Gemuruh Sunyi di Museum Tsunami

0
48

PERTEMUAN Penyair Nusantara 2016 lalu di Meulaboh juga membawa saya ke Museum Tsunami di Banda Aceh. Sambang ke museum pada sebuah kota, kata aktor Brad Pitt, adalah upaya mengenal lebih dalam lagi kota tersebut. Saya manut. Dan, selangkah dari pintu masuk di museum rancangan Ridwan Kamil itu, saya tahu ada sesuatu yang memang harus disempatkan oleh siapa pun untuk berkunjung ke Museum Tsunami setiba di Tanah Rencong.

Kebetulan sedang akhir pekan. Pelancong dari dalam dan luar negeri jamak terlihat. Sebagian besar dari mereka mengabadikan kunjungan ini dengan berfoto-foto dan mencatat sekenanya. Walau begitu, sensasi yang disajikan museum ini berbeda dengan museum kebanyakan. Terlebih ketika memasuki lorong dengan sisi kanan-kiri kucuran air yang tempias sampai ke badan dan diiringi musik latar gemuruh ombak yang menderu-deru. Cekam sabda alam 14 tahun lalu seolah hadir dalam ruang sensori sekujur badan.

Kelakar tawa yang saya kantongi sepanjang perjalanan Meulaboh ke Banda Aceh sekonyong-konyong sirna. Berganti sunyi. Bergulung-gulung dan bergemuruh sunyi dalam diri. Nama-nama korban yang terpahat di dinding, benda-benda yang bertinggal, diorama ombak raksasa, adalah narasi sunyi yang lantang dan seketika bercerita dengan suasana gemuruh.

Selanjutnya, saya merasa ada lelah dan haru yang beraduk campur jadi satu. Semua itu hanya dapat terbungkus Alfatihah panjang yang tak putus-putus dalam sepenarikan napas.***

FATIH MUFTIH,
Pejalan, penulis, pembaca, dan pengopi.
Berkarya untuk Tanjungpinang Pos Minggu.
Blognya mahafatih.wordpress.com.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here