Gakkumdu Diminta Usut Perubahan Suara H Amran

0
524
H Amran

BINTAN – Tim pemenangan H Amran Caleg Golkar untuk pemilihan DPRD Bintan belum puas, meski Ketua PPK Bintan Timur M Ridwan ditetapkan sebagai tersangka, atas hilangnya C-1 plano TPS 12 Seilekop. Tim Penegakan Hukum Terpadu (Gakkumdu) diminta turut mengusut dugaan perubahan perolehan suara H Amran dan Aisyah di TPS tersebut.

Ketua PPK Bintan Timur M Ridwan ditetapkan sebagai tersangka, berawal dari proses penghitungan suara di TPS 12 Seilekop, Kecamatan Bintan Timur. Saat itu, H Amran dari Caleg Golkar memperoleh suara 34 di TPS 12. Sedangkan Aisyah dari Caleg parpol yang sama, memperoleh 6 suara. Rekapitulasi suara C-1 plano di TPS 12 itu ditandatangani oleh saksi Golkar atas nama Sapta, serta para saksi parpol lainnya.

Saat pleno di tingkat kecamatan (PPK), justru terjadi perubahan perolehan suara. Sementara, saksi Golkar di PPK tersebut atas nama Fikri Aqram alias Opik. Suara H Amran semula 34 berubah menjadi 24. Sedangkan Aisyah dari 6 suara menjadi 16 suara. Sehingga terjadi protes dan dilakukan penghitungan ulang.

Baca Juga :  Buaya di Mini Zoo Dipindahkan ke Lagoi

Alhasil, justru banyak ditemukan surat suara yang rusak untuk H Amran. Sehingga suara dialihkan untuk partai Golkar. H Amran hanya meraih 16 suara di TPS 12, sedangkan Aisyah justru bertambah menjadi 7 suara. Berdasarkan perubahan suara tersebut, tim pemenangan H Amran membuat laporan ke Gakkumdu.

Laporan itu tentang penghilangan C-1 plano. Kemudian C-1 hologram dari PPK ada coretan perubahan perolehan suara H Amran, dari 34 menjadi 24 suara. Kemudian, C-1 hologram itu tanpa tandatangan Ketua KPPS di TPS 12 Seilekop.

Dari proses pemeriksaan tim polisi dari Polres Bintan, PPK Bintan Timur melakukan kelalaian atas hilangnya C-1 plano. Dalam pemeriksaan polisi, saksi Golkar di TPS 12 atas nama Sapta menyatakan, C-1 yang dipegang Opik (saksi di PPK), bukan C-1 yang diserahkannya.

Kemudian, tanda tangan para saksi parpol lainnya di C-1 hologram yang dipegang Opik, bukan tanda tangan dari para saksi parpol lainnya. Selain itu, C-1 plano yang dipegang para saksi parpol lainnya di TPS 12, sama yang dipegang oleh Sapta. Tidak sama dengan C-1 yang dipegang Opik.

Baca Juga :  Pembangunan Fisik Jangan Tak Selesai

”Sampai saat ini, website resmi KPU masih berpegang kepada hasil rekapitulasi perolehan suara di TPS 12. Dalam hal ini, perolehan suara saya masih 34 suara. Bukan C-1 dengan perolehan 16 suara untuk saya,” kata H Amran, usai memberikan keterangan di Polres Bintan, Rabu (12/6) lalu.

”Kenapa mengenai perubahan perolehan suara untuk nama saya ini, tak diusut tuntas oleh Gakkumdu? Cuma penghilangan C-1 saja yang ditujukan ke Ketua PPK Bintan Timur,” sambung H Amran, yang menduga ada kerja sama antara M Ridwan dengan Opik, ketika kotak suara berada di PPK.

Pada kesempatan lain, Rasyid selaku tim pemenangan H Amran menyatakan belum puas, jika Bawaslu Bintan mengklaim hanya M Ridwan sebagai tersangka dalam kasus ini. Seharusnya, Bawaslu dan tim Gakkumdu lainnya, mengusut secara menyeluruh, sehingga terjadi perubahan perolehan suara terhadap H Amran, dan penambahan untuk suara atas nama Aisyah.

Baca Juga :  Hanya Satu Kapal yang Melayani Penumpang

”Kalau kami pikir, kasus yang kami laporkan ini bukan hanya pasal 505 UU Pemilu nomor 7/2017, mengenai kelalaian. Tapi, harus dikaitkan juga dengan pasal 532,” ujar Rasyid.

Inti dari penjelasan pasal 532 itu, sebut Rasyid, jika ada satu suara saja yang dihilangkan dengan sengaja, ancaman 4 tahun penjara dan denda Rp48 juta.

”Kami minta tim penyidik juga mengusut tentang perubahan perolehan suara H Amran,” harapnya.

Sebelumnya, Ketua Bawaslu Bintan Febriadinata menjelaskan, laporan yang disampaikan Caleg Partai Golkar Dapil Bintan 3 H Amran yang diproses secara komprehensif, mendapatkan bukti-bukti yang kuat untuk menjerat Ketua PPK Bintim menjadi tersangka.

”Tidak ada tersangka lain,” kata Febri saat ditanya, Rabu (12/6) siang lalu. (fre/aan)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here