Duh.. Murid TK Dua Kali Dicabuli di Bintan, Pelakunya Tak Ketahuan

0
1315
ilustrasi

BINTAN – Bunga (4), bocah perempuan yang tinggal di Bintan ini diduga dua kali dicabuli saat berangkat sekolah di salah satu Taman Kanak-kanak di wilayah Bintan. Bocah yang merupakan anak satu-satunya dalam keluarga ini, kini mengalami luka di alat kelamin dan juga di anus.

Y (38), ibu kandung Bunga tentu sangat terpukul dengan kejadian yang menimpa anaknya tersebut. Awalnya ia tidak mengira kalau anaknya menjadi korban pencabulan. Namun berdasarkan hasil pemeriksaan dokter, ada luka di kelamin anaknya dan lubang anusnya juga rusak.
Awalnya, Y menceritakan anaknya yang baru pertama masuk sekolah di salah satu Taman Kanak-Kanak (TK) di Bintan pada 15 Juli 2019 silam. Awal masuk sekolah anaknya masih terlihat normal saja.

”Hari kedua sekolah ia mengadu diusilin sama teman sekolahnya. Tapi biasa saja tidak ada yang aneh. Namun, pada hari ke 4 sekolah tepatnya 18 Juli. Seusai pulang sekolah ia mendapati anaknya mengeluh saat buang air kecil. Saat saya dan ibu saya memeriksa, kami menemukan ada lendir di celana dalam anak saya. Saya kemudian bertanya-tanya apa anak saya keputihan?” terangnya, Senin (16/9).
Kemudian, pada Sabtu (20/7), pihak keluarga membawa Bunga ke Tanjungpinang untuk berobat ke salah seorang dokter. Di dokter tersebut menyebutkan ada luka di alat vital Bunga, namun selaput darahnya tidak robek.
”Tapi saat itu saya belum kepikiran ini kena apa. Usai dari dokter juga ini anak murung dan tidak mau sekolah lagi karena takut,” ucapnya.
Setelah dirayu dan dibelikan boneka, lantas pada 23 Juli Bunga kembali masuk sekolah karena keadannya mulai membaik. Kemudian pada 25 Juli sekitar pukul 08.45 WIB, dirinya mendengar suara teriakan anaknya dari sekolah. Y bersama ibunya mendengar jelas jeritan suara anaknya, karena sekolah dan rumahnya berjarak sangat dekat.

”Saya kemudian ke sekolah sembari antar makanan untuk cek anak saya. Namun pihak guru malah bertingkah aneh dan balik mewancarainya saya di ruang guru dengan pertanyaan yang aneh,” jelasnya.

Usai itu, saat Y sudah pulang, pukul 10.00 WIB lewat, anaknya pulang sendirian dari sekolah. Lantas ia curiga. Sesaat pulang sekolah tersebut Bunga kembali mengeluhkan anusnya sakit dan susah buang air besar, bahkan saat buang air kecil juga sakit.

”Saya juga curiga ini anak kenapa, pulang dari sekolah sakit itunya. Beberapa masih sakit lantas pada 6 Agustus saya dan suami memutuskan memeriksakan ke Rumah Sakit Otorita Batam (RSOB), lantas diperiksa oleh dokter spesialis anak. Katanya ada luka di anus anak saya. Kemudian diarahkan ke dokter spesialis bedah dan penyakit dalam. Saat diperiksa anus anak saya. Dokter yang memeriksa juga memperkirakan lukanya akibat dicabuli. Karena dari tanggal keluhan sudah 12 hari, dokter lantas menyuruh saya agar segera lapor ke polisi,” jelasnya.

Usai diperiksa di RSOB, sorenya Bunga mengatakan kepada Y bahwa bunda tenang saja, nanti sakit yang dicucuk om nya pasti sembuh. Mendengar pernyataan itu, Y lantas terkejut dan coba menggali keterangan dari anaknya.

”Malamnya saja bujuk untuk cerita, dia akhirnya bilang kalau ada 2 om om yang mencucuknya. Tapi setelah itu anak saya diam,” ungkapnya. Pada tanggal 7 Agustus pagi, Y kembali mengecek kondisi anaknya di salah seorang dokter di Tanjungpinang. Dokter juga mengatakan ada luka di anus anaknya dan memberikan obat.”Siang tanggal 7 Agustus itu saya buat laporan di Polsek, namun di BAP tanggal 8 dan 9. Tapi ya itu, ada keanehan yang saya rasakan, meski sudah didampingi oleh petugas dari P2, namun seolah keterangan yang saya sampaikan tidak begitu diindahkan. Bahkan surat laporan polisi yang saya minta belum dikasih dengan alasan belum di print,” jelasnya.

Diceritakannya, pada 7 Agustus tersebut, anaknya juga kembali divisum ulang atas laporan polisi. Kemudian saat diperiksa awalnya dokter tidak teliti. Setelah ia menyampaikan keluhan dan keterangan tentang pemeriksaan dokter sebelumnya, baru dokter dari RSUD Bintan memeriksa ulang dan mengatakan jika ada luka di anus anaknya.

”Awalnya dokter bilang tidak ada apa-apa, lantas setelah diperiksa ulang ternyata ada luka,” ucapnya. Langkah selanjutnya, kemudian Y membuat laporan dengan didampingi pengacara. Dan kemudian pada tanggal 27 Agustus ia berkonsultasi dengan Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Kepri dan tanggal 30 Agustus berkoordinasi di Polda Kepri soal kasus anaknya tersebut.

”Sabtu (14/9) kemarin sudah diolah TKP di TK anak saya sekolah itu. Ya saya harap dibuka dengan sejelas-jelasnya dugaan terhadap anak saya ini,” akunya sembari meneteskan air mata.

Sementara itu, Kapolsek Bintan Timur Kompol Mukhlis Nadjar melalui Kanit Reskrim Ipda Moh Fajri Firmansyah yang dikonfirmasi terkait laporan kasus dugaan cabul membenarkan adanya laporan tersebut.

”Masih kami lidik,” jawabnya singkat.
Saat ditanya apakah KPAD masuk dalam laporan tersebut, Fajri membenarkan dan merasa KPAD turut membantu pengungkapan kasus tersebut. Namun sejauh ini belum ada yang ditetapkan sebagai tersangka.

”Laporannya (cabul), karena keterangan saksi sama bukti kami masih dikumpulkan belum bisa disimpulkan” terangnya. (aan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here