Duka Palu, Dosa Kita

0
218
Surya Makmur Nasution

Tentang Gempa Bumi Palu 

Barangkali di Sana ada jawabnya
Mengapa di Tanah Ku Terjadi Bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan
Melihat tingkah kita
Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa
Atau alam mulai enggan
Bersahabat dengan kita
Coba kita bertanya pada
Rumput yang bergoyang
(Berita Kepada Kawan, karya Ebiet G Ade)

Bait-bait lirik lagu, Ebiet G Ade tersebut, sungguh tepat direnungkan untuk menggambarkan dan menyikapi terjadinya gempa bumi di Kota Palu, Sigi dan Donggala dengan magnitudo 7,4 SR.

Betapa tidak, belum lagi kering tangisan, keringat dan darah yang menimpa saudara-saudara kita di Lombok, NTB, akibat gempa bumi, sudah menyusul pula kejadian serupa.

Bahkan, beberapa kejadian bencana alam sebelumnya, juga terjadi, akibat erupsi gunung-gunung. Misalnya, Gunung Merapi, Gunung Agung, Gunung Sinabung, Gunung Api, adalah sederet peristiwa duka bagi bangsa kita.

Secara ilmiah para ahli dan pakar geologi atau BMKG, mampu menjelaskan peristiwa atau fenomena alam seperti gempa yang terjadi di Palu. Bahkan, gempa bumi di Sulteng dan Sulbar ini bukan hanya berdampak tsunami, tapi, terjadi likuifaksi (liquefaction) tanah.

Likuifaksi adalah fenomena peristiwa pasca gempa dimana tanah kehilangan kekuatan (solid) hingga daya tanah tidak memiliki daya ikatnya (liquid), mencair.

Akibatnya, semua bangunan dan apa saja yang ada di atasnya, termasuk ratusan manusia, tenggelam ditelan bumi. Laksana kiamat.

Sayangnya, kita tidak mau muhasabah/introspeksi dan belajar dari fenomena alam seperti gempa bumi, letusan gunung berapi dan lain-lain.

Kita enggan untuk mengatakan bahwa gempa bumi terjadi akibat dari ulah perbuatan kita sendiri. Dosa-dosa perbuatan kita.

Sudah berapa banyak perut bumi yang kita kuras isinya, sudah berapa banyak hutan yang kita rambah, dibakar dan gunduli, dan sudah berapa banyak pula sumber-sumber hayati yang kita rusak.

Bumi dan alam tidak kita rawat dan pelihara. Semuanya atas nama investasi dan bisnis, seolaholah apa saja yang terkandung di dalam perut bumi dibenarkan dieksploitasi tanpa rasa keadilan.

Sayangnya, kesalahan dan kelalaian tersebut tidak pernah kita merasa malu dan mau introspeksi untuk memperbaiki diri. Padahal atas kemahakuasaan Allah Pencipta Alam Semesta, bumi dan alam di sekitar kita telah memberi tempat kita berlindung, berteduh dan bersandar, bahkan sumber kehidupan.

Mungkin, sebagian di antara kita masih banyak yang menganggap seolaholah bumi dan alam ini seakan-akan mati, tidak bernyawa. Padahal atas kehendak-Nya, bumi dan alam semesta ini dengan mudah akan memporak-porandakan apa saja yang telah dibuat manusia.

Patut kita sadar bahwa langit dan bumi, serta gunung-gunung senantiasa terus bertasbih memuji kemahabesaran Allah SWT. Langit dan Bumi dan Gunung-gunung pernah ditawarkan Allah SWT amanah, hanya saja mereka enggan mengemban kepercayaan tersebut karena tidak sanggup.

Sebaliknya, manusialah dengan segala sifat hawa (H besar) yang dimilikinya mengambil tanggungjawab tersebut. (qs al Ahzab 72).

Menurut pendapat saya, jalan satu-satunya yang harus kita lakukan adalah segeralah kita semua bertaubat kepada-Nya atas dosa-dosa yang kita perbuat. Taubat nasional.

Jika tidak, benarlah kata Ebiet G Ade, bahwa kita bangga atas dosa-dosa yang kita perbuat.***

Batam, Rabu, 3 Oktober 2018/23
Muharram 1440H). #2019SMNforDPD32

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here