Ekonomi Kepri Pincang

0
878
Presiden RI Jokowi Dodo bersama Menteri dan Gubernur Kepri H Nurdin Basirun F-HUMAS PEMPROV KEPRI

Presiden Desak  Segera Dibahas

Presiden RI Joko Widodo mendesak Gubernur Kepri H Nurdin Basirun untuk segera membahas kondisi ekonomi yang terpuruk. Bahkan, ekonomi Kepri, kini pincang.

TANJUNGPINANG – PRESIDEN tak ingin ekonomi Kepri berlarut-larut terpuruk seperti sekarang ini. Apalagi, Kepri merupakan salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Karena itu, saat Gubernur mengadu ke Presiden soal kondisi ekonomi Kepri yang paling anjlok sejak provinsi ini berdiri, Presiden langsung menanggapinya dengan mengundangnya ke Istana Negara.

”Segera. Saya diminta pak presiden untuk segera menemuinya. Beliau ingin kondisi ini secepatnya dibahas. Makanya, saya akan kirimkan surat resminya,” ujarnya menjawab pertanyaan wartawan koran ini, kemarin.

Nurdin yakin, setelah pertemuan dengan Presiden nanti, akan ada solusi untuk menanganinya. Apalagi, Jokowi orangnya cepat mencari solusinya.
Saat bertemu dengan Presiden di Natuna pekan lalu, Gubernur menjelaskan kondisi ekonomi Kepri yang terjun bebas. Saat itu, Jokowi sempat menanyakan apa penyebabnya.

”Saya bilang ada sejumlah investor yang pindah. Ada perusahaan yang tutup karena tak dapat orderan. Mendengar itu, Presiden langsung mengundang saya secepatnya ke Istana,” tambahnya.

Diakui Nurdin, saat ini posisi ekonomi Kepri sudah pincang. Ibarat orang berdiri dengan satu Jika ada yang menendang, langsung jatuh atau roboh.

Posisi ini memang cukup parah dan harus cepat ada solusinya. Jika tidak, Kepri bisa jatuh. Dirinya juga sudah meminta bawahannya untuk mencatat semua apa penyebab ekonomi Kepri terjun bebas.

Data-data ini akan dipelajari termasuk akan dibawa saat rapat dengan Presiden nanti. Ditanya apakah perlu dibentuk Tim Khusus Penanganan Terpuruknya Ekonomi Kepri, Nurdin Basirun mengatakan, hal itu tidak perlu dilakukan mengingat pemda sudah menginventarisir persoalannya.

Menurutnya, membentu tim seperti itu akan memperpanjang birokrasi. Sementara saat ini, birokrasi yang panjang masih menjadi keluhan para investor maupun calon investor. Ditanya apakah perlu berhubungan lebih dekat dengan Singapura mengingat di sana banyak calon investor yang mau masuk ke Kepri, Nurdin mengatakan, perlu pembenahan di dalam dulu.

Karena menurut teori dia, tidak perlu terlalu menggebu-gebu untuk promosi di luar. Yang penting, benahi di dalam. Pangkas birokrasi perizinan, beri kemudahan untuk investor serta siapkan infrastruktur.

”Kalau ini sudah kita benahi, mereka akan datang sendiri. Itu teori saya. Makanya, kita benahi dulu ini,” tegasnya.

Ke depan, perlu dipikirkan bagaimana agar Kepri bisa berdiri di atas dua kaki. Sehingga ekonomi Kepri tidak hanya tergantung dengan Batam yang mulai disebut-sebut bakal jadi kota mati. Gubernur melihat, pembangunan, industri dan perdagangan ke depan harus dikembangkan ke daerah lain di Kepri yang sama-sama memiliki keunggulan.

Karimun misalnya punya keunggulan juga bidang industri. Demikian dengan Bintan bisa dijadikan daerah industri dan pariwisata. Lingga diperkuat dengan daerah pertanian.

”Seluruh kabupaten/kota di Kepri ini punya keunggulan masing-masing. Pemerataan pembangunan ini ke depan perlu kita lakukan. Sehingga sama-sama berkembang. Kalau ada satu yang jatuh, masih ada yang bisa menahan,” katanya mengibaratkan seperti berdiri di atas dua kaki.

”Kalau saat ini, kita hanya berdiri di satu kaki. Ditambah kondisi seperti ini, Kepri makin pincang,” bebernya.

Diperkirakan, perputaran uang di Kepri sekitar 60 persennya berada di Batam. Sehingga, ketika ekonomi Batam anjlok, berdampak pada semua ekonomi di Kepri.

Tahun 2009 lalu, ekonomi Batam juga guncang akibat krisis ekonomi dunia. Namun saat itu, sejumlah negara maju cepat memulihkan ekonominya. Sehingga, Batam bisa bangkit kembali.

Tahun 2013, 2014 dan 2015 pertengahan, ekonomi Kepri sempat jaya dengan pertumbuhan ekonomi 7,6 persen. Saat itu, mantan Presiden RI SBY meminta almarhum HM Sani untuk menjadikan ekonomi Kepri naik hingga dua digit (10 persen).

Namun, puncak ekonomi Kepri hanya bertengger di atas itu saja dan kembali anjlok tahun 2015 akhir saat defisit dan ekonomi dunia mulai guncang. Hingga tahun ini, ekonomi dunia belum pulih dan Batam paling cepat kena imbasnya.

Sesuai data Bank Indonesia belum lama ini, tahun 2015 jumlah pekerja galangan kapal di Batam sekitar 250 ribu dan tahun 2016 tinggal 11 ribu orang. Sisanya pengangguran.(MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here