”Gajah Mada” pun Tersenyum Telkomsel Satukan Nusantara

0
811
Menara BTS Telkomsel di Tambelan tinggi menjulang. Dengan BTS ini dapat menjangkau beberapa pulau di Tambelan yang membantu menggerakan roda ekonomi.f-istimewa

Menggerakkan Perekonomian Daerah Terpencil, Abaikan Profit Demi Tugas Maha Penting

Menembus jaringan telekomunikasi di pulau terpencil di Laut Natuna Utara, Provinsi Kepulauan Riau dan 33 provinsi lainnya. Mengabaikan keuntungan demi sebuah tugas maha penting membuka isolasi daerah dari ketertinggalan.

BINTAN – Telepon genggam Maryani (35) berbunyi. Dilihatnya layar telepon tersebut dari mertuanya Hidaat Yahya dari Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepulauan Riau. Mertuanya sedang berada di kebon cengkih di Teluk Kunyit, Pulau Benua, Kecamatan Tambelan. Saat ini sedang memanen cengkih. Sudah dua minggu berada di sana bersama dengan buruh yang mengambil upah memetik cengkih di pohon.

Hidaat menelpon untuk memberi kabar bahwa karung atau goni untuk tempat menyimpan cangkih yang sudah dipetik kurang. Dan diminta kepada Maryani untuk membelikan karung ukuran 50 Kg dan plastik bening ukuran 25 kilogram dikirim dengan menggunakan kapal Pelni Sabuk Nusantara 80 yang berangkat ke Tambelan dari Kijang, Bintan 27 Desember 2018 lalu.

Jumlah karung yang diminta Hidaat mencapai hampir 100 karung. Cengkih di Tambelan saat ini sedang panen. Sehingga Hidaat di kebonnya di Benua memerlukan tambahan karung. Untungnya adanya saluran komunikasi Telkomsel di Pulau Benua membuat komunikasi Hidaat Yahya di kebon dengan menantunya di Kota Tanjungpinang lebih mudah.

Jika ada sumbatan komunikasi, maka cengkih yang dipetik dari pohon tersebut akan sulit disimpan dan dibiarkan dahulu di pohon. Tentu jika terlalu tua tidak bisa dipanen. Sama halnya Hidaat minta kepada istrinya Linda untuk menjemput cengkih yang sudah dipetik dan dimasukkan ke dalam karung. Setidaknya di akhir Desember Hidaat bersama dengan anak buahnya sudah memetik lebih dari 1,5 ton cengkih basah di Tambelan. Setelah itu baru Hidaat mengabarkan melalui jaringan Telkomsel kepada istrinya di Tambelan untuk menjemput cengkih di Benua. Jarak Benua dengan Tambelan dua jam perjalanan dengan pompong mengarungi laut.

Sedangkan jarak Kecamatan Tambelan dengan pusat pemerintahan Kabupaten Bintan sekitar 210 mil. Transportasi bisa dijangkau dengan kapal Pelni yang memerlukan waktu 21 jam perjalanan. Adanya jaringan komunikasi antara kebon dengan Tambelan maupun Tanjungpinang sangat membantu warga di kawasan daerah terpencil di Bintan untuk menggerakan roda perekonomian masyarakat. Inilah contoh betapa pentingnya jaringan komunikasi di daerah terdepan terluar dan tertinggal seperti di Tambelan.

Hal itulah menyebabkan Bupati Bintan Apri Sujadi meminta Telkomsel dan Kementerian Komunikasi dan Informasi membangun titik tower di Pulau Mentebung, Pulau Pinang, Pengikik, dan Pejantan agar komunikasi seluruh kecamatan di Bintan bisa terhubung. Tak lagi putus seperti saat ini. Karena keempat pulau tersebut sulit dijangkau diakibatkan letak posisi geografis yang jauh di Laut Natuna Utara.

Baca Juga :  Bright PLN Batam Salurkan 64 Hewan Kurban

Hidaat saat ini mudah berkomunikasi dengan istrinya di Tambelan dikarenakan jaringan Telkomsel bisa diperoleh di Pulau Benua. Walaupun BTS Telkomsel berada di Tambelan. Nelayan nelayan Tambelan yang melaut pun dapat menikmati layanan Telkomsel kalau mereka berada di posisi yang tidak terlalu jauh dari Tambelan.

Memang tidak semua pulau-pulau di Tambelan bisa terhubung dengan telepon. Namun beberapa pulau yang sudah terhubung sudah merasakan manfaat dari komunikasi yang lancar tersebut dapat menambah manfaat luar biasa bagi petani di Tambelan dan nelayan. Kalau harus pergi bolak balik dengan pompong atau kapal kecil dari kayu, maka memerlukan waktu lama dan tidak efisien.

”Hadirnya layanan Telkomsel secara nyata menjadi percepatan pertumbuhan perekonomian dan kemasyarakatan sekaligus mampu menjadi pendorong mempromosikan potensi daerah ini sekaligus menjadi manfaat bagi daya tarik investasi, peluang usaha, bahkan lapangan kerja baru ketika musim musim panen saat ini,” kata Hidaat.

”Semoga Bintan saling terhubung satu daerah dengan daerah lain melalui jaringan telekomunikasi,” kata Bupati Bintan Apri Sujadi.

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Desa (PMD) Kabupaten Bintan Ronny Kartika mengatakan jika lima titik pulau di Kabupaten Bintan seperti Pulau Pinang, Mentebung, Pengikik, Pejantan dan di Mapur selesai dilakukan pembangunam BTS, maka seluruh kecamatan di Bintan dan pulau pulau terpencil di Bintan bisa dijangkau saluran telekomunikasi.

”Selama ini empat pulau di Tambelan dan satu kawasan di Mapur belum terjangkau telepon. Tahun 2019 ini mudah-mudahan terjangkau sehingga potensi potensi desa dan pariwisata di daerah itu bisa dimanfaatkan untuk mendorong peningkatan ekonomi masyarakat desa,” kata Ronny.

Sekretaris Desa Pulau Pinang, Kecamatan Tambelan Multada kepada Tanjungpinang Pos di awal Januari 2019 mengatakan proses pembangunan tower sudah selesai. Sekarang ada beberapa alat lagi yang akan dipasang. Setelah itu baru 200 penduduk Pulau Pinang bisa berkomunikasi dengan dunia luar.

”Saat ini mereka belum bisa berkomunikasi dengan ponsel kalau sudah sampai di Pulau Pinang. Kita sangat berharap Telkomsel segera mengoperasikan jaringan mereka di sana untuk menghubungkan warga mereka dengan dunia luar,” kata Multada yang sudah tiga tahun menjadi Sekdes di Pulau Pinang. Desa itu ke pusat pemerintahan kecamatan di Tambelan ditempuh 7 jam dengan perjalanan laut menggunakan pompong.

Selaku aparatur desa, Multada berharap pihak Telkomsel segera mengaktifkan tower tersebut sehingga jaringan telekomunikasi melalui ponsel di Pulau Pinang dapat digunakan. Jika sudah dapat dipakai, potensi wisata desa bisa digarap lebih optimal. Misalnya mengenalkan wisata diving Pulau Pinang kepada dunia maya atau internet.

Baca Juga :  Warga Bisa Bayar PBB di Indomaret

”Karena lokasi terumbu karang di Pulau Pinang masih terjaga baik dan indah,” ujarnya.

Selain itu tentunya laporan perkembangan desa mudah untuk disampaikan kepada camat maupun bupati di Bintan.

”Karena selama ini jika kita sudah sampai di pulau, kita terputus komunikasi dengan dunia luar. Sehingga tidak tahu perkembangan yang terjadi. Jangankan main WA ataupun monoton YouTube, telepon saja belum bisa,” ujarnya.

***

Jadi “Gajah Mada” di Era Revolusi Industri 4.0
Telkomsel sejak awal melenium sudah menempatkan posisi sebagai pemain telekomunikasi terbesar di Indonesia. Bahkan kini permain besar dunia.

Merujuk laporan keuangan semester I tahun 2016 lalu, Telkomsel mengaku mempunyai pelanggan layanan seluler mencapai 157,39 juta. Jumlah ini jauh melebihi jumlah pelanggan operator seluler lainnya. Keunggulan brand milik PT Telkom Indonesia (Persero) ini dapat dimaklumi. Bagusnya kualitas layanan dan banyaknya jenis layanan menyebabkan pelanggan bertahan dan bertambah. Soal jaringan, Telkomsel memiliki base transceiver station (BTS) merata hingga pelosok daerah di Indonesia. Kawasan yang tidak dijangkau oleh operator lain, maka di sana Telkomsel masuk.

Kalau menggunakan kapal laut Pelni ke Tambelan, lima jam meninggalkan Pulau Bintan, jaringan Telkomsel masih bisa digunakan di tengah laut. Sedangkan jika kita ke Malaysia dan Singapura, jaringan Telkomsel juga tak kalah kuat hingga sampai di perairan Singapura dan Malaysia baru jaringan seluler berganti ke jaringan seluler negeri tetangga itu.

Kepri yang berbatasan negara tetangga kini sudah dirangkai dan disatukan Telkomsel melalui jaringan telekomunikasi. Adalah kawasan Natuna dan Anambas yang paling sulit dijangkau karena jauh kini mulai disatukan. Manager Branch Telkomsel Batam, Agus Pramono menyampaikan layanan Telkomsel di Natuna sejauh ini sudah bagus karena sudah terdapat fasilitas tower dengan jaringan 2G, 3G, dan 4G, termasuk penggunaan Satelit yang disewa oleh Telkomsel. Jumlah total tower Telkomsel di wilayah ini mencapai 41 unit, adapun BTS mencapai 82 unit.

”Kami menggunakan media transmisi radio tersebut berupa gelombang mikro (microwave), merupakan bentuk gelombang radio yang beroperasi pada frekuensi tinggi. Gelombang ini melintas dan merambat lewat udara. Kami akan membangunnya dari Sambas, Kalimantan Barat (Kalbar) ke Natuna, Provinsi Kepri,” ungkap Agus ke pelbagai media beberapa waktu lalu. Strategi itu dilakukan demi meningkatkan layanan Natuna dan Anambas.

Dalam upaya membuka isolasi layanan komunikasi di Indonesia, dalam waktu tiga tahun terakhir Telkomsel telah membangun 551 base transceiver station (BTS) di wilayah-wilayah perdesaan yang sebelumnya tidak memperoleh layanan komunikasi.

Dalam upaya membuka isolasi layanan komunikasi di Indonesia, dalam waktu tiga tahun terakhir Telkomsel telah membangun 551 base transceiver station (BTS) di wilayah-wilayah perdesaan yang sebelumnya tidak memperoleh layanan komunikasi. Dalam waktu dekat, Telkomsel akan segera mengoperasikan 17 BTS lainnya, sehingga secara total Telkomsel menggelar 568 BTS di 568 desa tanpa sinyal di Tanah Air.

Baca Juga :  Hubungan Pemko-BP Makin Memanas

Seluruh BTS di wilayah terisolir tersebut tersebar di 14 provinsi, yakni Sumatera Utara, Kepulauan Riau, Sumatera Barat, Jambi, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT), Kalimantan Barat, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Sulawesi Utara, Maluku Utara, Maluku, Papua Barat, dan Papua. Dari 568 BTS tersebut, 47 di antaranya merupakan BTS 4G yang memungkinkan masyarakat memanfaatkan layanan data yang berkualitas untuk meningkatkan produktivitas.

Direktur Network Telkomsel Bob Apriawan mengatakan, ”Kehadiran BTS di wilayah-wilayah yang sebelumnya tak memperoleh akses telekomunikasi ini semakin mempertegas komitmen Telkomsel dalam membangun dan memajukan seluruh negeri, tidak hanya di kota dan daerah yang menguntungkan secara bisnis. Kami terus berupaya menyediakan layanan komunikasi berkualitas yang merata di seluruh Indonesia untuk mendorong pertumbuhan masyarakat dalam segala aspek kehidupan.” Penggelaran BTS di wilayah-wilayah terisolir tersebut merupakan hasil kerjasama Telkomsel dengan Badan Aksesibilitas Telekomunikasi dan Informatika (BAKTI) Kementerian Komunikasi dan Informatika dalam hal penyediaan akses telekomunikasi seluler bagi masyarakat di wilayah pelayanan universal telekomunikasi dan informatika atau yang lebih dikenal dengan Universal Service Obligation (USO). Menteri Kominfo Rudiantara mengatakan dalam beberapa kesempatan, tidak ada lagi daerah di Indonesia yang sulit dijangkau.

”Pemerintah Jokowi-JK tengah gencar membangun koneksi internet di seluruh Nusantara. Tak satupun daerah di Indonesia yang tidak terhubung dengan jaringan backbone internet cepat Palapa Ring,” katanya. Dengan demikian, katanya, pemerintah mendukung penuh kegiatan e-commerce yang banyak diminati oleh kaum muda dan UMKM. Dengan dibangunnya konektivitas antarwilayah guna menyiapkan infrastruktur logistik. Jalan tol darat, tol laut dan pelabuhan hingga tol udara akan menghubungkan semua pulau di Indonesia untuk memperlancar kegiatan logistik.

”Kita harus senantiasa terhubung di era sekarang ini dan mengutamakan belanja produk lokal,” tulis Menkominfo Rudiantara dalam akun Twitter-nya.

Dan akhirnya, peran Telkomsel saat ini sebagai penyatu Nusantara melalui jaringan telekomunikasi. Dengan pelbagai produk layanan disiapkan Telkomsel membuat pelanggan merasa nyaman. Telkomsel juga yang pertama mencoba layanan 5G super canggih itu. Tak salah jika dikatakan, jika di era Majapahit adalah Gadjah Mada yang menyatukan Nusantara, di era Revolusi Industri 4.0, ada Telkomsel yang menggantikannya melalui jaringan telekomunikasi. Tentu Gajah Mada tersenyum jika dia masih hidup.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here