Fenomena Perjuangan Kaum Gay

0
311
Paul Samuelson Sitorus

Oleh : Paul Samuelson Sitorus
Mahasiswa Jurusan Sosiologi FISIP Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinnang

Tulisan ini berawal dari pertanyaan saya secara pribadi mengenai keberadaan Lesbi, Gay, Bisexsuall, dan Transgender atau yang sekarang kita kenal dengan sebutan LGBT.

Kelainan seks ini sedang ramai diperbincangkan di tengah masyarakat. Dalam realita kehidupan bermasyarakat kita menyadari bahwa ada begitu beragam masyarakat dengan berbagai latar belakang kehidupan sosialnya.

Dalam hal ini yang paling disadari adalah setiap individu membutuh informasi dalam berbagai hal. Kita sebagai masyarakat hanya mengenal dan menganggap bahwa masyarakat hanya terbagi dalam golongan terpelajar, orang baik, orang jahat, hingga orang kaya dan miskin.

Namun di era modernisasi kita melupakan bahwa ada golongan orang yang normal dan baik, tetapi karena perilakunya yang berbeda mereka dianggap menyimpang dan mendapatkan diskriminasi oleh lingkungan masyarakat sehingga menjadi masalah sosial di masyarakat.

Tetapi kali ini saya tidak mengangkat semua kasus penyimpangan sosial tersebut, melainkan saya akan membahas salah satunya yaitu mengenai keberadaan gay atau yang sering kita sebut sebagai homoseksual dari kacamata sosiologi dalam melihat fenomema tersebut di lingkungan masyarakat.

Gay merupakan acuan terhadap homoseksual atau sifat-sifat yang memiliki ketertarikan kepada sesama jenisnya. Homoseksual sudah dikenal sejak lama pada masyarakat Yunani Kuno.

Dalam Inggris istilah ini baru dikenal pada akhir abad ke-19 M, tetapi menjadi sangat umum pada abad ke-20 M yang dalam Bahasa Inggris-nya menjadi “Gay” merujuk pada orang terutama pria.

Di Indonesia, berdasarkan data statistik pada tahun 2003 jumlah gay tercatat menjadi 8-10 juta orang. Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia sebanyak 29.051 juta gay terkena kasus Infeksi Menular Seksual (IMS) pada tahun 2016-Desember 2017.

Sangatlah aneh jika kita sebagai ciptaan Tuhan yang normal melihat laki-laki dan laki-laki berhubungan seks, saya berpikir bagaimana hal ini terjadi kepada sahabat, teman bermain, hingga keluarga sendiri. Tentu kita akan mengucilkan mereka bahkan tidak akan menerima mereka lagi didalam kehidupan kita secara pribadi.

Secara sosiologi, homoseksual (Soekanto,2004:381) adalah seorang yang cenderung mengutamakan orang yang sejenis kelaminnya sebagai mitra seksual. Sedangkan Suharto Kasran (2008) berpendapat bahwa homoseksual merupakan interest afektif dan genital terarah pada sesama seks.

Dari beberapa definisi yang ada setidaknya kita dapat mengambil suatu persamaan yaitu homoseksual merupakan kecenderungan suatu individu untuk menyukai orang lain yang mempunyai jenis kelamin yang sama.

Adanya fenomena ini jelas sangatlah tidak sesuai dan ditolak dengan ideologi yang dianut bangsa Indonesia mulai dari norma yang berkembang, hukum, hingga pada agama yang kita percayai.

Dalam kajian sosiologi, fenomena gay timbul akibat terjadinya perubahan dan pergeseran dari sisi nilai norma yang ada dan aturan sosial dalam masyarakat, sistem ekonomi, dan timbulnya sikap rasa tidak pedulinya masyarakat terhadap aktifitas yang ada di kalangan masyarakat itu sendiri.

Sehingga tidak menutup kemungkinan memunculkan kehidupan yang baru yaitu kehidupan tanpa suatu aturan atau yang disebut sebagai teori Anomi oleh Emile Durkheime.

Tidak hanya konsep Anomi saja, kita juga harus memperhatikan konsep struktural-fungsional yang dikemukakan oleh Talcot Parson. Dimana, terdapatnya sistem ataupun unsur di dalam sistem yang terapat pada lingkungan masyarakat maupun lingkungan keluarga.

Jika suatu peran dan sistem yang tidak berfungsi untuk mengatasi dan mengawasi suatu individu dan masyarakat maka dapat menyebabkan seorang individu tersebut melakukan tindakan penyimpangan.

Pada pernyataan tersebut kita dapat menilai bahwa lingkungan yang ada sangatlah dominan dan sebagai wadah dalam pembentukan karakter dan perilaku individu sendiri, baik dalam lingkungan yang positif ataupun negatif.

Namun, tanpa disadari perilaku individu tersebut bisa mempengaruhi lingkungan tempat individu tersebut berada. Kurangnya kontrol dan perhatian dari masyarakat dan keluarga membuat individu secara bebaskan melakukan praktik seks bebas kepada setiap orang, baik itu kepada lawan jenis dan sesama jenisnya.

Pada hal yang sama kita dapat memperhatikan dari sisi psikologis seorang individu tersebut. Ketika seorang individu yang pernah mendapatkan kekerasan seksual oleh keluarganya sendiri atapun lingkungan luar maka akan timbul rasa dendam untuk menerapkan hal yang sama kepada orang lain atas perlakuan yang telah diterimanya.

Ketika individu yang telah diberi cap atau labelling (Edwin Lamert) bahwa ia adalah seorang gay oleh lingkungan sekitarnya dan mendapatkan pandangan negatif, maka individu tersebut akan mengalami diskriminasi dalam pekerjaan dan kehidupan (Chumairoh,2008:5).

Hingga akhirnya muncul sanksi sosial yang akan diberikan oleh masyarakat mulai dari cemoohan hingga penganiayaan. Maka seorang individu tersebut akan mencari dan membuat lingkungan baru yang sejalan dan merekrut individu-individu yang lain untuk melakukan tindakan penyimpangan sosial yang dianggap kaumnya benar.

Secara tidak langsung yang masyarakat tidak sadari atas penolakan serta diskriminasi terhadap kaum gay yaitu telah memunculkan kelompok-kelompok dan komunitas baru dengan rasa solidaritas yang tinggi di lingkungan homoseksual tersebut dengan berlandaskan rasa senasib sepenanggungan.

Munculnya kelompok dan komunitas gay diwarnai dengan latar belakang berbeda-beda, namun dengan tujuan utamanya serupa yaitu sebagai wadah bagi kaum gay untuk mengorganisasikan diri sehingga mampu mengembangkkan potensi yang dimilikinya.

Kini yang harus disadari oleh masyarakat, perjuangan mereka bukan hanya untuk diakui dan diterima secara terbuka oleh masyarakat. Namun, perjuangan yang mereka angkat ialah persamaan hak antara gay dengan identitas gender lainnya.

Hadirnya perjuangan kaum gay dapat dilihat dari beberapa kasus yang ada di kota-kota besar melalui kecanggihan teknologi masa kini dalam pencapaian tujuannya.

Seperti adanya website gayanusantara.or.id yang merupakan milik dari Yayasan GAYa Nusantara dengan tujuan untuk memperjuangkan keseteraan, kepedulian akan hak-hak kaum LGBT yang sudah berdiri selama 29 tahun di Kota Surabaya.

Perjuangan di media sosial seperti Facebook juga sudah dapat kita temui, seperti temuan grup-grup pada Facebook yang berisi mereka para gay. Misalnya di Kota Tanjungpinang dimana ada grup Facebook Kumpulan Gay Tanjungpinang (Kepri) yang terdapat sekitar 1.020 pemilik akun yang menyukainya.

Grup Singaparna Baru yang beranggotakan 1.219 akun dan Ciawi Panembanjan dengan anggota 208 orang yang berada di Kota Tasikmalaya.

Selain munculnya komunitas kaum gay, kini juga telah terciptanya aplikasi yang memudahkan kaum gay untuk mencari pasangannya secara bebas, seperti aplikasi BoyAhoy, Gaydar, Hornet, dan Grindr.

Hal itu yang mungkin menjadi suburnya perkumpulan gay sampai saat ini, hingga akhirnya ada berita pada tanggal 6 Oktober 2018 terjadinya penggerebekan oleh polisi karena adanya informasi dari masyarakat bahwa ada tempat Sauna Harmoni yang diduga melakukan pesta gay letaknya berada di daerah Jakarta Pusat.

Kemudian pihak berwajib penangkapan terhadap 7 orang berstatus karyawan dan 50 orang sebagai pelaku LGBT karena telah melakukan kegiatan yang tidak diperbolehkan di negara Indonesia.

Pada fenomena penyimpangan sosial ini jelas kita mengetahui bahwa gay merupakan kasus yang sangat ditolak di Indonesia. Walaupun secara hukum belum ada undang-undang dan peraturan yang mengatur secara khusus mengenai perbuatan gay ataupun LGBT.

Tetapi walaupun secara hukum belum ada yang mengatur, bukan berarti kita sebagai masyarakat tetap bersikap negatif dan apatis pada penyimpangan ini. Kini saatnya kita mengambil peran dalam mencegah penyimpangan sosial tersebut.

Beberapa hal yang dapat kita lakukan ketika kita mengetahui bahwa sahabat,teman bermain, hingga keluarga, dan lingkungan sekitar kita mengetahui mereka seorang gay yaitu kita dapat melakukan pendekatan terhadap mereka baik secara intensif dengan mengajak mereka berbagi cerita akan permasalahannya, memberi mereka edukasi akan penyimpangan sosial yang ada.

Ajak mereka melakukan kegiatan yang positif, ajak mereka untuk lebih dekat terhadap agama dan kepercayaan, membawa mereka ke psikiater dan psikolog jika masalah yang dihadapi terlalu berat, dan hal yang paling utama jangan memberi labelling kepada mereka bahwa mereka secara gay dan mendiskriminasikannya.

Karena dengan hal itulah mereka akan mencari kenyamanan dan membentuk komunitas sesama kaum gay.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here