Ekonomi Buruk, Janda Bertambah

0
259
Ifdal Tanjung

2018, Sebanyak 2.218 KK Cerai di Batam

Tahun 2018, sebanyak 2.218 putusan cerai di Pengadilan Agama (PA) Kota Batam. Sebagian diantara mereka adalah ibu-ibu muda. Banyak penyebab angka perceraian tinggi, salah satunya dampak terpuruknya ekonomi.

BATAM – Kaum istri banyak tidak tahan melihat suaminya menganggur cukup lama. Bukannya menghasilkan uang, malah menghabiskan uang. Tidak tahan terus-terusan begitu, akhirnya daftar gugat cerai.

Tren cerai ini masih berdampak hingga tahun 2019 ini. Ekonomi belum membaik. Para suami masih banyak yang menganggur. Cerai menjadi pilihan terakhir kaum istri.

Baru awal tahun 2019, sejak Januari sampai Maret ini, sudah 300 perkara gugatan cerai yang masuk di Pengadilan Agama (PA) Batam.

Diperkirakan, gugatan cerai akan meningkat karena tren di Batam, tiap tahun ada peningkatan gugatan cerai.

Humas Pengadilan Agama Kota Batam, Ifdal Tanjung mengatakan, secara umum sudah ada 750 perkara masuk di PA Batam. Namun dari jumlah itu, 300 perkara itu, sebagai perkara gugatan cerai.

”Angka ini setiap tahunnya mengalami peningkatan. Sekarang saja sudah 300 perkara,” kata Ifdal.

Menurutnya, kondisi di Batam yang cenderung bebas dibanding daerah lain, menjadi salah satu alasan, tingkat perceraian cukup tinggi.

”Karena di Batam bebas massa yang bergerak keluar masuk Batam. Sehingga memudahkan terjalinnya hubungan yang mengarah ke jalinan asmara dan merusak hubungan rumah tangga yang sudah terjalin,” sambungnya.

Selama ini, banyak alasan di balik perceraian itu dan didominasi oleh kondisi perekonomian yang tidak kunjung membaik. ”Mana bisa terus bertahan dengan kebutuhan yang semakin besar, akhirnya wanita-wanita muda ini memilih untuk bercerai,” katanya.

Kata dia, kasus yang berkaitan dengan hubungan asmara, termasuk jumlah kasus yang melibatkan muda-mudi di luar batas. Selalu ada tantangan tersendiri buat stakeholder terkait.

”Banyak persoalan di perkawinan. Termasuk dilema kalau sudah kejadiannya soal hamil luar nikah ini, walau tidak banyak,” cetusnya.

Diharapkan, keterlibatan banyak pihak untuk bisa mendorong penurunan angka perceraian. Mulai dari Kementerian Agama (Kemenag), tokoh agama, termasuk Pemko Batam. PA sendiri disebutkan, hanya menjadi fasilitator.

”Masyarakat penting memperhatikan masalah moral, jangan lebih mementingkan ekonomi,” imbau dia. Sementara untuk tahun 2018, PA mencatat putusan cerai sebanyak 2.218. Angka ini menjadikan Batam dengan angka perceraian tertinggi dibandingkan enam kabupaten kota lainnya di Kepri.

Kasus perceraian ini meningkat 15 persen dibanding tahun 2017 lalu. Angka perceraian terjadi paling tinggi, karena perselingkuhan, kemudian kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).(MARTUA BUTAR BUTAR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here