E-Money di Pelabuhan Antara Kebutuhan dengan Kepentingan

0
290
Sigit Sepriandi

Oleh: Sigit Sepriandi
Peneliti Gurindam Research Centre (GRC), Mahasiswa Magister Ilmu Pemerintahan UMY

Beberapa minggu belakangan ini, pembahasan e-money menjadi perbincangan menarik di Kota Tanjungpinang. Hal ini dikarenakan terhitung sejak tanggal 15 Juli 2018 yang lalu, PT. Pelindo I Cabang Kota Tanjungpinang telah menerapkan aturan penggunaan electronic money (e-money) untuk pembayaran pass masuk ke Pelabuhan Sri Bintan Pura. Bekerja sama dengan beberapa bank, seperti BNI, BRI, BCA dan Bank Mandiri program nasional yang diterapkan di Pelabuhan Sri Bintan Pura tersebut akan menjadi pilot project transaksi nontunai nasional.

Selain menerapkan penggunaan e-money untuk pass pelabuhan, PT. Pelindo juga telah melakukan penyesuaian tarif dengan menaikkan tarif masuk pelabuhan. Untuk terminal domestik yang sebelumnya pas masuk penumpang dan pengantar penjemput Rp5.000 sekali masuk menjadi Rp10.000. Sedangkan untuk terminal internasional WNA Rp60.000 dan WNI Rp40.000. Sebelumnya tarif pelabuhan internasional ini yakni WNA Rp55.000 dan WNI Rp35.000.

Dengan penerapan e-money dan penyesuaian tarif yang telah diberlakukan PT. Pelindo I Cabang Kota Tanjungpinang, tampaknya ada sebuah inovasi yang dilakukan dalam segi penggunaan teknologi (e-money) untuk mempermudah para penumpang maupun pengunjung pelabuhan. Namun disisi lain, kenaikan tarif dan belum tuntasnya pembangunan fasilitas pelabuhan menjadi sebuah tanda tanya besar, untuk apa dan siapa penggunaan e-money tersebut, dan sejauh mana kesiapan masyarakat Tanjungpinang untuk menggunakan e-money pada saat masuk pelabuhan.

Apa itu e-money?
Untuk lebih mudah memahami kondisi dan situasi ini, mungkin sebagian dari kita belum mengetahui apa itu sebenarnya e-money. Menurut penjelasan dari Bank Sentral Republik Indonesia, e-money (uang elektronik) merupakan sebuah alat pembayaran yang diterbitkan atas dasar nilai uang yang disetor terlebih dahulu kepada penerbit. E-money digunakan sebagai alat pembayaran kepada pedagang/pemberi jasa yang bukan merupakan penerbit uang elektronik tersebut. Nilai uang disimpan secara elektronik dalam suatu media server atau chip, serta dapat dipindahkan untuk kepentingan transaksi pembayaran dan/atau transfer dana. Lebih mudahnya, e-money dapat dikatakan sebagai pengalihan bentuk dari uang tunai/cash.

Sebagai alat pembayaran, perolehan dan penggunaan uang elektronik pun cukup mudah. Calon pemegang hanya perlu menyetorkan sejumlah uang kepada penerbit atau melalui agen-agen penerbit dan nilai uang tersebut secara digital disimpan dalam media uang elektronik.

Dilihat dari sisi pemanfaatan teknologi, penggunaan e-money jelas dapat mempermudah transaksi, jadi lebih cepat dan praktis. Sehingga pengguna tak perlu repot melakukan transaksi pembayaran dan menyiapkan uang tunai untuk setiap pembelian/transaksi.

Bahkan Pemerintah juga mendukung penggunaan e-money dengan dibuatnya Peraturan Bank Indonesia No. 18/17/PBI/2016 tanggal 29 Agustus 2016 perihal Perubahan Kedua atas Peraturan Bank Indonesia Nomor 11/12/PBI/2009 tentang Uang Elektronik (Electronic Money). Tujuan dibuatnya regulasi sistem pembayaran ini, salah satunya adalah untuk memberikan keamanan dan kenyamanan bagi masyarakat untuk melakukan transaksi jual-beli agar tidak ada yang merasa dirugikan.

Kebutuhan yang mendesak?
Perkembangan teknologi saat ini memang tidak dapat dibendung. Mengutip perkataan Ursula Franklin, teknologi merupakan cara kita membuat praktis semua di sekitaran ini. Istilah yang digunakan untuk merujuk pada teknologi tinggi atau sekedar elektronik konsumen.

Hal itu sangatlah wajar, perkembangan teknologi memang dapat membuat hidup menjadi lebih mudah dan praktis. Seperti penggunaan e-money untuk pembayaran pass masuk pelabuhan merupakan suatu terobosan baik yang dilakukan. Namun apakah terobosan biak tersebut sudah dibarengi dengan peningkatan kualitas pelayanan bagi penumpang/pengunjung? Apakah sudah ditunjang dengan fasilitas yang baik dari semua hal?

Lantas jika tidak dibarengi dengan itu semua, apakah penerapan e-money harus secepat itu?

Pertanyaan-pertanyaan itu mengemuka dengan sendirinya. Jika memang kebutuhan e-money menjadi kebutuhan yang mendesak demi ringkasnya pelayanan pembayaran pass masuk pelabuhan, maka hal itu harus dikaji kembali. Tidak ada yang salah dengan penerapan e-money. Namun lebih mendesak mana, penerapan e-money atau perbaikan fasilitas pelabuhan?

Kawasan perparkiran yang masih belum tuntas di Pelabuhan Sri Bintan Pura harusnya menjadi fokus dan perhatian terlebih dahulu untuk segera dituntaskan, sebelum menerapkan penggunaan e-money yang terkesan mendesak dan menuntut segera diaplikasikan.

Karena menurut hemat penulis kebutuhan yang mendesak saat ini adalah perbaikan fasilitas pelayanan di kawasan pelabuhan Sri Bintan Pura. Gerbang laut utama masuknya pengunjung ke Kota Tanjungpinang ini harusnya membenahi diri dari sisi penampilan dan pelayanan. Jangan hanya sekedar mendesak penggunaan e-money agar terkesan modernisasi, namun mengesampingkan kualitas pelayanan dan fasilitas yang ada.

Kepentingan (?)
Naiknya tarif pass masuk pelabuhan dan penggunaan e-money yang terkesan mendesak menimbulkan sejumlah pertanyaan. Untuk siapakah itu semua? Apa benar-benar untuk meningkatkan kualitas pelayanan dan fasilitas pelabuhan, atau hanya untuk segelintir penguasa pelabuhan?

Apakah sudah sesuai, kenaikan tarif dengan pelayanan dan fasilitas pelabuhan saat ini?
Pertanyaan-pertanyaan nakal itu mengemuka seolah dengan sendirinya. Hal ini pula yang kemudian menimbulkan pro dan kontra tersendiri di kalangan masyarakat Tanjungpinang.

PT. Pelindo sebagai otoritas yang memiiki kewenangan penuh atas pelabuhan Sri Bintan Pura harusnya lebih sigap dalam mengantisipasi segala bentuk isu-isu negatif tersebut. Minimnya sosialisasi yang dilakukan terkesan seolah membiarkan dengan sendirinya masyarakat bertanya-tanya untuk apa penggunaan e-money tersebut. Lantas semakin resah dengan pertanyaan, apakah e-money menjadi ladang bisnis baru bagi Pelindo?

Pentingnya sosialisasi
Minimnya sosialisasi yang dilakukan PT. Pelindo kepada seluruh masyarakat tanjungpinang, menimbulkan berbagai pertanyaan dan kebingunan dibenak masyarakat tanjungpinang.

Sebelum benar-benar menerapkan e-money harusnya dilakukan sosialisasi yang menyeluruh dan mendalam. Bukan hanya sekedar sosialisasi akan adanya penerapan e-money, namun juga perlu sosialisasi mengenai apa itu e-money, bagaimana cara menggunakannya, dimana bisa mendapatkan e-money, dan dimana saja mereka dapat melakukan top up.

Jangan hanya mengandalkan pembagian gratis 2.000 keping e-money yang kemudian dirasa sudah cukup sebagai sosialisasi. Lebih dari itu, pemahaman penggunaan e-money bagi masyarakat tanjungpinang jauh lebih penting. Agar penerapan kemajuan teknologi dapat dibarengi dengan kemajuan sikap dan pengetahuan masyarakatnya juga. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here