Dolar Menguat, Positifkah Terhadap Ekspor Kepri?

0
637
Lukita D. Tuwo

Oleh: Lukita D. Tuwo
Bekerja di BP Batam

Di tengah-tengah euforia pesta demokrasi yang baru saja usai dilaksanakan di 171 wilayah (17 provinsi dan 154 kabupaten/kota), nilai tukar rupiah terhadap dollar AS mengalami tekanan. Angkanya melemah, melampaui Rp14.280 per dollar AS.

Tren pelemahan rupiah ini sesungguhnya sudah lama, merangkak sejak 2012 dimana rata-rata kurs dollar masih berada di bawah angka Rp10.000. Namun di tahun-tahun berikutnya sudah berfluktuasi pada kisaran angka Rp13 ribuan. Berbagai kebijakan dan strategi telah dikeluarkan Pemrintah dan Bank Indonesia, seperti intervensi pasar, menerbitkan Sertifikat Deposito Bank Indonesia (SDBI), memperkuat pengelolaan penawaran/permintaan valas dan peningkatan tingkat bunga BI, namun pelemahan masih belum terbendung, dan semakin cepat akhir akhir ini sebagai dampak peningkatan suku bunga Fed, yang telah dinaikkan dua kali tahun ini.

Kenaikan tingkat bunga Fed diperkirakan masih akan dilakukan dua kali lagi hingga akhir tahun 2018. Trend pelemahan yang sudah berlangsung cukup lama ini menunjukkan adanya kondisi struktural yang perlu diperkuat, khususnya terkait kinerja ekspor dan ketergantungan terhadap bahan baku impor. Tentunya hal ini harus menjadi perhatian semua pihak agar nilai tukar rupiah terhadap dollar AS bisa menguat kembali, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Peningkatan nilai tukar rupiah (NTR) terhadap dollar A.S yang berarti depresiasi rupiah terhadap dollar, menjadi perhatian serius bukan saja oleh Pemerintah tetapi juga para pelaku usaha/bisnis.

Maka tidak jarang issu NTR tersebut menjadi topik perbincangan hangat dalam berbagai forum diskusi formal dan juga media elektronik akhir-akhir ini.

Kenapa? Karena dampak NTR terhadap perekonomian sangatlah luar biasa, seperti misalnya, dampaknya terhadap surplus/defisit perdagangan, harga barang/jasa dalam negeri dan aliran modal asing yang keluar (capital outflow) meningkat, daya saing produk industri manufaktur baik di dalam negeri maupun di pasar luar negeri (ekspor) menjadi melemah karena masih bergantung pada bahan baku dan barang modal impor.

Performa Ekspor Kepri
Kenaikan NTR terhadap dollar AS, sering kali diyakini akan menjadi insentif buat ekspor. Artinya, dengan NTR yang meningkat, para eksportir akan memperoleh ekstra profit karena input cost-nya tidak berubah (ceteris paribus).

Dengan demikian, para eksportir dan tentunya industri manufaktur berorientasi ekspor akan termotivasi untuk meningkatkan produksi/ekspornya. Hal ini sudah barang tentu akan melipatgandakan profit bagi para pengusaha dan secara otomatis akan menambah ketersediaan dollar/devisa dalam negeri yang ujungnya akan memperkuat perekonomian nasional.

Baca Juga :  Suksesnya Pilkada Serentak 2018 Bertanda Terwujudnya Pemilih Berdaulat

Bila diperhatikan dari waktu ke waktu, performa ekspor Kepri tidak begitu menggembirakan. Trennya terus menunjukkan penurunan terutama sejak 2013 dengan nilai ekspor USD 16.769 juta hingga mencapai USD 11.030 juta pada 2016 (turun 34,2 %) dan kemudian naik ke angka USD 12.276 juta pada 2017.

Bahkan bila diurai lebih jauh, ekspor Non-migas yang notabene 98 persen lebih adalah hasil industri manufaktur, juga mengalami penurunan dari USD 10.801 juta pada 2013 ke angka USD 8.736 juta pada 2017, atau turun sebesar 19,12 persen.

Bagaimana Sesungguhnya Dampak NTR ?
Sebagaimana diuraikan sebelumnya bahwa kenaikan NTR terhadap dollar AS akan dapat meningkatkan ekspor. Tetapi berdasarkan fakta empiris, hal itu tidak terjadi paling tidak untuk komoditi ekspor Kepri, terutama ekspor Non-migas.Selama periode 2012 s/d 2017 dan berdasarkan analisis statistik, terlihat hubungan negatif diantara kedua indikator. Dengan kata lain, ketika NTR meningkat, penerimaan devisa dari komoditi ekspor Non-migas justru mengalami penurunan yang dalam banyak kajian, korelasinya justru diharapkan sebaliknya atau meningkat.

Tidak terlihatnya dampak positif NTR terhadap peningkatan ekspor Non-migas Kepri, dapat disebabkan oleh beberapa faktor.
Pertama, penurunan ekonomi global selama beberapa tahun terakhir telah menurunkan permintaan ekspor untuk industri berbasis migas dan industri galangan kapal, yang merupakan andalan industri ekspor di Batam.

Kedua, ada penurunan komoditas impor Kepri yang merupakan penopang industri manufakur yang bisa jadi disebabkan oleh meningkatnya NTR sehingga biaya impor juga meningkat. Dampaknya, produksi industri pengolahan mengalami penurunan yang notabene kontribusinya terhadap total ekspor Kepri relatif cukup besar, yaitu antara 60 s/d 77 persen dan di atas 97 persen terhadap ekspor Non-migas dalam 5 tahun terakhir.

Ketiga, masalah regulasi danperizinanuntuk berinvestasi di Batam, selama ini dianggap masih terlalu berbelit-belit dan menyusahkan para pelaku usaha, todak sesui dengan praktek internasional yang biasa berlaku di daerah FTZ Banyak perijinan yang harus dilakukan ke Jakarta, yang seharusnya bisa dilakukan oleh BP Batam sebagai lembaga pengelola kawasan FTZ. Akibatnya, banyak diantara mereka yang tutup dan bahkan terpaksa hengkang kenegara-negara jiran, seperti Myanmar, Vietnam, Thailand, dan Malaysia.Efek liniernya, ekspor Non-migas menurun.Keempat, masih adanya pelayanan perizinan yang ditangani oleh BP Batam dan Pemerintah Kota Batam terkait investasi dan ijin usaha. Akibatnya, para calon investor mengalami kebingungan dan berujung pada pengurungan niat untuk berinvestasi di Batam.Dampaknya, capaian realisasi investasi selama periode 2014 ā€“ 2017 sangat kecil dan hanya sebesar 7,5 persen dari target yang ditetapkan senilai Rp 471,9 trilliun.

Baca Juga :  Hobi atau Penyakit?

Apa Yang Harus Dilakukan ?
Di tengah melesunya perekonomian Kepri, meskipun di triwulan I 2018, telah mulai pulih dengan tumbuh sebesar 4;47%, industri manufaktur terutama yang berorientasi ekspor, diharapkan akan mendapat benefit dari peningkatan NTR terhadap dollar AS. Dalam kenyataannya,ekspektasi itu tidak terjadi.Oleh karena itu, kita semua para pemangku kepentingan/kebijakan harus sepakat dan satu visi untuk menggenjot kembali potensi ekspor Kepri yang luar biasa itu.

Secara faktual ada 10 golongan komoditas unggulan utama Kepri yang cukup signifikan dalam mendongkrak eskpor Kepri dan harus menjadi fokus perhatian kita semua.Golongan komoditas tersebut adalah mesin/peralatan listrik, mesin-mesin/pesawat mekanik, minyak dan lemak hewab/nabati, berbagai produk kimia, benda-benda dari besi dan baja, kokoa/coklat, perangkat optik, timah, kendaraan dan bagiannya, dan kapal laut. Secara rata-rata besarnya kontribusi dari kesepuluh kelompok barang tersebut mencapai 80 persen per tahun yang seyogianya bisa mendapat benefit dari peningkatan NTR.

Untuk mendongkrak kembali potensi industri manufaktur dan ekspor Non-migas Kepri secara khusus dalam rangka mempercepat pertumbuhan ekonomi 2018 di atas 5 persen,BP Batam telah menyelenggarakan forum diskusi dengar masukan dari para pelaku usaha/bisnis, asosiasi, Kadin,dan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait, pada tanggal 3-4 Juli 2018. Dari diskusi tersebut, ada beberapa masukan penting dan strategisuntukdapatditindaklanjuti baik oleh BP Batam maupun stakeholders lainnya.

Pertama,masalah proses perizinan masih dirasakan berbelit-belit dan perlu disederhanakan.untukmendorong masuknya investasi ke Batam lebih deras lagi sehingga capaian realisasi investasi bisa ditingkatkan 2 s/d 3 kali lipat dari capaian 7,5 %. Untuk tujuan ini, BP Batam sudah mengembangkan sistem i23j (izin investasi dalam 3 jam) serta KILK (Kemudahan Investsi Langsung Konstruksi untuk mempermudah dan mempercepat proses perizinan investasi. Bahkan yang terkait dengan lahan seperti IPH telah dipermudah menjadi kurang dari satu minggu. Untuk pelayanan UWTO, Surat Keputusan (Skep), Surat Perjanjian(SPJ), dan Penetapan Lokasi(PL), serta fatwa planologi, BP Batam telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk mempercepat perijinan investasi dan usaha yang ditangani BP Batam.

Kedua, pemberlakuan FTZ masih dirasakan adanya hambatan karena banyak perijinan yang ditetapkan oleh Kementerian/Lembaga (K/L) teknis di Pusat.Untuk penyelesaian maslah ini, BP Batam selaku organ Pusat sedang mengusulkan dan memperjuangkan ke K/L terkait agar FTZ dilaksanakan secara murni sesuai praktek FTZ internasional.Dalam konteks ini, K/L harus mendelegasikan kewenangannya ke BP Batam sebagai pengelola FTZ.

Baca Juga :  Laut Sasaran Empuk Sampah Plastik

Ketiga, masalah SKA dan IT inventorymasih dianggap rumit dan menyulitkan dalam proses administrasi untuk pengiriman produk Batam ke wilayah lain di Indonesia. Saat ini banyak produsen di Batam, memilih mengirimkan barangnya ke daerah lain di Indonesia, khususnya Jakarta, via Singapura. Terkait dengan KSA, BP Batam segera memperjuangkan ke K/L teknis agar penerbitannya dapat didelegasikan ke BP Batam. Sementara yang terkait dengan IT inventory, Ditjen Bea dan Cukai diharapkan dapat mempermudah integrasinya sebagaimana diusulkan oleh para pelaku usaha/bisnis.

Keempat, biaya logistikmasih dirasakan mahal. Untuk mengatasinya, BP Batam akansegera meng-upgrade fasilitas pelabuhan dan bandara. Sementara yang terkait dengan sarana angkutan, Kementerian Perhubungan dan Kementaerian Luar Negeri diharapkan dapat meresponsnya denganmengoperasikan kapal Roro berbendera Indonesia untuk melayani jalur Batam ā€“ Singapura (PP).Kelima, BP Batam mendorong sumber-sumber pertumbuhan ekonomi yang baru. Sambil tetap mendorong sumber pertumbuhan yng ada, dari industri manufaktur, BP Batam mendorong investasi di industri MRO pesawat, logistik baik untuk e-commerce maupun mendukung industri di Batam dan regional sekitarnya, dan mendorong pariwisata. Keenam, untuk mendorong arus tamu asing atau wisatawan manca negara (Wisman) yang lebih besar ke Batam, pembenahan/pemeliharaan infrastruktur atau fasilitas objek wisata, di samping secara rutin diadakan kegiatan atau event international, mutlak dilakukan dan bahkan perlu ada pemberian insentif. Untuk tujuan ini, Pemko Batam dan BP Batam harus dapat bersinergi untuk membenahi objek-objek wisata yang sudah ada dan kemudian mengembangkan objek wisata baru. Sedangkan yang terkait dengan insentif, Kemenpar, Pemko Batam dan BP Batam segera memberdayakan program hot deals untuk mendorong kedatangan Wisman pada hari-hari di luar week end ke Batam.

Bila hal-hal di atas dapat dilakukan segera, niscaya pertumbuhan eknomi Batam secara khusus dan Kepri pada umumnya, akan dapat dilesatkan ke angka di atas 5 persen pada tahun 2018 dan terus meningkat di tahun tahun berikutnya. Tentunya, hal yang tidak kalah penting adalah kebersamaan dan kegotongroyongan diantara semua stakeholders, harus menjadi panglima terdepan. Ego sektoral harus dibuang jauh-jauh dan yang ada adalah ketulusan hati untuk membangun kesejahteraan masyarakat Batam dan Kepri yang lebih baik, merata, dan berkeadilan. Semoga. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here