Disiapkan Alternatif Perpendek Jam Belajar

0
67
Kondisi asap di Kepri, semakin hari, semakin menghawatirkan. Terutama pada pagi hari, saat anak-anak mengikuti proses belajar dan mengajar di sekolah.

BATAM – Saat ini, Kepala Dinas Kota Batam, menyiapkan alternatif meliburkan sekolah atau memperpendek jam belajar.

Namun Gubernur Kepri, Isdianto dan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, sementara memilih belum ambil kebijakan itu.

Kepala Dinas Kesehatan Batam, Didi K mengungkapkan, Rabu (18/9) di Batam, pihaknya saat ini mengajukan surat pengajuan libur untuk anak sekolah. Namun keputusan menunggu Wali Kota Batam, HM Rudi.

”Kita meminta diliburkan sekolah, sampai akhir pekan. Karena kondisi asap tidak sehat untuk anak,” kata Didi K.

Namun menanggapi hal itu, Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad mengatakan, untuk sekarang belum ada kebijakan libur sekolah. Didik diakui sudah menyurati Wako Batam, untuk meminta anak sekolah diliburkan.

”Pak Didik membuat surat meliburkan, tapi pak Gubernur akan membahas dengan Dinas Kesehatan kota dan provinsi,” kata Amsakar.

Pihaknya dalam hal ini, Wako dan Wawako, akan membahas langkah atau kebijakan yang akan diambil, terhadap kegiatan belajar mengajar di sekolah di Batam.

”Nanti kami akan membahas dengan Dinkes dan Disdik. Tadi pagi melalui Sekretaris Disdik, sudah minta diantisipasi. Tapi belum sampai kebijakan pulang cepat atau libur. Kecuali asap sudah diambang batas,” sambungnya.

Menurutnya, langkah yang perlu diambil, di antaranya baru untuk anak menggunakan masker. Sehingga anak-anak sekolah di Batam, lebih terjaga dari pengaruh asap, seperti pada penyakit ISPA. Selain itu, kegiatan diluar kelas diminta dihentikan dulu. Seperti kegiatan olah raga.

”Di luar ruangan, kita minta dihentikan dulu kegiatan anak sekolah,” ujar dia.

Sementara Gubernur Kepri, Isdianto mengatakan, sementara ini kegiatan belajar mengajar masih normal. Diakui, saat ini kondisi udara masuk kategori tidak sehat.

”Hari ini, udara di angka 114. Yang sehat dibawah 100. Tapi kondisi itu masih ditolerir. Kalau di atas itu, seperti 230, kita akan ambil kebijakan, karena berbahaya untuk anak,” katanya.

Sementara untuk meliburkan anak, dinilai Isdianto dapat disesuaikan dengan daerah lain di Kepri. Bupati dan wali kota di Kepri disebut, bisa mengambil kebijakan sesuai dengan kebutuhan.

”Sekarang masih bisa ditolerir. Kalau di atas nanti kita ambil kebijakan bagaimana merespon soal asap,” ujar. (MARTUA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here