Ekonomi Kepri Terendah Indonesia

0
679
INDUSTRI galangan kapal di Batam melesu tahun 2017. Banyak perusahaan galangan kapal tidak dapat orderan. f-suhardi/tanjungpinang pos

Triwulan IV 2017 Hanya 2,57 Persen

Pertumbuhan ekonomi Kepri Triwulan IV tahun 2017 nyaris tidak bergerak (statis) dibandingkan triwulan sebelumnya. Berdasarkan data dari Badan Pusat Pusat Statistik (BPS) Provinsi Kepri, pertumbuhan ekonomi Kepri Triwulan IV tahun 2017 hanya 2,57 persen dan urutan terendah di Indonesia.

TANJUNGPINANG – SEPANJANG 2017, pertumbuhan ekonomi Kepri merupakan yang paling parah sepanjang sejarah provinsi ini terbentuk. Pertumbuhan ekonomi Kepri urutan ke-33 dari 34 provinsi di Indonesia.

Adapun pertumbuhan ekonomi Kepri selama empat triwulan tahun 2017 yakni Triwulan I tumbuh 2,02 persen, Triwulan II tumbuh 1,52 persen, Triwulan III tumbuh 2,41 persen dan Triwulan IV 2,57 persen.

Selama tahun 2013 hingga 2016, pertumbuhan ekonomi Kepri belum pernah jatuh di angka 3. Paling rendah 4,21 persen dan paling tinggi 8,46 persen.

Tahun 2016, pertumbuhan ekonomi Kepri Triwulan I adalah 4,21 persen, Triwulan II tumbuh 5,17 persen, Triwulan III tumbuh 5,50 persen dan Triwulan IV tumbuh 5,19 persen.

Tahun 2015, ekonomi Kepri Triwulan I tumbuh 7,82 persen, Triwulan II tumbuh 6,36 persen, Triwulan III tumbuh 5,53 persen dan Triwulan VI tumbuh 4,49 persen.

Tahun 2014, ekonomi Kepri Triwulan I tumbuh 5,36 persen, Triwulan II tumbuh 7,00 persen, Triwulan III tumbuh 7,07 persen dan Triwulan IV tumbuh 6,95 persen.

Tahun 2013, ekonomi Kepri Triwulan I tumbuh 8,46 persen, Triwulan II tumbuh 7,38 persen, Triwulan III tumbuh 6,79 persen dan Triwulan IV tumbuh 6,29 persen.

BPS Provinsi Kepri mengumumkan, pertumbuhan ekonomi Kepri hingga Triwulan IV 2017 kemarin masih yang terendah dari seluruh provinsi seluruh Indonesia. Prestasi pertumbuhan yang dicapai selama setahun ini, pertumbuhan ekonomi Kepulauan Riau triwulan IV-2017 (y-on-y) tumbuh sebesar 2,57 persen.

Pertumbuhan pada triwulan ini didorong oleh pertumbuhan kategori industri pengolahan yang memberikan andil pertumbuhan sebesar 1,48 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen pengeluaran konsumsi rumah tangga memberikan andil pertumbuhan ekonomi terbesar yaitu 2,48 persen.

Peningkatan kondisi ekonomi konsumen terutama didorong oleh meningkatnya pendapatan rumah tangga kini (nilai indeks 108,14), pengaruh inflasi terhadap konsumsi (nilai indeks 101,81) dan volume konsumsi (nilai indeks 109,28).

”Perkiraan membaiknya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan IV-2017 didorong oleh perkiraan peningkatan pendapatan rumah tangga dan rencana pembelian barang tahan lama, rekreasi, dan pesta/hajatan,” jelas Kepala BPS Kepri Panusunan Siregar kepada wartawan di kantornya, Senin (5/2) kemarin.

Nilai ITK Provinsi Kepulauan Riau pada triwulan I-2018 diperkirakan sebesar 104,59 artinya kondisi ekonomi konsumen diperkirakan akan meningkat jika dibandingkan dengan Triwulan IV-2017, untuk perkiraan tingkat optimisme konsumen akan sedikit menurun jika dibandingkan triwulan sebelumnya (ITK sebesar 106,66).

Perkiraan meningkatnya kondisi ekonomi konsumen pada Triwulan I-2018 mendatang ini disebabkan oleh meningkatnya indeks pendapatan rumah tangga mendatang dengan indeks sebesar 104,47 dan indeks pembelian barang tahan lama sebesar 104,79.

Sebelumnya, BPS Kepri Badan Pusat Statistik Provinsi Kepri baru saja merilis performa perekonomian Kepri kondisi terkini. Pada rilisnya terungkap bahwa pertubuhan ekonomi (PE) Kepri pada triwulan III/2017 sudah menampakkan tanda-tanda pemulihan yang ditunjukkan dengan pertumbuhan sebesar 2,41 persen bila dibandingkan triwulan yang sama pada 2016 (year on year basis). Capaian ini sudah meningkat lebih dua kali lipat dibandingkan pertumbuhan triwulan II yang angkanya 1,04 persen yoy.

Pertumbuhan ekonomi triwulan III yang relatif signifikan tersebut tidak terlepas dari mulai bangkitnya industri manufaktur yang tumbuh 2,88 persen. Dan bila ditelisik lebih jauh, ternyata faktor pendorong utamanya adalah subsektor industri barang dari logam, komputer, barang elektronik, optik, dan peralatan listrik yang notabene memiliki kontribusi 20,25 persen terhadap total PDRB Kepri, telah tumbuh secara signifikan, yaitu sebesar 7,49 persen.

Kemudian, didukung oleh subsektor industri logam dasar yang tumbuh 4,13 persen dimana pada triwulan-triwulan sebelumnya kedua subsektor tersebut mengalami kontraksi. Dari sini terlihat bahwa industri manufaktur telah berperan sebagai “penyelamat” perekonomian Kepri pada Triwulan III/2017.

Keberhasilan pembangunan, yaitu pertumbuhan eknomi, tingkat inflasi, tingkat kemiskinan, ketimpangan pendapatan (rasio gini), pengangguran, dan Indeks Pembangunan Manusia (IPM).

Dari keenam indikator di atas, pertumbuhan ekonomi adalah yang paling vital karena merupakan mesin penggerak utama untuk memutar roda perekonomian dalam rangka mengurangi pengangguran, mengentaskan kemiskinan, dan meminumkan kesenjangan pendapatan serta peningkatan kesejahteraan.

Itulah sebabnya ketika menetapkan target PE itu harus dihitung secara cermat dan mendalam serta berbasis pada potensi/kekuatan ekonomi wilayah agar perputaran roda perekonomian sebagaimana yang diharapkan dapat terwujud.

Sekretaris Daerah Pemprov Kepri H TS Arif Fadillah, menyampaikan, kuncinya ke depan adalah komitmen bersama, baik BP Batam, Pemko/Pemkab, BP kawasan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi ke depan. ”Kita harapkan, selalu memberikan kemudahan investasi, pelayanan yang kondusif,” terang Arif.

sambil menyampaikan bahwa saat ini sudah ada kemajuan dibandingkan dengan awal tahun 2017. ”Kepala BPS selalu berkomunikasi ke kami,” tambahnya.

Minimal ke depan target 2018, paling tidak Kepri tidak lagi menjadi provinsi terendah, terhadap pencapaian pertumbuhan ekonomi ini. ”Minimal kita sama dengan nasional, 5,03 persen. Syukur-syukur bertambah,” terangnya demikian.(MARTUNAS – SUHARDI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here