Gas Bumi Jaga Asa Industri Pengolahan Dipasar Global Saat Covid-19

0
125
Karyawan PT Tomoe Valve menggunakan masker menyusun Valve, saat petugas PGN mengecek meteran gas bumi. F-Martua/Tanjungpinang Pos

Pandemi Covid-19 yang melanda dunia membuat perekonomian terseret. Pertumbuhan berbagai sektor minus. Salah satu yang masih tumbuh positif adalah sektor industri pengolahan. Gas. Inilah salah satu yang menyelamatkan sektor ini.

MARTUA BUTAR-BUTAR, Batam

PROVINSI Kepri mengalami koreksi ekspor kecuali industri pengolahan yang masih tumbuh 4,29 persen pada Triwulan I-2020. Salah satu industri pengolahan yang tetap eksis di Batam adalah PT Tomoe Valve Batam. Perusahaan ini terbantu karena gas bumi yang disalurkan PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk lancar. Gas bumi menjaga asa (harapan) industri Batam karyawan menyemprotkan cat perak ke katup.

Ada juga karyawan yang menyemprot ulang katup berwarna perak, dengan warna hijau, dengan mesin painting. Sebagian lain merangkai komponen atau elemen pendukung katup itu. Valve atau katup itu dibentuk dari batanganbatangan timah dengan cara melebur melalui die casting. Peleburan dilakukan dengan bantuan gas bumi.

Katup yang dihasilkan perusahaan ini, katup rubber lining, double offset dan triple offset, hingga seri unggulan 700G. Katup itu diekspor ke Jepang, Taiwan, Singapura, Philippina, Thailand, Cina dan Amerika Serikat. Sementara untuk pasar Indonesia hanya sekitar 10 persen. Biasanya, katup yang dihasilkan PT Tomoe Valve digunakan industri minyak dan gas, Petrokimia, air bersih, perkapalan, bangunan bertingkat dan lainnya. Katup itu dimanfaatkan untuk mengatur aliran fluida atau zat cair.

Valve berperanan dalam sistem pipa bahan bakar, ballast, bilge, sanitary, dan lainnya. Dengan hasil produk yang masuk pasar internasional, PT Tomoe Valve tetap eksis di tengah ancaman Corona virus disease (Covid-19). PT Tomoe menjaga eksistensi produksi, dibantu PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk, dengan gas bumi.

Menurut Asisten Manager PT Tomoe Valve Batam, Herguntata Agus, Sabtu (1/8/2020), awalnya gas yang mereka gunakan merupakan elpiji atau LPG. Namun sejak 1 Oktober 2018, mereka menggunakan gas bumi yang didistribusikan PGN melalui jaringan pipa.

PT Tomoe menandatangani kontrak kerja sama dengan PT PGN. Kesepakatan kerja sama itu, terkait pasokan gas bumi sebesar 350 sampai 1.750 MMBTU per bulan. Untuk menjaga kelancaran distribusi gas, tiap minggu, dua kali petugas PGN, mengecek stabilitas tekanan gas.

”Sewaktu-waktu kita butuh, petugas PGN kita panggil. Mereka bersedia hadir setiap saat. Tapi terjadwalnya, dua kali mengecek kondisi aliran distribusi gas bumi-nya,” kata Agus. Kata dia, kondisi di perusahaan itu berbeda jauh dibanding saat mereka menggunakan tabung atau elpiji.

Kini karyawannya fokus pada mesin produksi. Sekitar 220 orang karyawan di perusahaan itu tidak direpotkan lagi dengan pengecekan stok dan memasang tabung gas ke mesin produksi. Kemudian dari segi biaya, perusahaan lebih hemat.

Saat menggunakan Elpiji, setiap bulan, mereka menghabiskan sekitar 250 tabung gas elpiji berkapasitas 50 Kg. Biaya yang dikeluarkan sekitar Rp290 juta per bulan. Dengan gas bumi, kini mereka bisa menghemat pengeluaran atau biaya produksi. Sekarang perusahaan hanya mengeluarkan sekitar Rp150-an juta per bulan. Mereka menghemat sekitar 30 sampai 40 persen.

”Benefit (manfaat atau keuntungan) ini menambah daya saing PT Tomoe di pasar internasional. Tarif hasil produksi juga bisa lebih kompetitif. Gas bumi membantu kami dari fluktuasi pasar dan mengurangi risiko kelangkaan,” ungkapnya.

Dengan dukungan gas bumi dari PGN, mereka bisa memproduksi katup valengan sekitar 30 ribu per bulan. PT Tomoe yang sudah beroperasi sekitar 12 tahun di Batam, menjadi salah satu penyumbang devisa Indonesia.

Sebagai penyumbang devisi, PT Tomoe juga mengakui kelancaran operasional perusahaan, yang terbantu oleh ketersediaan gas bumi Indonesia. ”Kita terbantu ketersediaan gas bumi di Batam. Ini fasilitas pendukung industri di Batam. Bagi kami, tidak hanya murah, tapi mudah kami dapat bahan bakar,” beber Agus.

Baca Juga :  Natuna Pondasi Maritim Nasional

Industri Pengolahan Batam Terjaga

Eksistensi industri pengolahan seperti PT Tomoe Valve yang terjaga juga diakui Kepala Kantor Perwakilan (KPw) Bank Indonesia (BI) Provinsi Kepri, Musni Hardi K Atmaja, Rabu (24/6/2020). Kata dia, dampak Covid19 terhadap perekonomian global, nasional maupun Kepri, sudah terasa pada Triwulan I-2020.

Namun, kinerja lapangan usaha industri pengolahan, masih terjaga. Saat ini, industri pengolahan merupakan penopang utama perekonomian Kepri. Membantu menahan perlambatan lebih dalam. ”Lapangan Usaha Industri pengolahan kinerja industri pengolahan masih tumbuh baik pada Triwulan I-2020,” ujarnya.

Dibeberkan Musni, industri pengolahan pada Triwulan I-2020 tumbuh 4,29 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 4,15 persen (yoy), terkonfirmasi oleh kinerja ekspor non migas yang tumbuh menguat sebesar 91,07 persen (yoy), dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 9,40 persen (yoy).

Sebagian besar produksi industri pengolahan Kepri ditujukan untuk pasar ekspor. Peningkatan kinerja ekspor non migas ditopang oleh kinerja ekspor produk elektronik, produk mesin dan produk dari besi dan baja (produksi industri pengolahan Kepri) yang berada dalam tren peningkatan pertumbuhan sejak triwulan lalu. Ekspor produk elektronik dan produk mesin pada Triwulan I-2020 tumbuh masing-masing sebesar 193,57 persen (yoy) dan 96,85 persen (yoy).

”Lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya masing-masing sebesar 11,99 persen (yoy) dan 17,86 persen (yoy),” imbuh Musni.

Wakil Ketua Koordinator Himpunan Kawasan Industri (HKI) Kepri, Tjaw Hioeng, di Batam mengakui, saat ini sekitar 45 persen lebih produk industri Batam, di ekspor ke Singapura. Disisi lain, saat ini Singapura mengalami resesi. Namun kondisi itu tidak akan mempengaruhi PT Tomoe Valve Batam. Dimana, hasil produk perusahaan ini diekspor ke negara lain.

”Mudah-mudahan, kondisi ekonomi Singapura segera bisa keluar dari resesi. Untuk hasil produksinya tidak masuk pasar Singapura, tidak ada masalah. Tapi secara umum industri Batam akan terpengaruh kondisi Singapura,” kata Tjaw.

Bantuan Gas Bumi untuk Pariwisata

Selain industri dan masyarakat (lewat jargas), energi gas bumi juga, kini dinilai dunia pariwisata sangat penting. Dimana, saat ini sektor pariwisata Batam sangat terpukul, karena Covid-19. Setelah sebagian hotel dan restoran di Batam sempat tidak beroperasi karena Covid-19, kini secara berlahan, mulai beroperasi.

Dengan pengoperasian itu, dampak kehadiran gas bumi, kini dirasakan lagi, oleh hotel, resort dan restoran di Batam. Dimana, sejumlah hotel dan restoran di Batam, menggunakan gas bumi, untuk mendukung kegiatan di dapur. Seperti restoran Seafood Bay City di Pelabuhan Internasional Harbour Bay, Batam, hotel dan Harris Resort, Restoran Seafood Jembatan I Barelang dan lainnya.

Kemudian, dukungan gas bumi sebagai energi murah dan efisien digunakan, juga dirasakan laundry-laundry di Batam. Laundry menjadi usaha pendukung penting bagi usaha utama pendukung pariwisata. Laundry-laundry di Batam menerima orderan dari hotel, restoran dan spa, untuk cuci dan setrika selimut, sprei, handuk dan sarung bantal. Untuk mendukung pengoperasikan mesin cuci dan setrika, kini sejumlah laundry di Batam, memanfaatkan gas bumi dari PGN.

Diantaranya, dua unit usaha laundry Edelweiss dan Laundry Kla Wash. Usaha laundry ini menjadi langganan hotel, restoran, spa hingga tenaga kerja asing (TKA) di Batam. Gas bumi dimanfaatkan untuk cuci dan setrika sprei, bed cover, selimut, handuk, hingga pakaian. Laundry Kla Wash yang beralamat di Ruko Bukit Golf Sei Panas, Batam, merupakan pelanggan Gaslink pertama di Batam.

Baca Juga :  Di Tanjungpinang, Justru Mubazir

Gaslink didistribusikan PGN melalui PT Gagas Energy. Sementara Laundry Edelweiss yang beroperasi di lantai dasar, Hotel Best Western Panbil (BWP) di kawasan Panbil Industrial Park, Mukakuning, Batam, menikmati gas bumi lewat pipa gas. Pemilik Laundry Kla Wash, Abdul Maliq mengakui, usahanya menggunakan gas bumi untuk pengering dan flatwork ironer atau roll setrika.

Mereka menikmati Gaslink menggunakan teknologi gas transportation module (GTM) dalam bentuk Compressed Natural Gas (CNG) atau Gaslink. Sebagai pemilik usaha, Maliq merasa beruntung karena terbantu dengan harga gas bumi yang lebih efisien dan efektif. Sebelum Gaslink, usahanya yang masuk kategori usaha mikro kecil menengah (UMKM), menggunakan elpiji subsidi.

”Waktu menggunakan elpiji subsidi. Kita kadang kurang enak hati juga pakai subsidi. Tapi itu pun, distribusi sering macet, karena kelangkaan. Kalau sudah akhir pekan, hari libur serta hari raya keagamaan, kami kerap kesulitan mendapat gas subsidi,” cerita Maliq

Kini dengan gas bumi, distribusi berjalan lancar. Setiap hari, gas bumi yang digunakan, sekitar 100 bar per hari, atau sekitar 3 ribu bar per bulan. Dengan harga sekitar Rp25 juta per bulan. ”Kalau menggunakan elpiji non subsidi, kami berat. Biaya tinggi. Sekarang dengan gas bumi kami tenang dan dimudahkan,” katanya.

Pengalaman yang tidak jauh berbeda juga dirasakan pengelola Laundry Edelweiss. Usaha laundry ini menikmati gas bumi, melalui jaringan pipa gas, yang disalurkan PGN, ke kawasan industri Panbil. Di kawasan itu, selain industri dan hotel ada juga apartemen, villa, mal, ruko dan restoran.

Kehadiran Laundry Edelweis sangat bermanfaat untuk kawasan terpadu itu. Sehingga, orderan yang diterima tidak hanya dari hotel. Namun juga dari penghuni villa Panbil dan apartemen. Untuk hotel BWP, biasanya orderan mulai selimut, sprei, handuk dan sarung bantal mereka terima.

Demikian dengan orderan dari apartemen dan penghuni Villa Panbil. Selain dari kawasan itu, orderan dari luar kawasan terpadu itu, juga diterima dari hotel-hotel kecil atau non bintang dan usaha spa di Batam. Sehingga, untuk mengerjakan orderan cuci dan setrika, Laundry Edelweis kerap beroperasi 24 jam.

”Terutama hari Sabtu dan Minggu, kita beroperasi 24 jam, untuk mengerjakan orderan. Kita terbantu karena dukungan gas bumi yang didistribusikan PGN,” kata Manager Laundry Edelweiss, Muhlis.

Diakui Muhlis, sebelum menggunakan gas bumi, laundry itu menggunakan elpiji nonsubsidi 50 Kg. ”Dibanding menggunakan gas tabung (elpiji), kami hemat 30 sampai 40 persen. Itu lumayan besar,” imbuh dia.

Muhlis memperlihatkan data penggunaan gas bumi dan biaya yang dikeluarkan. Biaya yang harus dibayarkan per bulan, pada tahun 2017 sekitar Rp20 juta-an. Kemudian tahun 2018, pembayaran mereka naik sekitar Rp26 juta-an per bulan. Sementara tahun 2019, seiring pertumbuhan pelanggan mereka hanya bayar Rp28.953.647 per bulan.

Optimis Usaha Pariwisata Bangkit

Dukungan gas bumi untuk sektor pariwisata dan usaha pendukungnya, diapresiasi Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Batam, Ardiwinata. Batam sudah di atas target atau 107 persen dari target mereka.

”Energi murah, mudah dan terbarukan, seperti gas bumi ini penting. Ini salah satu dukungan untuk menjawab tantangan dunia pariwisata di tengah ancaman Covid-19 saat ini,” kata Ardi.

Baca Juga :  Kota Palembang Diselimuti Kabut Asap

Ardi berharap, sektor pariwisata bisa mulai pulih tahun 2020 ini. Dimana, dari data yang disampaikan Ardi, dari data BPS Batam, wisman Batam, pada Juni 2020, hanya 1.785 orang. Turun drastis dibanding Juni 2019, sebanyak 175 ribu orang. Demikian dengan wisman yang masih tinggi di awal tahun 2020. Dimana, Januari 2020 tercatat 156.752 jiwa, Februari 95.256 dan Maret 43.564 jiwa.

”Mudah-mudahan Singapura dan Malaysia normal. Demikian Batam dan Indonesia, sehingga semua sektor usaha pariwisata dan usaha pendukung, bergairah dan normal kembali,” harap Ardi atas dunia pariwisata Batam, yang sempat menududuki peringkat kedua Indonesia, terbanyak didatangi wisman, pada tahun 2019 lalu.

Sementara Sales Area Head PT Perusahaan Gas Negara (PGN) Tbk Batam, Wendi Purwanto mengatakan, UMKM, industri dan usaha kepariwisataan, menjadi pasar gas bumi terbesar di Batam. Dukungan gas bumi itu juga diharapkan, membantu daya saing industri dan pariwisata Batam dengan negara tetangga. Baik Singapura, Malaysia, Thailand dan Vietnam.

”Energi yang murah dari PGN ini mudah-mudahan bisa menjaga industri bertahan, investasi meningkat, restoran dan hotel tetap bangkit kembali,” harap Menarik untuk menjadikan PGN tetap kompetitif,” kata Wendi.

Selain distribusi gas bumi dengan pipa, gas bumi didistribusikan dengan Gaslink. Tiga unit gaslink truk ukuran 10 feet dan satu unit ukuran lima feet dioperasikan. Peran untuk menyuplai gaslink, dilakukan PT Gagas Energi. Sementara distribusi gas melalui pipa gas maupun gaslink, dikontrol PGN melalui sistem online, yang didukung Gascom.

”Jadi setiap saat bisa kami pantau distribusi gas di Batam,” ujar Wendi.

Kata dia, pemanfaatan gas bumi di Batam terus meningkat, sebelum Covid19 menyerang. Pada tahun 2019, konsumsi gas bumi di Pertumbuhan volume penggunaan naik 9 persen dibanding tahun 2018. Sementara sambungan untuk retail, sudah sekitar 4.776 pelanggan.

Angka itu belum termasuk gas bumi yang disalurkan untuk pembangkit listrik Bright PLN Batam, Kawasan Industri Batamindo, Panbil, Tunas Karya dan kawasan industri lain di Batam. ”Konsumsi gas bumi di Batam, baik retail dan pembangkit listrik Bright PLN Batam, sekarang sudah mencapai rata-rata 70 BBTUD per bulan. Sementara target, 65 BBTUD,” kata Wendi.

Wendy mengatakan, walau ada ancaman virus Corona (Covid-19), namun mereka tetap melakukan upaya untuk penetrasi pasar. Titik pasar untuk dunia wisata Batam, dilakukan di Nagoya, Batam Center dan Harbour Bay dan Barelang. PGN juga memberikan dukungan terhadap area komersial (bisnis) di Batuaji dan Kawasan Bisnis Fanindo, Sagulung, Batam. Juga retail, yang mencakup restoran dan hotel, di Batam.

”Jumlah gas bumi yang mereka komsumsi, sama dengan LPG sebelumnya. Tapi karena harga gas bumi jauh lebih murah, maka mereka hemat banyak,” bebernya.

Pernyataan itu diperkuat Direktur Komersial PT PGN Tbk, Faris Aziz. kata dia, merebaknya pandemi Covid-19 berdampak cukup signifikan pada operasional dan bisnis PGN. ”Tapi kami tetap komitmen untuk terus melayani kebutuhan gas bumi dan meneruskan pembangunan infrastruktur termasuk layanan konsumen,” tegas Faris.

Faris mengatakan, pemetaan dan peninjauan calon-calon pelanggan PGN terus dilakukan, dengan menerapkan SOP protokol Covid-19. PGN tetap berusaha untuk menjangkau wilayahwilayah ekonomi baru yang memiliki potensi ekonomi yang baik, termasuk menjaga pertumbuhan infrastruktur gas bumi.

”Harga gas bumi yang disalurkan PGN sangat kompetitif. Tingkat efisiensi yang dihasilkan gas bumi akan mampu mendorong daya saing ekonomi menjadi lebih baik,” janjinya.*

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here