Doa Bupati Bintan Ketika Melepas Penghuni Ekslokalisasi

0
678
Dua wanita dari puluhan penghuni ekslokalisasi di Bintan mengangkat koper, pada saat pemulangan dan penutupan lokalisasi, Senin (16/9) kemarin. Foto : Yendi/Tanjungpinang Pos

Senyum nan Indah, Lupakan Masa Lalu, Moga Dapat Jodoh

Pemulangan WTS dari dua lokalisasi di wilayah Bintan, tak hanya dibekali modal untuk menjalankan usaha. Tapi, langkah para wanita aduhai ini, disertai dengan doa Bupati Bintan H Apri Sujadi, ketika pulang menuju kampung halamannya, Senin (16/9) kemarin.

BINTAN – Puluhan Wanita Tuna Susila (WTS) penghuni ekslokalisasi Bukit Senyum Km 79 dan Bukit Indah Km 24, langsung bersalaman dengan Bupati Bintan H Apri Sujadi, setelah acara pelepasan selesai. Satu per satu beranjak dari kursi plastik, dan meninggalkan tenda kegiatan seremonial penutupan lokalisasi. Beberapa orang WTS masih terlihat bergegas untuk berswafoto (selfie), dengan pejabat nomor 1 di Kabupaten Bintan ini.

Beberapa pejabat mulai menghilang. Ada yang masuk ke mobil dinas, dan meninggalkan ekslokalisasi Bukit Senyum Km 79 tersebut. Bupati Bintan, Kepala Dinas Sosial Bintan Edi Yusri dan beberapa OPD masih diam di tempat. Dari pintu beberapa kafe, para WTS kembali terlihat. Tapi, kini mereka membawa koper menuju bus milik Pemkab Bintan.

Baca Juga :  2 PDP Covid-19 Meninggal, Satu Keluarga di Uban Diisolasi

Dari raut wajah WTS ini, ada yang terlihat berseri. Sebagian lagi justru seperti ada rasa keterpaksaan. Namun, langkah mereka tidak surut untuk menuju ke kampung halaman. Betapa tidak, sebelum mereka diberi bantuan, dan dilepas untuk meninggalkan lokalisasi, Bupati Bintan H Apri Sujadi mengatakan, pemulangan para penghuni ekslokalisasi ini merupakan program pemerintah nasional.

Seluruh lokalisasi di Indonesia ditutup, dan bebas dari prostitusi pada tahun 2019 ini. Di Bintan, kawasan yang menjadi lokasi prostitusi itu di Bukit Senyum Km 79, dan Bukit Indah di Km 24. Para penghuni ekslokalisasi diberikan modal usaha, untuk meninggalkan tempat ini. Bahkan disediakan dana untuk transportasi serta jaminan hidup. Lumayan, masing-masing WTS menerima Rp6 juta.

WTS yang menerima dan menyatakan bersedia untuk dipulangkan ke daerah asal ini, jumlahnya 56 orang. Meski beberapa bulan lalu, WTS di dua lokalisasi ini mencapai 150-an orang. Tapi, sekitar 91 orang memilih meninggalkan lokalisasi lebih awal.

Baca Juga :  Warga Tionghoa Buru Suvenir dan Merias Vihara

Bupati Bintan H Apri Sujadi pun salut, ketika 56 orang WTS ini ingin kembali ke kampung halaman. Bupati berharap, langkah WTS menuju ke kampung halaman disertai dengan ‘senyum nan indah’. Ungkapan ini diambil dari potongan kata lokalisasi Bukit Senyum dan Bukit Indah.

“Jadi, penutupan lokalisasi di Bintan ini, senyum nan indah bagi kita semua. Baik yang mau ke kampung halaman, maupun bagi warga yang ditinggalkan,” kata H Apri Sujadi.

H Apri Sujadi tak hanya berpesan, senyum nan indah ketika meninggalkan lokalisasi di Bintan. Tapi, bupati juga mendoakan agar para WTS melupakan masa lalu yang kurang baik. Karena, setiap manusia itu punya masa lalu yang tidak baik. Bagi WTS, pekerjaan prostitusi bukan satu pilihan. Tapi, sebagian besar karena terpaksa, untuk memenuhi kebutuhan hidup. Sekarang, mulai lah dengan kehidupan baru, dan melupakan masa lalu yang kelam tersebut.

Untuk menghindari kembali ke aktivitas prostitusi, Bupati Bintan H Apri Sujadi pun mendoakan agar para WTS yang kembali ke kampung halaman, secepatnya mendapatkan jodoh (suami). Sehingga, bisa menjalani kehidupan berumah tangga, yang lebih baik. Tapi, bupati berharap, jodoh yang didapatkan itu, dua suami atau lebih. Cukup satu saja.

Baca Juga :  Kantor Lurah Seilekop Nyaris Terbakar

“Iya, masih teringat pesan dan doa Pak Bupati tadi. Semoga doa itu terkabul buat kehidupan saya ke depan,” kata seorang WTS, sambil terus berjalan menuju bus yang sudah parkir.

Dari pendataan Dinas Sosial Kabupaten Bintan, 56 orang WTS yang dipulangkan ke kampung halaman ini, mayoritas berasal dari Jawa Barat, sebanyak 23 orang. Tapi, WTS yang ber-KTP dari Provinsi Kepri berada di peringkat kedua, sebanyak 13 orang. Sisanya, berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Selatan, Lampung, Kalbar, Sumut, Sumbar, NTT, Bengkulu, Jambi, Aceh, dan NTB. (YUSFREYENDI)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here