Ekonomi Kepri Darurat

0
1137
AKTIVITAS MENURUN: Alat berat saat mengangkat peti kemas untuk diletakkan di atas truk di Pelabuhan Batuampar Batam, belum lama ini. Kini, aktivitas di pelabuhan ini menurun akibat ekonomi Batam yang lesu. f-martunas/tanjungpinang pos

Pertumbuhan Triwulan II Terjun Bebas ke 1,52 Persen

Ekonomi Kepri mengalami masa darurat. Pertumbuhan ekonomi Kepri berada di jurang terdalam sejak provinsi ini dibentuk 15 tahun silam. Belum pernah sejarahnya pertumbuhan ekonomi Kepri berada di level 2 hingga di bawah 2 persen.

TANJUNGPINANG – NAMUN, di Triwulan II tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Kepri justru kian terjun bebas di level 1,52 persen. Di Triwulan I tahun 2017, pertumbuhan ekonomi Kepri hanya 2,02 persen. Serapan APBD yang diharapkan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kepri di Triwulan II ternyata tidak berpengaruh apa-apa. Bahkan, rendahnya inflasi juga tidak mengangkat pertumbuhan ekonomi Kepri.

Sejak tahun 2012, pertumbuhan ekonomi Kepri selalu dielu-elukan. Kepri selalu dijadikan contoh. Bahkan, Kepri ditetapkan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional.Kalau itu, mantan Presiden SBY sempat meminta agar almarhum HM Sani yang kala itu menjabat Gubernur Kepri untuk menjadikan pertumbuhan ekonomi Kepri hingga 2 digital (10 persen ke atas). Jika dulu Kepri menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi Nasional, kini Kepri menjadi beban. Ibarat roda pedati, posisi Kepri saat ini berada di bawah.

Data yang dimiliki Tanjungpinang Pos, pertumbuhan ekonomi Kepri tahun 2012 sekitar 8,2 persen dan meraih puncak tertinggi. Tahun 2013 turun menjadi 6,13 persen. Saat itu, pertumbuhan ekonomi Nasional 5,78 persen. Tahun 2014, pertumbuhan ekonomi Kepri naik lagi menjadi 6,62 persen. Tahun 2015, pertumbuhan ekonomi Kepri menjadi 6,02 persen dan pertumbuhan ekonomi Nasional 4,9 persen. Tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Kepri 5,4 persen dan pertumbuhan ekonomi Nasional 5,18 persen. Tapi, mulai tahun 2017 ini, pertumbuhan ekonomi Kepri jauh di bawah pertumbuhan ekonomi nasional yang mencapai 5,01 persen.

Kini, Kepri bukan lagi daerah primadona bagi perantau. Bahkan, 1.000-2.000 orang warga Batam meninggalkan kota itu setiap bulan. Banyak yang pulang kampung dan pindah kota perantauan. Sudah tak ada lagi harapan hidup di Batam bagi sebagian masyarakat hingga memilih meninggalkan kota industri itu. Padahal, banyak juga diantara yang pulang kampung itu sudah hidup puluhan tahun di Batam. Banyaknya industri yang tutup di Batam membuat warga eksodus ke kota lain. Rumah-rumah di Batam banyak yang tidak bisa dibayar hingga tidak bisa dihindari lagi cap BTN. Bahkan, banyak rumah yang dijual murah namun tidak laku. Orang yang masih punya uang takut membeli lantaran harus berpikir apakah dirinya masih bisa tetap bekerja atau tidak.

Dengan kondisi ekonomi Batam yang sangat terpuruk saat ini, tak ada lagi jaminan apakah bertahan bekerja atau tidak-tiba perusahaan akan tutup. Terkait rendahnya pertumbuhan ekonomi Kepri di Triwulan II tahun 2017 ini, Sekdaprov Kepri TS Arif Fadillah mengatakan, salah satu penyebabnya adalah ekonomi dunia yang saat ini sedang krisis. Namun ia yakin, Kepri bisa bangkit dari keterpurukan itu. Sebab, sejumlah daerah di Kepri akan dijadikan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK). ”KEK ini harapan baru bagi Kepri. Ini obatnya dan kita yakin bisa memulihkan ekonomi kita nanti,” katanya singkat saat ditemui di Kantor DPRD Kepri di Dompak, Senin (7/8).

Di Kepri, pemerintah pusat sudah memberi kemudahan terutama dengan ditetapkannya Batam, Bintan, Karimun (BBK) dan Tanjungpinang sebagai Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas atau Free Trade Zone (FTZ). Hanya saja, meski sudah ada FTZ, namun ekonomi Kepri tetap bisa terpuruk hingga 1,6 persen. Lalu, bagaimana KEK bisa mengangkat pertumbuhan ekonomi Kepri lantaran sampai saat ini belum ada yang ditetapkan.

Batam Bukan Kota Investasi Lagi
Menanggapi terpuruknya pertumbuhan ekonomi Kepri 2017 ini, anggota Komisi II DPRD Kepri yang membidangi perekonomian, Rudi Chua mengatakan, sebenarnya ini sudah lama diprediksi banyak kalangan. Namun, pemerintah masih tetap optimis Batam menjadi salah satu tujuan investasi di Kepri. ”Sudah lama diamati ini bahwa suatu saat Batam akan terduduk. Inilah kenyataannya,” ujar Rudi Chua, kemarin.

Selama ini, Batam merupakan penopang terbesar ekonomi Kepri. Apabila ekonomi Batam anjlok, akan berimbas ke daerah lainnya di Kepri. Batam sendiri bukan lagi kawasan investasi yang menarik bagi para pengusaha. Sebab, ada peralihan tempat usaha bagi investor dengan melirik daerah yang konsumtif. Pulau Jawa merupakan kawasan padat pemukiman penduduk. Sehingga, banyak investor yang buka usaha di sana. Salah satunya di Kendal, Jawa Tengah.

Batam sendiri didesain sebagai kawasan industri dengan hasil produksi untuk ekspor. Sedangkan pengusaha dunia, justru melirik Indonesia sebagai pasar besar. ”Kan tak mungkin pengusaha bikin pabrik di Batam kalau barang mereka untuk ekspor. Pangsa pasarnya Indonesia, tapi harus ekspor. Bagus mereka bikin di Jawa dan marketnya langsung di sana,” jelasnya.

Karena itu, pemerintah harus bijak melihat perubahan ini. Batam, kini bukan tempat yang menarik lagi bagi sebagian investor. Dijelaskannya, ekonomi Kepri itu ditopang dua hal yakni investasi dan konsumsi masyarakat. Namun, sejak tiga tahun belakangan ini daya beli masyarakat Kepri menurun. Sehingga banyak usaha yang lesu dan bahkan tutup. Masyarakat tak mampu lagi belanja banyak-banyak seperti selama ini. Masyarakat lebih menahan diri untuk belanja.

Dengan demikian, banyak usaha dagang yang kesulitan karena dagangannya tak laku. Peredaran uang pun makin sedikit. Makin rendah daya beli masyarakat, berbanding lurus dengan harga barang yang makin murah. Jadi, bukan berarti inflasi yang rendah di Kepri karena pemerintah berhasil menjaga harga. ”Kalau permintaan masyarakat tinggi, harga barang akan naik sendirinya. Kenyataan saat ini, kalau kita tanya masyarakat, mereka mengaku belanja sehemat-hematnya. Orang jualan pun malah turunkan harga, yang penting laku. Kalau harga naik, malah tak laku,” bebernya.

Ini juga yang dibaca terbalik oleh pemerintah. Salah satu cara yang bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Kepri adalah mempercepat realisasi belanja pemerintah. ”Kalau swasta saya rasa sudah habis-habisan. Tinggal belanja pemerintah yang kita harap bisa meningkatkan pertumbuhan ekonomi Triwulan III nanti,” harapnya. Karena itu, ia menyarankan segera kerjakan proyek-proyek yang ada. Kerjakan kegiatan rutin. Sehingga peredaran uang di masyarakat bertambah.(MARTUNAS-SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here