Etika dalam Berkarya

0
1286
Ria Riski Pinasti

Oleh: Ria Riski Pinasti
Mahasiswi Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang

Setiap individu memiliki kesempatan untuk mengembangkan bakat dan potensi yang dimiliki. Mengasah bakat dan potensi dalam diri secara terus-menerus merupakan salah satu cara yang dapat ditempuh untuk menghasilkan sebuah karya. Melalui karya yang dihasilkan, diharapkan dapat berkontribusi dalam perkembangan karya di tanah air. Untuk itu generasi yang berkualitas dalam berkarya, unggul, dan berprestasi sangat dibutuhkan bangsa ini agar dapat mengharumkan tanah air.

Berkarya merupakan usaha yang meliputi gagasan, ekspresi, dan emosi untuk menghasilkan sebuah karya. Karya itu sendiri terbagi menjadi beberapa jenis seperti karya asli yaitu hasil ciptaan yang bukan tiruan, karya cetak yang meliputi segala sesuatu yang dicetak, karya rekam, dan karya seni, serta karya sastra yang merupakan hasil sastra seperti puisi.

Berbicara puisi, banyak tokoh tanah air yang menuangkan ide pemikirannya melalui karya sastra tersebut. Tokoh Indonesia yang karyanya selalu menjadi inspirasi bagi peminat puisi diantaranya seperti Taufiq Ismail, W.S. Rendra, dan Chairil Anwar. Hingga kini karya ke tiga tokoh tersebut masih menjadi referensi bagi mereka yang menggeluti dunia sastra khususnya puisi karena disetiap karyanya memiliki makna yang mendalam.

Baca Juga :  Bela Negara Versi Generasi Millenial Melalui Karya

Dalam berkarya sangat diperlukan etika agar tidak merugikan pihak tertentu, seperti tidak melakukan plagiat karya. Plagiat merupakan tindakan meniru hasil karya orang lain. Selain itu etika dalam berkarya perlu memperhatikan nilai dan norma yang berlaku di masyarakat. Seperti pisau bermata dua, karya tidak hanya dapat meningkatkan kualitas diri dari penciptanya namun juga dapat menjadi bumerang bagi diri sendiri apabila dalam berkarya tidak menjunjung tinggi etika serta memperhatikan nilai dan norma yang berlaku dalam kehidupan masyarakat.

Baca Juga :  Pancasila Tetap jadi Kebutuhan Primer Bangsa Indonesia

Seperti pada kasus yang pernah terjadi dan ramai dibicarakan masyarakat serta viral di media sosial yaitu sebuah karya milik Soekmawati Soekarnoputri yakni puisi berjudul ‘Ibu Indonesia’ yang ia bacakan dalam acara “29 tahun Anne Avantie berkarya di Indonesia Fashion Week 2018”. Isi puisi tersebut dianggap mengandung isu SARA karena di dalamnya mengandung salah satu perbandingan antara kidung ibu Indonesia dengan suara azan yang dinilai menyinggung suatu agama tertentu. Akibat karya yang mengundang kontroversi ini berujung pada dilaporkannya Soekmawati ke polisi. Soekmawati sendiri secara pribadi telah meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia karena puisi ciptaannya telah menyinggung suatu agama. Canggihnya teknologi membuat kasus ini menyebar dengan cepat untuk diketahui masyarakat luas sehingga sebagian besar masyarakat Indonesia terutama yang beragama Islam menjadi berang. Soekmawati dianggap telah melecehkan dan menistakan agama yang menimbulkan gesekan di tengah masyarakat di berbagai daerah yang berujung pada demonstrasi di Jakarta yang dihadiri berbagai kelompok masyarakat dengan tuntutan agar Soekmawati harus diproses secara hukum.

Baca Juga :  Konsep Kampung dalam Urban Farming

Belajar dari kasus puisi Soekmawati tersebut, sudah seharusnya dalam menghasilkan karya perlu mengedepankan etika dan memperhatikan keberagaman yang merupakan kekayaan bangsa ini, agar nantinya tidak menimbulkan gesekan di masyarakat yang dapat memecah belah kedamaian bangsa ini. Selain itu dalam membuat suatu karya khususnya puisi sebaiknya tidak menggunakan simbol-simbol yang menyangkut agama, ras, dan suku tertentu untuk dibandingkan dengan simbol lain, karna hal tersebut sangat sensitif dan akan berdampak pada timbulnya berbagai persepsi masyarakat dalam memaknai suatu karya.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here