Dompak & Wacopek Dirancang jadi Wisata Kunang-kunang

0
1069

Mendengar banyak cerita bahwa pesisir Dompak dan Wacopek memiliki hutan mangrove yang masih asli, Gubernur Kepri H Nurdin Basirun bertekad akan mengusulkan ke pemerintah pusat supaya wilayah itu dijadikan salah satu destinasi wisata kunang-kunang.

Dompak – Penasaran dengan keindahan hutan mangrove Pulau Dompak yang juga menghubungkan sungai Wacopek, Bintan timur, Bintan, Nurdin bersama rombongan turun langsung ke lokasi itu menggunakan feri Kepri 1, Rabu (1/3) lalu.

Walaupun masih dikenal ekstrem karena dua sungai itu sering dikabarkan muncul buaya, namun orang nomor satu di Kepri tersebut tidak gentar.

Ia justru ingin datang lagi ke lokasi itu menggunakan Skyair. Maklum mantan bupati Karimun dua periode tersebut juga dikenal sangat hobi olahraga yang memacu adrenalin saat masih bupati.

”Banyak buaya di sini pak,” kata Raja Ariza yang saat itu ikut menemani gubernur melihat sungai di sepanjang Dompak hingga Wacopek.

”Tak masalah. Kan masih ada biota lainnya, kunang-kunang,” sanggah Nurdin meyakini para pejabat yang ikut bersamanya waktu itu.

Tidak hanya Raja Ariza, Kadis Pariwisata Kepri Buralimar, Kadishub Kepri Jamhur Ismail, Asisten Perekonomian dan Pembangunan Syamsul Bahrum, Biro Administrasi Pembangunan Aries Fahriandi, serta anggota DPRD Kepri Tawarich turut menemani dirinya di atas kapal.

”Bagus itu. Bukan kah orang barat itu suka yang ekstrem dan alami seperti ini. Nanti kita siapkan tour guide serta jamuan makan. 50 dolar per orang, sudah cocok,” terang Nurdin sambil berbincang singkat di atas feri.

Nurdin bahkan tidak hanya memerintahkan kepala dinas yang ikut bersamanya mendata biota laut yang ada di wilayah hutan mangrove yang ia lewati itu.

Politisi NasDem Kepri itu pun serius meminta selain semua biota yang didata isu banyak bermunculan buaya pun menjadi perhatiannya.

”Nanti kita minta siapkan pawang buaya,” tambahnya sambil berkelakar.

Walaupun takjub dengan keindahan hutan mangrove di kawasan itu yang masih sangat asli, nurdin sempat miris melihat sisi kiri kanan sungai yang dia lalui itu karena banyak hutan bakau yang sengaja dibabat.

Pembabatan hutan bakau ini dulunya dibuat untuk pelabuhan-pelabuhan tikus saat tambang bauksit masih beroperasi.

”Ke depan jangan ada sedikit pun kawasan ini dirusak, habis punah ranah lahannya,” keluh Nurdin sembari berjanji tidak akan mengeluarkan izin tambang beraksi di wilayah Timur Pulau Bintan itu.

Lebih dari satu jam di atas feri Kepri I, Nurdin kemudian meminta kapten kapal untuk berbalik arah. Sebelum meninggalkan kawasan, Nurdin bahkan menanyakan kedalaman sungai itu kepada para kadis dan kapten kapal.

”Ke dalamannya sekitar 4 sampai 5 meter kalau air pasang. Kalau air surut bisa di bawah 4 meter,” terang salah satu awak kapal sambil melihat ke arah GPS feri Kepri 1.

Niat Nurdin ingin membangun kawasan itu sebagai destinasi wisata buaya bukan lah sebuah lelucon. Ia bertekat niatnya itu di teruskan para Organisasi Perangkat Daerah (OPD) pemprov yang mengurus masalah laut dan wisata.

Buralimar, Kadis Pariwisata Kepri menyampaikan, sebelum diusulkan ia ingin membuat rutenya dulu, setelah itu meminta data biota lautnya.

”Tahap awal saya ingin buat rutenya dulu, sesuai data yang saya lihat di google map, jaraknya lebih kurang 8 kilometer,” tukasnya demikian.(SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here