Ekonomi Kepri Anjlok

0
703
Nagoya: Pusat perbelanjaan di Nagoya Batam yang selalu ramai di akhir pekan, kini mulai sepi karena kondisi ekonomi yang sedang tidak stabil belakangan ini. f-dokumen/tanjungpinang pos

BATAM – Bank Indonesia (BI) Kepri merilis bahwa kini perekonomian Kepri sedang anjlok. Pertumbuhan ekonomi Kepri pada triwulan I di tahun 2017, hanya tumbuh 2,02 persen (yoy).

Ini jauh lebih rendah dibanding sebelumnya yang tumbuh 5,24 persen. Pelambatan pertumbuhan ekonomi Kepri terjadi karena penurunan net ekspor dan konsumsi pemerintah. Pelambatan ekonomi Kepri itu diungkapkan Kepala Perwakilan BI Kepri, Gusti Raizal Eka Putra, Rabu (10/5) di Batam.

”Dari sisi penawaran, perlambatan terjadi lebih karena kinerja industri dan pertambangan turun. Ekspor domestik menurun signifikan,” ungkap Gusti.

Diakui, untuk Sumatera, Kepri mengalami pelambatan terendah. Ini pertama kali dalam beberapa tahun belakangan ini pelambatan terendah dialami Kepri.

”Kepri tidak pernah paling bawah dalam beberapa tahun ini. Terakhir perlambatan signifikan terjadi triwulan I tahun 2009, hanya tumbuh 0,6 persen,” jelas Gusti.

Diperkirakan berupa produk kapal dan elektronik mengalami penurunan signifikan. Sedangkan realisasi belanja pemerintah lebih lebih rendah dibanding triwulan I tahun 2016. Sebagian besar proyek masih pada tahap pengadaan.

”Net ekspor mencatatkan kontraksi 6,92 persen (yoy) terutama bersumber dari dari penurunan ekspor antar wilayah di dalam negeri,” kata Gusti.

Terkait belanja pemeritah, disebutkann mengalami kontraksi 5,26 persen (yoy) dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 0,29 persen (yoy). Hal itu karena tertundanya proses pengesahan APBD.

”Sehingga mempengaruhi realisasi belanja yang saat ini hanya tumbuh 8,8 persen. Tapi, membaiknya perekonomian dunia menopang kinerja ekspor luar negeri ke depan,” harap Gusti.

Diakui Gusti, realisasi belanja pemerintah baru terealisasi 8,8 persen. Lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu. Dimana, tahun lalu, realisasi triwulan I sebesar 12 persen.

Sementara pertumbuhan ekonomi dunia terus membaik, berangkat dari ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok. Demikian dengan Eropa yang juga membaik, ditopang perbaikan konsumsi dan membaiknya ekspor ditopang oleh naiknya permintaan global dan mata uang EURO yang mengalami depresiasi terhadap dollar AS.

”Walau Indonesia mengalami pertumbuhan, namun Pulau Sumatera mengalami perlambatan ekonomi. Itu karena pelambatan ekonomi di Sumut, Kepri, Sumbar dan Aceh,” beber Gusti.

Untuk Kepri, penawaran untuk industri perkapalan, besi baja dan pendukung migas mengalami penurunan. Hal itu karena belum mendapatkan proyek-proyek baru. Permintaan domestik juga melemah, tercermin dari penurunan ekspor domestik. Pertambangan tren penurunan lifting migas.

”Itu karena sumur-sumur yang semakin tua. Investasi sektor migas juga terbatas karena minyak belum membaik signifikan. Lifting minyak dan gas menurun 16,72 persen (yoy) dan 40,55 persen (yoy),” ujar Gusti.

Selain itu, penjualan kendaraan bermotor mengalami penurunan. Sementara untuk retail, mengalami penurunan sekitar 15-20 persen (yoy).

”Tapi untuk konstruksi menguat. Itu karena ada proyek multiyears, seperti flyover Batam, Waduk Sei Gong, Pelabuhan Punggur, Sekupang dan lainnya,” imbuhnya.(MARTUA)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here