi, karakter anak itu dibina di dalam keluarga. Karena itu, sejak anak masih kecil orangtua harus memberi contoh yang baik. Tanamkan kebaikan-kebaikan dan sopan santun dalam anak.

Ia juga mengisahkan perubahan perilaku siswa saat ini yang berubah total kepada gurunya soal rasa hormat dan segan dibandingkan zaman dulu.

Jika dulu siswa paling takut bertemu atau melihat gurunya, maka saat ini anak seakan biasa saja melihat gurunya. Padahal, tanpa guru kita tidak ada apa-apanya.

Sekali lagi Petrus meminta agar Disdik menyiapkan rancangan SOP itu. Semoga ke depan siswa di Tanjungpinang berperilaku baik seperti harapan semua orangtua.

Saran dia, anak-anak juga harus dibatasi menggunakan smartphone karena terlalu menyibukkan si anak tanpa memperhatikan sekelilingnya. Sehingga, makin banyak anak yang bersikap individualis.

Hal itu karena jarang komunikasi dengan teman-teman dan lingkungannya. Mereka telah disibukkan dunia maya yang saat ini telah merasuki semua kalangan.

Memang, kata Petrus, mengikuti perkembangan teknologi informasi sudah keharusan. Tidak bisa tidak, karena bisa ketinggalan zaman. Namun tetap ada batas-batasnya. Bukan dilarang sama sekali, tapi ingat dampak negatifnya pada anak ke depan. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here