Gas, Solusi Bersaing di Pasar Internasional

SENYUM MEREKA DI BALIK EKSPOR VALVE

0
272
Petugas PGN saat mengecek stabilitas gas bumi disela-sela aktivitas karyawan PT Tomoe Valve Batam. f-martua/tanjungpinang pos

”Kami tidak sibuk lagi cari gas jika tabung gas 50 kilogram langka. Biaya kami juga hemat. Biasanya habis 250 tabung gas per bulan atau seharga Rp290 juta. Sekarang dengan gas bumi dari PGN, hanya sekitar Rp100 juta lebih per bulan. Daya saing produk kami di pasar ekspor lebih baik. Benefitnya banyak, ada kepastian harga dan pasokan terjamin,” ujar Herguntata Agus, Asisten Manager PT Tomoe Valve Batam.

Laporan : MARTUA BUTAR-BUTAR, Batam

Saat mendekat ke kawasan industri Latrade Industrial Park, Tanjung Uncang, Batam, deru mesin terdengar sayup-sayup, pertanda aktivitas perusahaan didalamnya berjalan. Hanya ada beberapa security yang berjaga di pos pintu masuk kawasan industri itu.

Di kawasan industri seluas 60 hektar yang berdiri sejak tahun 2000 itu, sebanyak 26 hektar sudah diisi pabrik/ industri. Tidak terlihat ruko atau mal, seperti Batamindo Industrial Park dan Panbil Industrial Park, di Mukakuning, yang terintegrasi dengan kawasan bisnis.

Diantara gedung di Latrade Industrial Park, salah satunya yang ditempati PT Tomoe Valve Batam, di Blok F2, sejak tahun 2007 lalu. Saat memasuki gedung yang pintu terbuka lebar ini. Semua kegiatan karyawan terlihat dengan jelas, karena tidak ada sekat atau dinding yang membatasi antar divisi. Sehingga setiap mesin produksi yang beroperasi di perusahaan investor Jepang ini, terlihat dengan jelas.

Terlihat karyawan yang merangkai komponen untuk valve atau katup. Tidak jauh dari meja itu, beberapa karyawan menyemprot cat, untuk mewarnai katup yang sebagian besar di ekspor itu. Katup yang tadinya berwarna perak, disemprot cat warna hijau tua, dengan mesin painting. Sebagian lain merangkai komponen atau elemen pendukung katup itu. Sebagian sekitar tiga orang karyawan lain, membersihkan katup yang baru dibentuk, namun belum di cat.

Mereka bekerja dengan tenang diantara katup yang 90 persen diekspor, dengan pasar terbesar, ke Jepang. Selain ke negara pemilik perusahaan itu, ada juga ke Taiwan, Singapura, Philippina, Thailand, Cina dan Amerika Serikat itu. Sementara untuk pasar Indonesia, hanya sekitar 10 persen.

Aktivitas karyawan belakangan ini berjalan lebih tenang. Tidak ada lagi kepanikan karena kehabisan gas. Tidak ada lagi suara melengking meminta tabung gas diganti. Kini, senyum kebahagiaan keluar dari balik masker penutup hidung dan mulut yang digunakan karyawan. Mereka kini menikmati semburan gas, masuk ke mesin produksi yang membantu mencairkan batangan-batangan timah‎ hingga dibentuk menjadi valve.‎

Diantara para karyawan itu, empat orang terlihat berjalan berlawanan arah, sambil mendorong keranjang atau trolli berisi valve yang baru diproduksi. Ada juga yang mendorong trolli, berisi batangan timah.

Batangan timah itu merupakan bahan baku, yang terlihat dibawa ke mesin produksi di sudut kiri gedung. Disana timah dilebur melalui die casting dan dimasukkan ke rongga cetakan, untuk dibentuk menjadi katup. Katup itu kemudian dikeluarkan ke meja untuk dibersihkan dan dipindahkan ke trolly.

“Sekarang energi untuk melebur timah dan mengeringkan katup yang baru dibentuk, sudah pakai gas (bumi) dari PGN,” Asisten Manager PT Tomoe Valve Batam, Herguntata Agus, Rabu (17/10/2018), saat ditemui di ruang produksi perusahaan itu.

Aktivitas mesin produksi berjalan, mengubah batangan timah menjadi cairan putih sebelum berubah wujud jadi valve. Sambil memperhatikan aktivitas anak buahnya, Agus menunjuk ke arah dinding dekat mesin die casting. Disana melekat didinding, pipa warna kuning.

Tidak berselang lama, seorang pria berseragam kerja warna oranye, berjalan menuju mesin die casting. Kemudian menekan tombol manometer atau alat pengukur tekanan gas ditangannya. Dipunggung seragamnya, tertulis PGN solution action for exellence.

“Itu pipa gas bumi-nya. Kami sekarang berlangganan gas dari PGN. Jadi tidak sibuk lagi mengganti tabung gas. Itu petugas PGN. Ngecek stabilitas tekanan gas,” katanya sambil melempar senyum.

Efisiensi biaya dan efektivitas waktu karyawan sudah dirasakan karyawan perusahaan ini. Pengecekan yang rutin dilakukan petugas PGN untuk mendukung aktivitas produksi PT Tomoe, menambah kenyamanan dan kelancaran produksi. “Lebih nyaman pakai gas pipa ini. Tak repot dan tak perlu takut tabungnya meledak,” kata seorang karyawan yang masih menggunakan masker sambil berlalu.

Agus yang mendengar, hanya melemparkan senyumnya. Maklum, sekitar 10 tahun perusahaan yang mempekerjakan sekitar 220 orang karyawan itu, menggunakan elpiji. Setiap minggu, mereka menghabiskan 70 lebih atau sekitar 250 tabung gas elpiji berkapasitas 50 kg, per tabung.

“Perusahaan harus mengeluarkan biaya untuk elpiji sekitar Rp290 juta per bulan. Per bulan, habis sekitar 250 tabung gas (elpiji). Kalau dihitung pertahun lumayan besar hematnya,” bebernya.

Selisih pengeluaran perusahaan untuk belanja gas dirasakan, setelah menggunakan gas bumi. Sekarang perusahaan hanya mengeluarkan sekitar Rp100 juta-an per bulan. Jika dihitung per tahun, efisiensi mereka bisa lebih Rp1 miliar. Perusahaan hemat Rp100 jutaan perbulan. Hemat sekitar 40 persen dibanding biaya bahan bakar gas tabung.

Pengeluaran perusahaan itu berubah, setelah 1 Oktober 2018, mereka mulai berlangganan gas bumi. Berlangganan gas bumi, setelah jaringan pipa masuk wilayah itu, tahun 2017 lalu. Kemudian, manajemen PT Tomoe menandatangani kontrak kerjasama dengan PT ‎PGN. Kesepakatan kerjasama itu, terkait pasokan gas bumi sebesar 350 sampai 1.750 MMBtu per bulan.

Pemanfaatan gas bumi itu tidak hanya membuat perusahaan lebih efisien dari biaya. Tapi lebih efektif dari sisi produksi. Karyawan bekerja lebih efektif, karena tidak sibuk mencari gas, terutama saat ada kelangkaan gas. Kondisi yang berbeda dirasakan karyawan dan manajemen, saat pakai elpiji.

PGN lewat gas bumi memberikan kepastian distribusi gas yang konsisten sepanjang waktu mereka membutuhkan. Benefit (manfaat atau keuntungan) ini menambah daya saing PT Tomoe di pasar internasional. Selain lebih murah dari harga eceran tinggi (HET) elpiji, harga gas bumi stabil dan tidak terganggu permainan pasar.

“Benefitnya, mulai stabilitas pasokan, tarif kompetitif, serta kepastian harga. Gas bumi membantu kami dari‎ fluktuasi pasar dan mengurangi risiko kelangkaan,” tegasnya.

Karyawan berharap, orderan mitra terhadap produk mereka akan meningkat. Sehingga bisa menambah jam kerja atau over time (OT) karyawan. “Dampak gas bumi ini tak hanya perusahaan, tapi kesejahteraan karyawan. Kalau orderan nambah, OT tambah, kantong karyawan makin tebal” ujar Agus.

Gas dari PGN, kini menjadi energi tidak terpisahkan dari PT Tomoe Valve, untuk  menghasilkan katup rubber lining, double offset dan triple offset, hingga seri unggulan 700G. Mereka lebih optimis menatap pasar ekspor katup, dengan sekitar 30 ribu per bulan, yang digunakan industri minyak dan gas, petrokimia, air bersih, perkapalan, bangunan bertingkat dan lainnya.

Penyumbang devisa untuk Indonesia ini, meyakini gas bumi menambah daya tarik Batam bagi investor. “Program-program pemerintah seperti energi murah ini, jadi insentif dan daya tarik industri Batam. Ini akan membantu industri berkembang lagi dan devisa negara naik dan harapan kami tentu karyawan makjn sejahtera,” harap Agus.

–  Jaga Daya Saing Industri
‎PT Tomoe, hanya satu dari 4.842 pelanggan gas bumi, milik PGN di Batam. Selain perusahaan itu, masih ada 93 perusahaan lain yang menjadi pelanggan industri dan komersil, PGN. Ada juga 29 pelanggan kelompok industri kecil, serta 4.720 pelanggan rumah tangga. Diantara pelanggan itu, ada kawasan industri seperti Batamindo Industrial Park di Mukakuning, Kawasan Industri Panbil di Mukakuning serta Kawasan Industri Tunas, Batam Centre, Batam.

Kawasan Industri Batamindo yang memiliki pembangkit listrik atau power plant sendiri, menghasilkan daya hingga 125 Mega Watt (MW). Sebagai bahan bakar, mereka gunakan gas bumi (BBG) sekitar sekitar 11.800 MMBTU per bulan. Mereka mengakui efisiensi biaya dengan gas bumi. Kawasan Industri Batamindo merasakan, penggunaan gas bumi untuk listriknya, bagian promosi kawasan industri Batamindo juga.

“Gas bumi PGN ini efisien, ekonomis dan ramah lingkungan,” ungkap Manager General Affair PT Batamindo Investment Cakrawala, pengelola Batamindo Industrial Park, Tjaw Hoeing.

– Bantu Pertumbuhan Ekonomi
Mencermati perkembangan pengguna gas bumi di Batam,  Kepala Perwakilan BI Kepri, Gusti Raisal Eka Putra, mengapresiasi. Tidak hanya industri, namun juga apresiasi untuk rumah tangga hingga taksi dan mobil dinas yang menggunakan gas bumi. Direkomendasikan pemanfaatan gas bumi lebih banyak di Provinsi Kepri, terutama Batam.

Diharap gas bumi mengurangi inflasi dan membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Batam yang sempat naik jadi 4,51 persen (yoy) triwulan II tahun 2018. Terlebih pada triwulan III tahun 2018, ekonomi Kepri turun jadi 3,47 persen. Sementara target tahun 2019, ekonomi Kepri tumbuh jadi 7 persen, seperti tahun 2015. Semakin banyak pakai gas bumi, dapat menjaga PDRB (Pendapatan Domestik Regional Bruto). Terlebih perusahaan di Batam, merupakan perusahaan berorientasi ekspor.

BI Kepri juga merekomendasikan pemanfaatan bahan bakar gas (BBG) sebagai bahan bakar kendaraan massal dan mobil dinas lebih banyak. Inflasi yang terjadi tahun 2018 ini, salah satunya disumbang harga bahan bakar minyak (BBM). Dimana disebutkan, selisih antara BBM dan BBG hampir setengah.

“Hitungan harganya beda. Tapi kalau harga BBM dan BBG per satuan dikonversi, hampir setengah selisih harga. jadi, perlu mendorong kendaraan di Kepri gunakan BBG,” himbaunya.

Harapan dan permintaan juga disampaikan Wakil Wali Kota Batam, Amsakar Achmad dan Gubernur Provinsi Kepri, Nurdin Basirun. Keduanya meminta agar jaringan distribusi gaa bumi diperluas. Diyakini, gas bumi untuk masyarakat, UMKM dan industri, berdampak pada pertumbuhan ekonomi.

“Minta agar jaringan gas bumi dari Natuna dipercepat. Itu untuk ekonomi kita,” pesan Amsakar.

Demikian dengan Gubernur Kepri, Nurdin Basirun yang meminta diberikan akses Kepri mendapatkan gas langsung dari Natuna. Sambungan gas melalui pipa West Natuna Transmission System (WNTS)‎ ke Batam, diharap segera terealisasi. Saat ini, walau jarak Pemping ke Batam hanya sekitar 3 km, namun sambungan pipa tidak kunjung terwujud.

“Batam bisa mendongkrak ekonomi Kepri dan Indonesia. Tapi butuh dukungan gas. Harusnya, pasokan gas dari Natuna didukung masuk Batam. Tapi sampai sekarang, hanya melintasi aja,” imbuh Nurdin.‎

Saat tatap muka dengan karyawan atau pegawai PGN di Batam, Direktur Utama (Dirut) PGN Tbk, Gigih Prakoso,‎ menilai potensi industri di Batam untuk berlangganan, sangat besar. Tidak hanya industri dan kawasan industri manufaktur yang sudah berlangganan. Namun juga untuk galangan-galangan kapal, sehingga mendorong kapal-kapal yang beroperasi di Selat Malaka, bisa menggunakan gas.‎‎

“Minta, potensi industri untuk berlanggan, besar. Termaksud untuk konversi BBM ke gas. Kami akan pelajari untuk ditindaklanjati. Ini potensi mendorong pertumbuhan ekonomi kita,” kata Didik.

Sales Area Head PGN Batam Amin menilai reaksi itu, gambaran gas bumi semakin menarik dan dibutuhkan. Pemanfaatan gas, akan semakin signifikan membantu pertumbuhan ekonomi. Kebijakan fiskal lewat status fre‎e trade zone (FTZ) saja, tidak cukup untuk menopang pertumbuhan industri.

“Perlu jaminan ketersediaan bahan bakar yang murah dan kami akan membantu,” kata Amin.

Dukungan gas bumi semakin besar, karena gas disalurkan dua kali lebih besar dari tahun 2016. Saat ini, PGN mendapatkan pasokan gas melalui Conoco Philips I, II dan IDLP. Dimana, portofolio pengolaan gas PGN untuk area Batam, sebanyak 39 BBTUD atau sebesar 58 persen untuk PLN-IPP Batam. Selain itu, retail- kelistrikan untuk kawasan industri sebesar 16 BBTUD atau 24 persen dan retail-industri sebesar 12 BBTUD atau 18 persen.

“Kami ingin membantu mendorong pertumbuhan ekonomi Batam, sekaligus mewujudkan green city di Batam. Untuk WNTS, mudah-mudahan segera terwujud,” harap Amin.

Komitmen itu juga ditegaskan Division Head Coporate Communication PT PGN, Desy Anggia‎ di Batam. Pihaknya membantu Provinsi Kepri masuk tahap konversi energi ke gas bumi. Mulai peralihan pembangkit dari BBM menjadi gas. Tidak hanya Batam  namun termaksud di Kabupaten perbatasan seperti Lingga, Anambas dan Natuna, selain Karimun yang sudah berjalan saat ini.

“Jika tidak bisa melalui pipa, kita kirimkan dalam bentuk compress natural gas (CNG),” imbuh Desi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here