FPSS Gelar Goro dan Diskusi Budaya budaya.

0
502
Suasana diskusi budaya menghadirkan istri Gubernur Kepri Hj Noorliza Nurdin sebagai pembicara di Komplek Makam Daeng Marewah, Minggu (23/9).

Forum Pemuda Sulawesi Selatan (FPSS) Kota Tanjungpinang menggelar bakti sosial dan diskusi budaya, bersempena dengan peringatan Hari Jadi Kepulauan Riau (Kepri) ke 16 tahun. Bakti sosial dan diskusi budaya berlangsung di Kompleks Makam Daeng Celak, Minggu (23/9).

BINTANCENTRE – Istri Gubernur Kepulauan Riau (Kepri) Hj Noorliza Nurdin, salah satu juriat Daeng Marewah, hadir sebagai pembicara pada diskusi budaya.

Hj Noorliza Nurdin menyampaikan perlunya pemeliharaan kompleks makam sebagai cagar budaya dan pariwisata. Karena, bangsa yang besar, selalui menghargai para pahlawannya, dan para leluhurnya.

Hj Noorliza Nurdin, yang masih memiliki garis keturunan dari Daeng Marewah menyebutkan bahwa secara rutin kita menerima kunjungan ziarah makam dari Malaysia dan Singapura, tidak hanya ke Pulau Penyengat tapi juga ke makam Daeng Marewah dan Daeng Celak.

Acara juga dihadiri anggota DPRD Kota Tanjungpinang Ashadi Selayar, ketua Kerukunan Keluarga Sulawesei Selatan (KKS) Kota Tanjungpinang Ridwan Hamta.

Baca Juga :  Warga Pelantar Minta Disediakan Tong Sampah

Serta undangan dari Persatuan Indonesia Timur (Perkit), Generasi Fisabilillah, pemangku adat Ulum Riau dan perwakilan BEM universitas di Kepri.

Acara ini disambut baik oleh para undangan sebagai bentuk penghargaan kita terhadap leluhur dan sebagai bangsa yang tidak melupakan sejarah.

Ketua FPSS, Imran menjelaskan hasil diskusi tersebut melahirkan kesepakatan bersama untuk penyebutan nama Opu pada depan nama Daeng memgembalikan marwah mereka sebagai bangsawan bugis di tanah Melayu.

Dengan implementasi pergantian pada plang pada papa jalan dengan berkordinasi dengan pihak terkait. Serta pelestarian cagar cagar budaya yang masih ada dengan pembenahan baik.

”Kegiatan bakti sosial merupakan agenda rutin FPSS yang dilaksanakan setiap tahunnya dengan melibatkan unsur unsur yang terkait,” katanya, kemarin.

Kegiatan bakti sosial ini meliputi pembersihan di makam Opu Daeng Celak, makam Opu Daeng Marewah, makam Putik, makam Berparit dan kunjungan ke makam Panglima Hitam.

Baca Juga :  Belasan Sapi Terjual, Stok Masih Ada

M Imran menambahkan (FPSS) Kota Tanjungpinang-Kepulauan Riau mengimbau agar seluruh pihak membantu pemerintah dalam pemeliharaan cagar budaya.

”Kegiatan yang berasal dari anggaran daerah cenderung hanya insidensil. Akibatnya, setelah kegiatan selesai, kompleks makam akan kotor dan tidak terawat lagi. Perlu digagas partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kegiatan di kompleks makam secara berkelanjutan.

Bentuknya dapat berupa jogging track, kawasan bersepeda dan sanggar kesenian,” ujarnya.

Kegiatan baksos dan diskusi budaya ini adalah salah salah satu bentuk partisipasi tersebut. Sambung dia, anggaran yang dikumpulkan oleh anggota, kita dapat berbuat sesuatu yang bermanfaat. Tidak harus selalu mengajukan proposal kepada pemerintah.

Sementara itu, Ketua Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (KKSS) Kota Tanjungpinang H. Ridwan Hamta mengatakan dan mengingatkan perjuangan Opu Daeng Rilaka bersama anak-anaknya, dengan prinsip karakteristik Bugis menyatukan perjuangan rakyat Kepulauan Riau saat itu.

Ia mengajak, hendaknya prinsip tersebut terus dilanjutkan pada generasi penerus saat ini.

Baca Juga :  Ashady Minta Jalan Berlubang Segera Ditambal

Peserta diskusi juga dihadiri Generasi Fisabilillah, Ikatan Masyarakat Adat Hulu Riau, Pemuda Kampung Bugis dan Mahasiswa menyepakati dua rekomendasi diskusi yaitu penambahan nama Opu pada nama Daeng Marewah dan lainnya.

Serta komitmen bersama untuk memelihara kompleks makam sebagai cagar budaya.

Sementara itu, Ashady Selayar, tokoh Pemuda Bugis dan Anggota DPRD Kota Tanjungpinang bahwa perubahan nama menjadi Opu Daeng Marewah dan lainnya perlu memiliki kekuatan hukum. Sebab akan berpengaruh pada banyak sistem administrasi yang ada.

Menurutnya, minimal Peraturan Daerah. Beliau mengajak dukungan peserta diskusi untuk bersama-sama mengkaji dan mengajukan perubahan nama tersebut pada pembahasan Perda Cagar Budaya yang sementara disusun oleh DPRD Kota Tanjungpinang.(ABAS)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here