DKP Minta Nelayan Beralih ke Budidaya Ikan

0
591
Edi Sofyan

Cara Tangkap Ikan Masih Tradisional

TANJUNGPINANG – Letak geografis Kepri 96 persen dan 4 persen daratan. Ikan hasil laut Kepri harusnya bisa berlimpah-limpah dan kehidupan nelayan sejahtera.

Kenyataan yang terjadi di Kepri, nasib nelayan justru terpuruk. Meski Pemprov Kepri maupun Pemkab/Pemko sudah melakukan berbagai cara untuk membantu, tetap tak mengangkat nasib mereka lebih baik.

Banyak program yang sudah dilakukan untuk membantu warga miskin termasuk nelayan, tapi tidak banyak yang berubah.

Program itu seperti, membantu merenovasi rumah warga pesisir yang tidak layak huni melalui program Rumah Tidak Layak Huni (RTLH), bantuan jaring, mesin ketinting, sampan, kapal besar dan lainnya.

Kepala Dinas Kelautan Perikanan (DKP) Pemprov Kepri, Edi Sofyan mengatakan, saat ini lebih 90 persen dari sekitar 81 ribu nelayan di Kepri masih berbasis tradisional menangkap ikan.

Hal ini membuat tangkapan ikan nelayan terbatas. Untuk itu, apabila nelayan ingin kehidupannya lebih baik, maka harus bergeser dari nelayan tangkap menjadi nelayan budidaya.

Memang, kata Edi, Pemprov Kepri saat ini sudah mengarah pengembangan budidaya ikan di Kepri. Hanya saja, belum berkembang lantaran pola pikir masyarakat yang ingin dapat uang cepat.

Kalau nelayan tangkap, hari ini turun ke laut mereka langsung dapat uang. Namun, hasilnya tidak seberapa dan cukup untuk kebutuhan mereka sehari-hari saja.

Dengan budidaya ikan, hasil yang diperoleh bisa melimpah. Namun, prosesnya panjang karena harus menunggu beberapa bulan agar bisa panen. Ini yang sering membuat nelayan tak sabar.

”Tapi kalau nelayan kita mau maju, harus beralih dari nelayan tangkap ke nelayan budidaya. Bisa secara perlahan-lahan. Kalau sudah bagus, tinggalkan lah nelayan tangkap itu dan fokus mengelola budidaya,” ujarnya kepada Tanjungpinang Pos, kemarin di Gedung Daerah Tanjungpinang.

Dengan budidaya ikan, maka nelayan Kepri akan semakin maju dan modern.

”Pengelolaan budidaya ikan yang modern, hasilnya luar biasa. Penghasilannya melimpah,” katanya memberi semangat.

Ia berharap, nelayan mulailah terbiasa dengan budidaya ikan dan harus dicoba serta dimulai.

”Kalau tidak, kapan lagi? pengelolaan laut kita harus moderen dan masyarakat nelayan harus siap,” ungkapnya.

Yang terjadi di Kepri selama ini, hasil ikan di laut justru dijarah asing dengan banyaknya nelayan asing mencuri ikan di laut Kepri.

Natuna dan Anambas salah satu sasaran pelaku illegal fishing tersebut. Satu tahun diperkirakan triliunan kerugian Indonesia akibat perbuatan pelaku illegal fishing di Natuna.

Karena itu, Menteri DKP Susi Pudjiastuti menerapkan aturan keras dengan menenggelamkan kapal-kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia.

Di satu sisi, minimnya hasil tangkapan nelayan Kepri karena mereka hanya menggunakan kapal kecil. Sehingga tidak bisa mencari ikan ke laut lepas. Jadinya, nelayan kecil hanya bisa mencari ikan di tepi pantai dengan jarak tertentu. Tengkulak menguasai harga ikan. (mas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here