Fakultas Ekonomi UMRAH Kaji FTZ dan KEK Kepri

0
236
SUASANA diskusi ilmiah yang membahas KEK dan FTZ di Kepulauan Riau yang digelar oleh Fakultas Ekonomi UMRAH. f-istimewa

DOMPAK – Civitas Akademika Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang menggelar diskusi ilmiah untuk mengkaji bagaimana Free Trade Zone (FTZ) dan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dalam Perspektif Otonomi Daerah.

Kegiatan yang melibatkan beberapa narasumber ini digelar, Rabu (28/8) di Gedung Auditorium UMRAH, Dompak.

Kepala Biro Akademik Kemahasiswaan dan Kerjasama (BAKK) Ary Satia Dharma, S.Sos, M.Si mewakili Rektor UMRAH menyampaikan kata sambutan. Pada kesempatan itu Ary mengapresiasi kegiatan yang dilakukan FE-UMRAH ini.

Kegiatan diskusi ilmiah itu dapat membuka wawasan para mahasiswa mengenai potensi yang ada di wilayah Kepri.

”Dan mahasiswa sendiri bisa turut serta berpartisipasi membangun wilayah Kepri khususnya Tanjungpinang, menjadi kawasan yang dianggap layak untuk pertumbuhan ekonomi antara lain industri, pariwisata dan perdagangan,” sebut Ary dalam sambutannya.

Hadir sebagai narasumber, Ir. Burhanudin, M.Si yang menjabat Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Kepri, Assoc. Prof. Dr. M. Syuzairi, M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi UMRAH), dan Assist. Prof. Tumpal Manik, M.Si (Akademisi/Dosen UMRAH) dan dipandu oleh moderator Assist. Prof. Fatahurrazak, SE., M.Ak,CA (Wakil Dekan I FE UMRAH).

Pada materinya, Ir. Burhanudin, M.Si mengupas segala perbedaan antara FTZ dan KEK di hadapan peserta.

Dalam diskusi ilmiah itu, dirinya mengidentifikasi permasalahan, kelebihan dan kekurangan keduanya.

Menurutnya, FTZ dinilai mempunyai pengaruh yang signifikan dalam pembangunan ekonomi nasional khususnya terkait upaya-upaya peningkatan investasi.

Kota Batam sebagai contoh, dunia usaha di Batam menilai KEK bukan jalan keluar untuk meningkatkan daya saing.

Karena KEK tidak menyelesaikan masalah substansial di Batam, tetapi menimbulkan sejumlah dampak negatif terutama pada pelaku UKM dari masyarakat.

Hal senada juga disampaikan oleh dua orang narasumber lainnya, Dr. Syuzairi dan Tumpal Manik. Mereka menyatakan bahwa belum satupun KEK di Indonesia yang menunjukkan kisah sukses, semuanya masih dalam tahap pengembangan. Berbeda dengan FTZ, yang sudah terbukti pernah menjadi pemikat ekonomi.

”Diharapkan Kota Tanjungpinang yang notabene Ibukota Provinsi Kepri, bisa segera mempersiapkan pembentukan FTZ tentunya tidak luput dari segala faktor pendukungnya,” pungkas Dr. Syuzairi di akhir diskusi.

Diskusi Ilmiah yang berlangsung sekitar dua jam tersebut berlangsung cukup alot dengan berbagai pertanyaan yang meluncur dari mahasiswa kepada para narasumber saat sesi tanya jawab.

Sebagaimana diketahui, sehubungan dengan ditetapkannya wilayah Kota Tanjungpinang termasuk dalam FTZ, wilayah yang menjadi areal FTZ tersebut adalah Dompak dan Senggarang. Luas wilayah FTZ Tanjungpinang adalah 2.633 Ha, meliputi Dompak 1.300 Ha dan Senggarang 1.333 Ha.

Untuk mengakomodasi sejumlah kegiatan di dalam kawasan FTZ Dompak, kemudian dibagi dalam tujuh zona. Dimana tiap-tiap zona memiliki karakteristik kegiatan yang berbeda-beda, yaitu zona industri, pengolahan ekspor, logistik, jasa keuangan, techno park, pariwisata dan olahraga. (abh/mas)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here