Ekspor Komoditi Batam Rp19,3 T

0
101
GUBERNUR Kepri H Nurdin Basirun melihat komoditi hasil pertanian Batam yang diekspor ke berbagai negara melalui Pelabuhan Batuampar Batam, Selasa (19/3) malam. f-istimewa/humas pemprov kepri
Kepala Karantina Pertanian Batam, Suryo Irianto Putro mengatakan, tahun 2018 ada 49 komoditas asal Batam yang diekspor ke berbagai negara. Diantaranya ampas wangi, kakao, kelapa bulat, minyak sawit, rumput laut dan sarang walet.

BATAM – Dengan 20 negara mitra dagang diantaranya USA, Angola, Bangladesh, Belanda, Brazil, Tiongkok, Kamboja, Kanada, Mesir Jerman, Yordania, India, Korsel, Malaysia, Meksiko, Singapura, Tanzania dan Vietnam, nilai total ekspor mencapai Rp19,32 triliun.

Gubernur Kepri H Nurdin Basirun mengatakan, Batam punya potensi sebagai daerah pintu ekspor pertanian. Program tersebut perlu didorong.

Pihaknya akan berjanji akan mengoptimalkan upaya yang ada melalui dinas dan lembaga penelitian agar hasil yang didapatkan petani bisa lebih optimal.

”Program ini perlu kita dukung. Kita akan lakukan seoptimal mungkin supaya eksportir dan petani mendapat nilai tambah yang optimum selain juga jadi devisa untuk daerah,” ujarnya.

Hal ini disampaikan Nurdin saat pelepasan ekspor pertanian, Selasa (19/3) malam di Pelabuhan Batuampar, Batam. Kegiatan itu merupakan inisiasi dari Kementan lewat Badan Karantina Pertanian dengan programnya Agro Gemilang 2019.

Ekspor dilakukan Kementerian Pertanian RI bersama pemerintah daerah di Kepri senilai Rp46,99 miliar tujuan Jerman, USA, Estonia, Vietnam, Meksiko dan Malaysia.

Pada kesempatan itu, Nurdin menerima aplikasi I-MACE dari Kepala Barantan RI. I-MACE atau Indonesia Maps of Agricultural Commidities Exports.

Aplikasi ini dapat digunakan seluruh pemangku kebijakan baik pusat maupun daerah dalam memetakan potensi ekspor di wilayahnya. Aplikasi ini mampu menjadi tools bagi landasan pengambilan kebijakan peningkatan ekspor produk pertanian di daerah.

Saat pelepasan ekspor pertanian itu, Nurdin didampingi Kepala Badan Karantina Pertanian (Barantan), Ali Jamil, Kepala Karantina Pertanian Batam, Suryo Irianto Putro dan lainnya.

”Ini untuk meningkatkan ekspor komoditas pertanian yang berbasis wilayah dan menambah jumlah eksportir di bidang pertanian,” kata Jamil.

Kata dia, Kementan bersinergi dengan pemerintah daerah di Provinsi Kepri yang ada di zona perdagangan bebas atau Free Trade Zone (FTZ), Batam bersama dengan Bintan dan Karimun. Dari sistem otomasi perkarantinaan di Batam pada awal 2019 terjadi kenaikan jumlah ekspor dibandingkan tahun lalu sebesar 24%.

”Periode Januari-Februari 2018 terdapat ekspor 59.224,57 ton atau senilai Rp839,17 milia. Sedangkan pada periode yang sama tahun 2019 sebesar 73.425,9 ton dengan nilai Rp936,57 miliar. Kita dorong pertumbuhan ini dengan bersinergi,” kata Ali.

Ditegaskannya, Kementan berkomitmen menjaga kualitas dan mendukung ekspor komoditas pertanian daerah agar memenuhi persyaratan SPS (Sanitary dan PhytiSanitary). Sehingga tidak terjadi penolakan saat tiba di negara tujuan.

”Lewat program Agro Gemilang ini tidak hanya itu, kita ingin ada peningkatan volume dan penambahan eksportir dan juga negara tujuan, agar nilai tambah ini bisa bermanfaat lebih banyak,” harapnya.

Pelabuhan Batuampar Batam dimanfaatkan untuk ekspor produk pertanian. Produk pertanian yang diekspor lewat dermaga utara pelabuhan bebas di Batuampar ini ada kakao dan kelapa bulat.

Gubernur menambahkan, banyak potensi pertanian bernilai ekspor yang harus digali bersama agar meningkatkan devisa dan pendapatan daerah.

Melepas ekspor produk pertanian senilai Rp49 miliar ke berbagai negara menunjukkan potensi itu sangat besar.

”Ini kekuatan dan kerja sama yang dimiliki oleh seluruh anak bangsa. Malam ini bukti kerja keras bisa kita lakukan bersama-sama ekspor yang bernilai cukup fantastis dan meningkatkan devisa negara serta pemasukan bagi daerah,” kata Nurdin.

Adapun komoditi ekspor yang dilepas malam itu yakni Cocoa Butter (PT Asia Cocoa Indonesia), Cocoa Powder (PT Asia Cocoa Indonesia), Daging Kelapa (PT Heng Guan), Rumput Laut (PT Kencana Bumi Sukses) dan Minyak Sawit (PT Synergy Oil Nusantara).

Negara tujuan ekspor yakni Cocoa Butter (Jerman, Amerika Serikat, Estonia), Cocoa Powder (Vietnam, Meksiko), Daging Kelapa (Malaysia), Rumput Laut (China), Minyak Sawit (Tanzania).

Nilai ekspor Cocoa Butter dan Cocoa Powder (Rp46,6 miliar), Daging Kelapa (Rp338 juta), Rumput Laut (Rp110 juta), Minyak Sawit (Rp2,3 miliar). Dari semua itu, total ekspor yang dilepas berjumlah Rp49,4 miliar.

Nurdin mengatakan, ekspor kali ini hendaknya dijadikan motivasi untuk meningkat nilai ekspor. Sehingga bisa lebih dikenal negara luar dan pasar semakin besar.

Potensi pertanian sangat berpeluang untuk dikembangkan di Kepri. Wilayah yang dimiliki juga tidak kalah saing dan subur seperti Lingga, Natuna, Anambas, Karimun dan lainnya.

”Kami juga mengajak seluruh stakeholder agar bisa bersama-sama dan bersinergi dengan bergandengan tangan agar hambatan yang menghalang bisa diselesaikan. Rentang waktu harus dikurangi. Pangkas birokrasi tanpa melanggar aturan dan peraturan,” kata Nurdin.

Menurut Nurdin, ekspor ini merupakan salah satu upaya dalam meningkatkan neraca perdagangan Indonesia dan Kepri khususnya.

Karena itu, pihaknya terus bersinergi dengan pemerintah pusat dan kabupaten kota untuk terus meningkatkan infrastruktur di bidang pelabuhan untuk mendukung ekspor tersebut.

”Pesan Presiden RI Joko Widodo yang menginginkan Indonesia pada tahun 2045 menjadi negara keempat terkuat perekonomiannya di dunia dan sebagai negara lumbung penghasil pangan,” kata Nurdin.

Nurdin pun memaparkan banyak potensi pertanian dan kelautan Kepri. Seperti rumput laut yang diekspor dari Pulau Pauh – Moro sebanyak 40 Ton.

Untuk itu perlu dikuatkan hubungan antara pengusaha dengan petani sehingga terus berjalan. Nanas dan Pisang juga merupakan komoditi yang diekspor ke Singapura, sementara Kelapa bulat diekspor ke Thailand yang berasal dari Karimun.

Kepala Badan Karantina Pertanian Kementan RI Ali Jamil mengatakan akselerasi sangat perlu dilakukan untuk menguatkan ekspor khususnya sektor pertanian.

Karena itu dia menegaskan agar keseluruhan UPT untuk berkoordinasi dengan pimpinan daerah agar meningkatkan sektor pertanian yang diminta/unggulan oleh

Negara Tujuan ekspor bisa ditingkatkan. Saat ini ada 3 UPT di Kepri yakni UPT Tanjungpinang, UPT Batam dan UPT Tanjung Balai Karimun

”Mari kita maksimalkan pelabuhan Batu Ampar untuk mendorong ekspor ke Negara Tujuan dan seperti UPT Tanjung Balai Karimun melakukan ekspor melalui pelabuhan Batu Ampar ke Malaysia dan China. Senergi dengan seluruh stakeholder perlu dilakukan agar tidak terjadi permasalahan di lapangan,” kata Ali Jamil yang pernah bertugas di Kepri dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2012 ini.

Perlunya dilakukan akselerasi eskpor untuk meningkatkan nilai eskpor dan tercatat dari sistem otomasi perkarantinaan di Batam pada awal 2019 terjadi kenaikan jumlah ekspor dibandingkan tahun lalu sebesar 24 persen.(MARTUA BUTAR BUTAR)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here