Geopark Natuna Sebuah Peluang

0
169
Dedi Arman

Oleh: Dedi Arman
ASN BPNB Kepri

Babak baru dalam upaya menjadikan Natuna sebagai kawasan yang dilirik dunia dimulai. Bupati Natuna Hamid Rizal menandatangani penandatanganan komitmen daerah untuk pengembangan kawasan Geopark Natuna di Jakarta, 23 Oktober 2018 lalu. Ada delapan kabupaten/kota di Indonesia yang juga ingin menjadikan daerahnya menjadi geopark nasional.

Kegiatan digagas Kemenko Kemaritiman dalam acara Penilaian Kenaikan Status dan Evaluasi Geopark Nasional Tahun 2018. Penetapan geopark nasional bagian dari upaya menuju Geopark Unesco yang diakui dunia. Di Indonesia, ada sejumlah geopark nasional, yakni Gunung Batur Bali, Gunung Rinjani, Ciletuh Sukabumi, Kaldera Danau Toba, Gunung Sewu dan Merangin. Empat diantaranya masuk dalam Global Geopark Network (GGN) yang ditetapkan Unesco.

Taman bumi (Geopark) adalah wilayah terpadu yang terdepan dalam perlindungan dan penggunaan warisan geologi dengan cara yang berkelanjutan, dan mempromosikan kesejahteraan ekonomi masyarakat yang tinggal di sana. Dari defenisi ini, yang jadi pertanyaan tentunya apa alasan Natuna layak jadi geoparkn nasional. Natuna memiliki keunggulan sebagai daerah perbatasan. Dengan posisi ini, Natuna selalu jadi pembicaraan. Ada sejumlah potensi besar Natuna untuk jadi geopark nasional.

Potensi Geologi
Natuna memiliki keunikan batuan, mineral dan fosil, dengan bentang alamnya yang indah serta memiliki keunikan geologi. Keunikan-keunikan tersebut dapat dilihat dari keberagaman geologi yang ada di Natuna, seperti Pulau Setanau, Pulau Akar, Pulau Senoa, Tanjung Senibung, Batu Kasah, Gunung Ranai, Tanjung Datuk, Gua dan Pantai Kamak. Sejumlah tempat tersebut sudah teridentifikasi memiliki potensi warisan geologi (Geoharitage). Warisan geologi tersebut dilindungi dan dikelola melalui mekanisme pengembangan kawasan Geowisata untuk kepentingan keilmuan, pendidikan, pariwisata serta dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Kekayaan Hayati
Bentang alam yang luas menjadikan Natuna memiliki keragaman hayati yang berlimpah. Luasnya lautan dengan berbagai ekosistem seperti terumbu karang yang yang mencapai 216 Jenis, ikan 72 jenis, makrozoobhentos yang merupakan hewan avertebrata sebanyak 12 jenis, lamun atau sea grass 3 jenis, dan rumput laut atau seaweeds 4 jenis.

Ada 3 jenis penyu yang merupakan hewan langka dan dilindungi populasinya juga bisa ditemukan di Natuna. Serta hamparan habitat mangrove dengan berbagai jenis terbentang sepanjang pesisir Natuna. Di Natuna terdapat satu jenis satwa yang bernama Kekah, hewan ini merupakan satu spesies kera. Satwa ini hanya ada di Natuna dan susah hidup dan berkembang bila berada di luar Natuna. Di Natuna juga terdapat satu jenis kodok ukuran mini, postur tubuh dewasanya seukuran jari kelingking tangan orang dewasa. Kodok ini bernama latin leptobrachella serasanae. Di Natuna juga ditemukan lima jenis spesies kupu-kupu langka di dunia.

Potensi Sosial Budaya
Laut Natuna Utara adalah perairan maritim dengan jalur pelayaran dan perdagangan yang telah lama dikenal sejak abad ke 6. Perairan ini menghubungkan benua timur dan barat antara Cina dan India atau Timur Tengah. Natuna berada dalam lintasan pelayaran dan perdagangan ini. Sumber daya alam potensial seperti kayu gaharu, dan sumber air tawar memberi peluang menjadikan Natuna sebagai tempat persinggahan. Dalam kronik Cina nama Natuna dikenal sekitar tahun 1430-an dengan sebutan Ma-an-shan yang berarti pulau pelana kuda.

Potensi sosial budaya dibedakan jadi dua, yakni cagar budaya dan nilai budaya. Dalam bidang cagar budaya, laut Natuna dikenal sebagai surganya Barang Muatan Kapal Tenggelam (BMKT).

Perairan Natuna menjadi incaran para pencari barang cagar budaya untuk dijual kepada para penampung. Potensi arkeologi laut yang besar ini jadi andalan Natuna dalam pengembangan wisata bawah air, seperti diving kapal tenggelam.

Sebagai bagian dari perdagangan dan pelayaran global jejaknya juga terekam dalam temuan keramik-keramik di Natuna. Selain itu di Natuna juga banyak situs cagar budaya. Ada Keramat Binjai, Keramat Kuyol, Keramat Pucong, Keramat Panglima Hujan, Bekas Rumah Datuk Kaya Suan, Keramat Batu Merah, Keramat Air Kiyak, Keramat Air Kumbik, Rumah Datuk Kaya Wan Muhammad Benteng, Rumah Besu Wan Mansyur dan Rumah Tua Raja Perani.

Natuna juga memiliki potensi warisan budaya tak benda (WBTB) yang banyak dan beragam. Tiga karya budaya Natuna sudah ditetapkan jadi WBTB Indonesia, yaitu Mendu, Langlang Buana dan Gasing Natuna. Karya budaya lain yang juga khas Natuna adalah Ayam Sudur, Lesung Alu dan Kompang Natuna. Ada sejumlah tradisi yang masih lestari di Natuna.

Diantaranya, tradisi upacara Tepung Tawar yaitu ritual untuk Menolak Bala. Ritus lain yang masih hidup dalam masyarakat Kabupaten Natuna adalah Sedekah Laut di Desa Meliah, Kecamatan Subi. Ada juga Tradisi Kunjungan Muhibbah di Kecamatan Pulau Tiga dan Pulau Tiga Barat. Selain itu ada tradisi membagi Nasi Dong di Kecamatan Serasan. Tradisi lain adalah Beghembeh yang ada di Desa Pengadah, Kecamatan Bunguran Timur.

Bahasa Melayu di Kepri dituturkan dalam 15 dialek. Empat dialek diantaranya berada di Natuna. Dialeknya adalah dialek Arung Ayam di Serasan Timur, Natuna. Dialek Kampung Hilir di Serasan, Dialek Pulau Laut di Pulau Laut, Natuna dan dialek Ceruk di Bunguran Timur Laut, Natuna. Bahasa Melayu Natuna dialeknya berbeda dengan dialek Melayu lainnya di Kepri. Ada 140 ungkapan tradisional yang dimiliki masyarakat Bunguran Natuna. Dalam ungkapan ini setidaknya terdapat 46 nilai.

Kuliner Natuna juga beragam. Ada Kuah Tiga, Kernas, Calok, Latoh Silong dan Tipeng Mando. Selain kuliner, Natuna juga memiliki kerajinan berupa kerajinan pandan. Produknya yang paling terkenal adalah anyaman tikar pandan yang dipasarkan sampai ke Malaysia.

Dengan berbagai potensi ini, Natuna layak dijadikan geopark nasional. Keelokan alam Natuna bisa terlihat dalam film Jelita Sejuba yang menampilkan indahnya bebatuan, gunung, dan panorama alam Natuna. Geopark Natuna dipastikan akan membangkitkan kunjungan wisatawan ke Natuna. Dalam beberapa tahun belakangan, Natuna tenggelam dari segi pariwisata dibandingkan saudara muda, Anambas. Natuna jangan lagi dianggap penting dalam daerah perbatasan dan sisi pertahanan keamanan belaka. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here