Efisiensi Energi Bantu Industri-Pariwisata Batam

0
364
Seorang petugas PGN mengecek distribusi gaslink yang terpasang di Harris Resort, Sekupang. F-Martua/Tanjungpinang POS

Konsumsi Gas Bumi Batam Lampaui Target

Kekuatan ekonomi Batam, Provinsi Kepri saat ini, ada di industri dan pariwisata. Dibalik eksistensi dan daya saing dunia pariwisata dan industri, kini mulai dirasakan dukungan gas bumi yang disalurkan PGN. Memberikan efisiensi biaya dan beberapa alternatif distribusi, mulai gaslink, jargas dan lainnya. Memberikan kemudahan dalam pemenuhan kebutuhan diberbagai sektor penggerak ekonomi Batam.

MARTUA P BUTARBUTAR, Batam

Perekonomian Provinsi Kepri, tumbuh diangka 4,62 persen di triwulan II tahun 2019, setelah anjlok dari 7,21 persen di tahun 2013 menjadi 2,01 persen di 2016 lalu. Industri dan pariwisata memberikan sumbangsih terbesar di Provinsi Kepri, lewat Batam. Energi gas bumi menjadi supporting daya tahan industri dan parwisata. Hingga kemudian, konsumsi gas bumi untuk retail, berada diatas target yang dicanangkan PGN, atau 107 persen, hingga awal Oktober 2019, melalui jaringan gas (Jargas) dan gaslink.

Angka itu belum termaksud gas bumi yang disalurkan untuk pembangkit listrik Bright PLN Batam. Dimana, pelanggan PGN di Batam untuk retail, mencakup industri, komersil (hotel dan restoran), rumah tangga hingga pelanggan kecil (dibawah 1000 meter kubik seperti rumah makan kecil).

“Konsumsi gas bumi di Batam, baik retail dan pembangkit listrik Bright PLN Batam, sekarang sudah mencapai rata-rata 70 BBTUD per bulan. Sementara target , 65 BBTUD,” kata Sales Area Head PGN Batam, Wendi Puryanto, Kamis (10/10) di Batam.

Diakui, dari target jumlah pelanggan di Batam untuk tahun 2019, belum tercapai. Dimana, sambungan untuk retail,  totalnya 4.776 dari target 4.951 pelanggan. Demikian, volume penjualan dan keuangan PGN Batam, sudah diatas target. Pertumbuhan volume penggunaan, 9 persen pertumbuhan penggunaan dibanding tahun 2018. 

“Konsumsi pelanggan komersil meningkat signifikan. Jumlah pelanggan, sampai Oktober 2019, belum tercapai, tapi target volume penjualan sudah diatas. Sehingga pelanggan eksisting,” bebernya.

Perkembangan distribusi gas bumi ini semakin terasa bagi PGN Batam, karena program jargas untuk rumah tangga tidak ada tahun 2019 ini. Sehingga penguatan dilakukan pada pembangunan distribusi gas untuk komersil, industri, hingga, UMKM. Baik melalui jaringan gas (jargas) dan Gaslink dengan CNG. Sehingga berdampak pada penguatan daya saing sektor industri dan pariwisata di Batam. 

“Industri yang kita support, ada di Kawasan Industri Batamindo, kawasan industri Panbil, kawasan industri Tunas dan kawasan industri lain yang tersebar di Batam. Ada juga perusahaan di kawasan indutri, tapi kawasannya belum kita suplay,” sambung Wendi.

Tidak ketinggalan, hotel dan restoran-restoran di Batam, kini banyak beralih ke gas bumi. Sebagian besar sektor komersil itu menggunakan CNG. ” Dari pelanggan rumah tangga, tidak besar pertumbuhan. Tapi meningkat signifikan dari pengguna komersil,” tegasnya.

Sementara diluar kategori retail, gas bumi juga didistribusikan untuk mendukung pembangkit listrik Bright PLN Batam. Dimana, ada empat gardu pembangkit tenaga gas. Masing-masing, PLTG di Tanjung Uncang, Panaran I, Panaran II dan PLTG di Kabil.

“PGN menyuplay 40 BBTUD, khusus untuk pembangkit PLN,” bebernya.

Khusus retail, yang mencakup restoran dan hotel, pelanggan PGN saat ini diantaranya, Grand I Hotel, Nagoya Mansion, Hotel Pasific dan lainnya. Restoran-restoran di daerah Jembatan Barelang, kini menggunakan gas bumi lewat program gaslink. Konsumsi gas untuk kategori retail di Batam, sudah 19 BBTUD. 

Bahkan, semua hotel/resort dan restoran yang tergabung dalam Harris Group, sudah menggunakan gas bumi. Diantaranya, Harris Resort Sekupang, Batam, Harris Hotel di Batam Centre dan Harris Resort di Jembatan I Barelang. Peralihan konsumsi dari LPG ke gas bumi tidak lepas dari harga yang jauh lebih murah. Sehingga pemanfaatan gaslink berbentuk CNG, menghemat 20 sampai 40 persen.

“Jumlah gas bumi yang mereka komsumsi, sama dengan LPG sebelumnya. Tapi karena harga gas bumi jauh lebih murah, maka mereka hemat banyak. Mereka bisa hemat Rp5ribu per meter kubik,” bebernya.

Namun penghematan yang lebih besar dinilai dirasakan Best Western Panbil (BWP) di Mukakuning, Batam. Dimana, hotel ini kini menggunakan gas bumi, tidak hanya untuk restoran, namun untuk laundri juga. 

“BWP ini menggunakan sekitar 15 ribu meter kubik,” beber Wendi.

Tidak hanya restoran, namun rumah makan di Batam, juga sudah banyak yang menggunakan gas bumi. Termaksud rumah makan di Rumah Sakit Elisabet dan RS Budi Kemuliaan, Batam. Demikian dengan sektor UMKM. Kedepan, PGN berharap pemerintah akan membangun sentra ekonomi mikro untuk masyarakat. Misalnya, pengrajin keripik atau pengrajin batik khas Batam.

“Kita siap support, kalau ada sentra ekonomi mikro, yang membutuhkan gas,” harap dia.

Tidak hanya siap untuk mendukung melalui energi yang disalurkan berupa CNG, namun juga dengan jargas. “Kalau ada sentra UMKM baru, kita bisa bangun instalasi atau lewat CNG. Kita bantu dukung peningkatan pendapatan UMKM. Tapi kita tidak bisa lakukan sendiri. Harus ada dulu dari pemerintah, mau buat sentra UMKM, baru kita masuk,” sambung Wendi.

Di Batam diakui ada tepatnya di Kecamatan Batuaji, atau tepatnya di Bambu Kuning, mereka mendukung sentra UMKM dengan jargas. Namun baru itu sentra UMKM yang mereka support, karena terkonsentrasi disatu tempat.

“Kalau UMKM di satu daerah tidak terkonsentrasi, kita kesulitan mendukung lewat Jargas. Kita harapkan, ada 40 sampai 50 UMKM satu sentral,” terangnya.

Petugas PGN memantau kegiatan produksi Valve untuk, menggunakan gas bumi di PT Tomoe Valve Batam. F-Martua/Tanjungpinang POS

Tingkatkan Daya Saing Produk Batam

Pernyataan Wendi terkait konsumsi gas bumi jauh lebih hemat, dibenarkan Asisten Manager PT Tomoe Valve Batam, Herguntata Agus. Perusahaan yang membuat valve ini, kini sudah menggunakan gas bumi, dalam melebur batangan timah dan mengeringkan katup. Perusahaan asal Jepang yang beroperasi di Latrade Industrial Park, itu mengekspor hasil produksinya. 

Selain ke negara asal investornya di Jepang, juga ke Taiwan, Singapura, Philippina, Thailand, Cina dan Amerika Serikat. Sementara untuk pasar Indonesia, produknya hanya sekitar 10 persen. Manajemen perusahaan ini menandatangani kerjasama dengan PGN, untuk pasokan gas bumi sebesar 350 sampai 1.750 MMBtu per bulan. 

“Kami tidak sibuk lagi cari gas, karena gas tabung 50 kilogram langka. Biaya juga kami hemat. Biasanya habis 250 tabung gas per bulan atau seharga Rp290 juta. Dengan gas bumi, biaya kami hanya sekitar Rp100 juta lebih, per bulan. Benefitnya, ada kepastian harga dan pasokan,” beber Agus.

Pengalaman yang sama dialami General Manager Shared Service‎ Harris Resort Sekupang, M Mufrani saat ditemui Tanjungpinang Pos mengatakan, mereka bisa menghemat sekitar 20 persen, dengan gas bumi. Jika Valve menggunakan jargas, Harris Resort menikmati gas bumi melalui gaslink, dengan teknologi gas transportation module (GTM).

Biasanya, konsumsi gas mereka dengan menggunakan elpiji, biaya sekitar Rp12 juta sampai Rp15 juta. Gas mereka gunakan untuk memasak di restoran. “Sekarang, kami efisiensi 20 persen. Biasanya beli elpiji, untuk kicken, Rp12 sampai15 juta juta perbulan. Sekarang hemat 20 persen,” kata Mufrani.

Gas bumi kini menemani Harris Resort, untuk menjamu tamu mereka yang setiap hari sekitar 100 sampai 400 orang. Selain hemat, gaslink dinilai lebih aman, karena mereka tempatkan diluar gedung. Kemudian disambungkan dengan pipa ke restoran.

“Kebutuhan kami di restoran, tinggi. Kini kami lebih hemat dan lebih aman,” bebernya.

Data dari Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, industri pengolahan di Batam, mengalami pertumbuhan kinerja pada triwulan II 2019. Menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Kepri dengan pertumbuhan 7,71 persen. Tumbuh lebih tinggi dibanding triwulan I 2019, yang tumbuh 5,33 persen. PT Tomoe Valve sendiri, merupakan salah satu industri pengolahan dengan orientasi ekspor.

Dukungan PGN melalui gas bumi di Batam juga diharapkan Badan Pengusahaan (BP) Batam juga, dapat mendukung daya saing produk di pasar ekspor industri. Dimana, ekspor produk industri menjadi pilar ekonomi Batam dengan sumbangan 77,4 persen dari total ekspor Batam Agustus 2019 sebesar 864,35 juta dolar AS. Dimana ekspor itu 44,09 persen atau 381,08 juta dolar AS ke Singapura, 10,07 ke Amerika Serikat atau 87,02 juta dolar AS, dan 8,12 persen ke Tiongkok atau 70,19 juta dolar AS.

Batam sendiri berkontribusi ekspor Kepri sangat signifikan. dimana Batam menyumbang 65 persen dibidang med high tech, yang merupakan produk elektronik, kapal, pipa besi/baja dan lain. dimana Valve masuk dalam bagian komponen pipa besi/baja.

“Dua sektor ini, industri dan pariwisata sebagai penyumbang terbesar perekonomian Batam,” ujar Direktur Humas dan Promosi BP Batam, Dendi.

Sementara Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata, meningkatkan gairah restoran dan hotel di Batam, dalam meningkatkan pelayanan. Tidak hanya dari segi harga, namun efisiensi pemenuhan kebutuhan hotel dan restoran atas energi gas.

“Ketika restoran mendapat gas bumi yang efektif dan efisien, mereka seperti mendapat tambahan energi dalam memberikan pelayanan terbaik bagi wisatawan” kata Ardi.

Dukungan gas bumi yang murah dan mudah diperoleh, membantu restoran dan hotel meningkatkan kualitas pelayanan. Sehingga, memberikan nilai tambah bagi hotel dan restoran di Batam. Sehingga optimisme Batam dalam meningkatkan jumlah kunjungan wisman lebih baik lagi. Dimana, rata-rata lama menginap di hotel dengan semua kategori 2,23 hari.

“Restoran mengalami peningkatan pelanggan, jika lama tinggal wisatawan meningkat. Dampaknya dirasakan dunia usaha pariwisata. Demikian dengan dampak dukungan gas bumi, bagi efisiensi energi usaha kepariwisataan,” imbuh Ardi mengakhiri.

Pelanggan Pendukung Pariwisata

Terkait pelanggan yang mensupport pertumbuhan pariwisata Batam, diungkapkan Humas PGN Batam, Riza ada eperti hotel, restoran, hingga laundry. Bidang usaha ini mendapat support dari PGN melalui gas bumi lewat jargas dan gaslink.

Pelanggan PGN di Batam itu, diantaranya untuk hotel ada Hotel Harmoni One, Hotel Harris, Pasific Palace Hotel, Da Vienna Boutique Hotel, Top Baker Indonesia, I Hotel Baloi, Grands I Hotel, Best Westren Premier Panbil, Swissbell Hotel dan Planet Holiday Hotel.

Selain itu ada Nagoya Mansion (hotel dan apartemen), Harmoni Hotel, Mercure Hotel, The Hills Hotel dan Biz Hotel. Ada juga tempat perbelanjaan Lotte Shopping Indonesia dan Eitu Square. Sementara untuk laundry yang mendukung usaha dibidang keparawisataan diantaranya ada JJ Brother Laundry, Airis Laundry dan Go Clean Laundry.

Bidang usaha lainnya yang mendukung pariwisata yang menggunakan gas bumi, ada Restoran Sanur, Ikan Bakar Cianjur, KFC Panbil, KFC Nagoya, Waroeng Lamongan Cak Rochman, Wey Wey Life Seafood, Harbour Bay Seafood, Nippon Indosari Corpindo, Morning Bakery Industri Point, Morning Bakery Green Land, Bay City 88 Seafood, Holland Bakery, RM Bundo Kanduang, RM Salero Basamo, RM Sunda Bu Joko, Najah Alkhair Food and Beverages, RM Mie Tarempa, MC Donalds Nagoya dan lainnya.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here