Eksistensi Muatan Lokal Semakin Menurun di Era Millenial

0
234
Dewi Nurwati

Oleh: Dewi Nurwati
Mahasiswa IlmuAdministrasi Negara, FISIP-UMRAH

Muatan Lokal (Mulok) merupakan salah satu kegiatan berbentuk pendidikan untuk mengembangkan kemampuan yang dimiliki dari masing-masing daerah dengan ciri khas dan potensi serta keunggulan daerah tersebut.Tujuan dari muatan lokal tidak boleh bertentangan dengan tujuam pendidikan nasional.Tujuan muatan lokal adalah untuk memperkaya dan memperluas pendidikan nasional.Karena tujuan muatan lokal hanya untuk menyelaraskan materi yang di berikan sesuai dengan kondisi lingkungannya dan mengoptimalkan sekaligus menanamkan nilai budaya daerah.

Muatan lokal memberikan bekal bagi peserta didik mengenai kemampuan, pengetahauan, dan keterampilan dari daerah yang bermanfaat untuk diri sendiri maupun lingkungan masyarakat.Muatan lokal juga dapat di perlukan untuk pelestarian budaya, pengembangan kebudayaan, serta pengubah sikap terhadap lingkungan.Sesuai dengan Permendiknas No. 22 Tahun 2006 tentang Standar Isi menyatakan bahwa Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) selain memuat beberapa mata pelajaran, juga terdapat mata pelajaran Muatan Lokal yang wajib diberikan pada semua tingkat satuan pendidikan. Muatan lokal sendiri terdiri atas bahasa daerah, kesenian daerah, budaya daerah, adat istiadat, keterampilan dan kerajinan daerah, dan hal lain yang menyangkut dengan daerah itu.

Muatan lokal sangat berpengaruh terhadap pola fikir, sikap, serta tindakan agar sersuai dengan nilai-nilai dan norma yang berlaku di masyarakat daerah. Selain itu juga memberikan kesadaran mengenai masalah-masalah yang terjadi dimasyarakat dan menemukan bagaimana solusi penyelesaiannya. Pengembangan muatan lokal harus lah dengan cara yang profesional yaitu dengan merencanakan, mengelola, maupun melaksanakannya dengan baik. Karena hal ini dapat mendukung pembangunan daerah dan pembangunan nasional.Pengembangan secara profesinal merupakan salah satu tanggung jawab dari pemangku kepentingan (stakeholder). Seperti yang kita ketahui cara profesional itu semakin lama hilang dimakan waktu. Sehingga membuat potensi dan ciri khas daerah mulai terlupakan.Salah satunya yaitu budaya daerah yang kini tergerus oleh zaman karena lunturnya pelestarian dari masing-masing daerah.Lunturnya pelestarian ini disebabkan berbagai aspek baik dari dalam maupun luar daerah itu. Pengaruh dari dalam tersebut ialah kurangnya sosialisasi bersama keluarga, disorientasi kurikulum pendidikan, dan kurangnya kesadaran generasi muda akan budaya daerah. Selain itu ada juga pengaruh dari luar seperti globalisasi, modernisasi yang mendominasi, bahasa asing yang masuk ke berbagai daerah, serta adanya dominasi kultural.

Tanjungpinang sendiri dikenal dengan Negeri Pantun yang dapat dilihat dari julukan yang disematkan kepada kota Tanjungpinang. Di era millenial muda/mudi seolah olah perlahan melupakan budaya daerah sendiri khususnya pantun.Pantun seharusnya tidak hanya dibacakan diawal mulanya pidato atau pun kata sambutan, juga penggunaannya bukan sekedar pada pengumuman dibaliho-baliho yang ada di tepi jalan. Karena berpantun adalah sebuah keterampilan yang tanpa dilatih tidak mungkin akan mudah dikuasai.

Ketidakmampuan masyarakat mengauasi pantun karena kurangnya minat masyarakat mempelajari pantun yang disebabkan oleh tidak adanya tempat untuk mempelajari pantun, dan kurang menguasai budaya daerah sendiri.Sehingga Tanjungpinang yang sebagai Negeri Pantun tetapi masyarakatnya cendrung kurang menguasai pantun.Sedangkan penduduk Tanjungpinang terkenal dengan mayoritas suku melayu, dimana suku melayu sendiri identik dengam ciri khasnya yaitu berpantun.Selain itu keadaan geografis yang dekat dengan perbatasan negara juga mempermudah budaya asing masuk dan memepengaruhi daerah meskipun membutuhkan waktu yang cukup lama.Budaya asing yang masuk ini secara perlahan merubah pola fikir masyarakat, sehingga menimbulkan budaya baru yang tidak sesuai dengan muatan lokal yang ada di masyarakat.Masuknya budaya asing yang menciptkan budaya baru ini juga mempengaruhi minat masyarakat mempelajari pantun.Teknologi juga menjadi pemicu dari sekian banyaknya pengaruh yang ada. Kenapa demikian?, hal itu dikarenakan semakin canggihnya fitur-fitur terbaru yang ada pada gadget/handphone. Sehingga membuat seluruh kalangan masayarakat mengikuti arus perkembangan zaman.Ini membuat minat masyarakat semakin menurun untuk mempelajari pantun serta melestarikannya.

Di era millenial ini dengan teknologi yang semakin canggih dan budaya asing yang masuk ke berbagai daerah masyarakat diharapkan dapat membuka mata, membuka hati, dan kembali memepelajari muatan lokal yang ada di daerah serta melestarikannya khusunya pantun.Selain itu pemerintah juga harus ikut berkontribusi agar dapat mengambil perannya dengan mengubah orientasi kurikulum pendidikan untuk menyelaraskan antara muatan lokal dan pelajaran wajib, serta antara pendidikan dan Kebudayaan.Diharapkan juga para sastrawan berpartisipasi dalam menghidupkan kembali pantun yang cendrung kurang dikuasai seluruh kalangan masyrakat. Dengan dukungan dari berbagai pihak yang mencintai budaya berpantun, diharapkan harta karun bangsa ini dapat terus dilestarikan. Marilah melestarikan budaya daerah khususnya pantun, untuk kembali membumi, dikenal atau pum diketahui masyarakat, dan terus abadi di tanah bumi pertiwi ini.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here