Genjot Ekspor, Mengakselerasi Pertumbuhan Ekonomi

0
822
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Bekerja di BPS Provinsi Kepri

Di tengah-tengah perekonomian Kepri yang sedang melesu saat ini, dibutuhkan kreativitas untuk menggali potensi-potensi internal yang dapat diberdayakan untuk bisa menggenjot kembali laju perekonomian Kepri.

Hal ini diperlukan agar lokomotif pembangunan dapat digerakkan dan diarahkan menuju visi Pemprov Kepri yang telah ditetapkan, yaitu ‘Terwujudnya Kepulauan Riau sebagai Bunda Tanah Melayu yang Sejahtera, Berakhlak Mulia, Ramah Lingkungan, dan Unggul di Bidang Maritim”.

Kesejahteraan yang diangan-angankan Gubernur Kepri melalui RPJMD-nya bisa terwujud bilamana mesin penggerak roda perekonomian, yaitu pertumbuhan ekonomi (PE) berada pada kondisi bugar.

Untuk itu, perlu terobosan-terobosan baru oleh para pemangku kebijakan/kepentingan guna untuk mendapatkan suplemen kebugaran perekonomian. Dalam konteks ini, potensi ekspor dapat menjadi suplemen dimaksud.

Keterkaitan antara ekspor dan pertumbuhan ekonomi telah banyak didiskusikan dalam literatur. Beberapa hasil penelitian menyimpulkan bahwa ekspor mempengaruhi pertumbuhan eknomi secara positif dan beberapa lainnya malah sebaliknya, yaitu pertumbuhan yang mendorong ekspor.

Thesis yang terakhir, berangkat dari argumentasi bahwa dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan mendorong produktivitas dan pada gilirannya akan mendorong pertumbuhan ekspor.

Berbeda dengan argumentasi di atas, beberapa hasil penelitian, misalnya hasil studi World Bank tahun 1993 di negara-negara Asia Tenggara dan terutama di negara ”the Four Tigers”, yaitu Hong Kong, Taiwan, Singapore, dan Korea Selatan,menunjukkan bahwa ekspor merupakan mesin pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut sebagai dampak dari pasar bebas yang mereka berlakukan.

Berangkat dari pengalaman ini, Kepri harus menjadikannya sebagai referensi strategis untuk menggenjot ekspor Kepri yang dari waktu ke waktu menunjukkan penurunan. Seperti dijelaskan di atas bahwa dengan mendorong ekspor akan dapat mengakselerasi pertumbuhan ekonomi yang pada gilirannya mendorong perekonomian suatu negara atau wilayah.

Dalam upaya untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi, tentunya harus pertumbuhan yang inklusif, yaitu pertumbuhan yang mampu menciptakan lapangan kerja, mengurangi kemiskinan, dan meningkatkan pemerataan.

Dengan ekspor yang meroket akan meningkatkan permintaan terhadap produk-produk bukan saja hasil sektor manufaktur tetapi juga hasil pertanian dan pertambangan.

Lebih jauh, ekspor akan mendatangkan devisa yang secara otomatis akan memperkuat neraca pembayaran (balance of payment) dalam negeri.

Bila diperhatikan dari waktu ke waktu, tren ekspor Kepri terus menunjukkan penuruan terutama sejak 2013 dengan nilai ekspor USD 16.769 juta hingga USD 10.855 juta pada 2016.

Hal ini terjadi karena terlalu bertumpu pada hasil ekspor industri manufaktur yang notabene mengalami penurunan cukup signifikan, yaitu dari 10 jutaan USD pada 2013 ke angka 8 jutaan USD pada 2016.

Menurunnya ekspor Kepri, tidak terlepas dari menurunnya komoditas impor Kepri yang merupakan penopang industri manufakur. Dampaknya, produksi industri pengolahan mengalami penurunan yang notabene kontribusinya terhadap ekspor Kepri relatif cukup besar, yaitu antara 60 s/d 77 persen dalam 5 tahun terakhir.

Bila dicermati lebih jauh ada 10 komoditas unggulan utama Kepri yang cukup signifikan dalam mempengaruhi eskpor Kepri dan perlu mendapat perhatian.

Golongan komoditas tersebut adalah mesin/peralatan listrik, mesin-mesin/pesawat mekanik, minyak dan lemak hewan/nabati, berbagai produk kimia, benda-benda dari besi dan baja, kokoa/cokelat, perangkat optik, timah, kendaraan dan bagiannya, dan kapal laut. Secara rata-rata besarnya kontribusi dari kesepuluh kelompok barang tersebut mencapai 80 persen per tahun.

Secara spesifik, ada 4 komoditi unggulan yang tentunya boleh menjadi prioritas bagi Pemerintah Daerah (provinsi dan kabupaten/kota) untuk diperhatikan dan didorong produksinya dalam upaya mengakselerasi ekspor Kepri.

Keempat komoditi tersebut adalah minyak dan lemak hewan/nabati, kapal laut, kokoa/cokelat, dan ikan/udang. Ekspor keempat komoditi ini terus mengalami penurunan terutama dalam 4 tahun terakhir. Padahal potensinya terutama ikan/udang, cukup dahsyat di bumi bersemboyan “Berpancang Amanah Bersauh Marwahâ” ini.

Khusus untuk komoditi ikan dan udang, sebetulnya sungguh luar biasa potensinya di perairan Kepri yang luasnya 95 % dari total wilayah Kepri, tapi belum mendapat perhatian serius.

Di sepanjang perairan Kepri kelihatannya potensi ikan dan udangnya berkelimpahan yang ditandai dengan tidak jera-jeranya kapal-kapal illegal fishing asing (Vietnam, Malaysia,Thailand, Filippina, dll.)

berdatangan ke perairan Natuna dan Anambas walaupun sudah banyak yang ditenggelamkan. Sejak Oktober 2014 sudah ada sejumlah 317 kapal illegal fishing yang telah ditenggelamkan oleh Menteri Kelautan dan Perikanan. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk mendongkrak produksi ikan/udang Nasional secara umum dan Kepri secara khusus untuk tujuan ekspor.

Secara empiris, peran ekspor ikan/udang masih sangat kecil terhadap total ekspor Kepri, yaitu kurang dari 1 persen. Secara nilai, berfluktuasi antara 18 s/d 28 juta USD selama tahun 2011 -2017 dan kecuali pada 2015 pernah mencapai 69 juta USD.

Fenomena ini membuktikan bahwa potensi ekspor ikan/udang Kepri cukup luar biasa tapi belum dijadikan sebagai salah satu kekuatan ekonomi Kepri.

Dengan telah dibangunnya Tempat Pelelangan Ikan (TPI) di Natunayang notabene merupakan TPI terbesar di ASEAN, diharapkan akan menjadi push factor untuk menggenjot ekspor Kepri dalam upaya mengakselerasi pertumbuhan ekonomi Kepri yang selama ini terlalu tertumpu pada kekuatan industri manufaktur.

Pada gilirannya pertumbuhan eknomi Kepri yang semakin kencang dan inklusif dapat terwujud menuju perekonomian Kepri yang kuat dan sustainable.***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here