Gesa Anggaran Pembangunan untuk Genjot Pertumbuhan Kepri 2019

0
301
Panusunan Siregar

Oleh: Panusunan Siregar
Pemerhati Sosial Ekonomi Kepri

Merujuk pada fakta empiris, sejak 2012 pereokonomian Provinsi Kepri telah menunjukkan perlambatan dari tahun ke tahun hingga mencapai titik nadir pada 2017 dengan pertumbuhan yang hanya sebesar 2,01 persen dan merupakan pertumbuhan terendah sepanjang sejarah Kepri.

Perlambatan ini diperparah lagi dengan tingkat inflasi yang relatif besar dimana angkanya 2 kali lipat dari angka pertumbuhan ekonomi, yaitu sebesar 4,02 persen.

Itu artinya, kondisi perekonomian Kepri berada pada posisi “sudah jatuh ketiban tangga pula”, alias pertumbuhan sudah rendah, tapi inflasinya melambung. Efek dominonya, beban hidup masyarakat, terutama kelompok 40 persen terbawah semakin berat.

Beranjak dari pengalaman berat tersebut BP Batam bersama dengan stakeholders terkait, berkomitmen untuk mendongkrak kembali perekonomian Kepri yang biasanya tumbuh di atas angka nasional, yaitu berada pada kisaran angka enam sampai dengan tujuh persen.

Hasilnya, relatif cukup menggembirakan dimana pertumbuhan ekonomi dalam 3 (tiga) triwulan pertama 2018 sudah berada di atas angka 4 persen, atau secara kumulatif sampai dengan triwulan 3 mencapai angka 4,24 persen, atau lebih dari 2 kali lipat dari pertumbuhan tahun lalu.

Lesson Learn 2018
Sebagaimana telah dirilis oleh BPS Provinsi Kepri, pertumbuhan ekonomi Kepri 2018 sudah mulai rebound yang ditunjukkan dengan mulai pulihnya sektor penggerak utama Kepri yang notabene mengalami keterpurukan selama 2017.

Misalnya, sektor industri manufaktur dengan kontribusi rata-rata 36 persen setiap triwulan, telah tumbuh sebesar 3,90 persen pada triwulan 3 pada 2018 (c to c) yang mana pada tahun sebelumnya hanya tumbuh sebesar 0,75 persen, dan bahkan pada tahun 2016 pun hanya mencapai angka 3,75 persen.

Kemudian, penggerak utama ke-2, yaitu sektor konstruksi dengan besaran kontribusi 18,25 persen telah tumbuh sebesar 7,88 persen yang pada 2017 hanya mencapai angka 4,76 persen.

Hal ini mengindikasikan bahwa investasi dalam pembangunan infrastruktur dan kegiatan-kegiatan ekonomi baru atau perluasan kapasitas di Kepri secara umum dan Batam khususnya, telah bangkit kembali.

Pertumbuhan investasi yang direfleksikan oleh nilai Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) selama 3 triwulan pertama 2018 cukup meroket hingga mencapai angka 10,14 persen, atau 2,8 kali lipat dari capaian 2017 pada periode yang sama dan merupakan pertumbuhan tertinggi dalam 5 tahun terakhir.

Namun demikian ada beberapa hal yang perlu dicermati sebagai lesson learn untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi Kepri pada 2019 yang notabene ditargetkan oleh BP Batam sebesar 7 persen.

Pertama, pertumbuhan sektor industri manufaktur yang walaupun sudah menunjukkan tanda-tanda pemulihan, perlu digenjot lagi agar pertumbuhan di atas angka 6 persen sebagaimana terjadi pada tahun 2015 atau sebelumnya, bisa diwujudkan.

Untuk itu, perlu dorongan investasi baru yang lebih besar lagi pada 2019. Dalam konteks ini, kerja keras, proaktif dan sinergis diantara semua para pemangku kepentingan/kebijakan untuk menjaring dan memikat para calon investor masuk ke Kepri atau Batam, harus menjadi komitmen bersama mulai dari BP Batam, Pemko/Pemkab, dan Pemprov Kepri.

Kedua, anggaran belanja pemerintah daerah yang DIPA (daftar isian pelaksanaan anggaran)-nya telah diserahkan oleh Presiden R.I – Joko Widodo kepada Gubernur Kepri – Nurdin Basirun di Istana Negara pada tanggal 11 Desember lalu dengan nilai sebesar Rp8,902 triliun atau naik 27,2 persen dari tahun lalu, harus dapat dijadikan sebagai stimulan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi Kepri pada awal 2019.

Bila merujuk pada pengalaman pahit 2017, realisasi serapan APBD selama semester I, masih relatif kecil yang menyebabkan pertumbuhan konsumsi pemerintah mengalami kontraksi sebesar 6,18 persen dan berdampak pada pertumbuhan yang sangat lambat, yaitu 1,52 persen.

Tetapi pada semester I/2018, serapannya dapat ditingkatkan yang berujung pada realisasi pertumbuhan sebesar 14,10 persen dan menghasilkan pertumbuhan semester I/2018 sebesar 4,49 persen.

Gesa Penggunaan Anggaran
Bila belajar dari pengalaman empiris tahun-tahun sebelumnya, maka strategi taktis dan praktis untuk dilaksanakan pada semester I/2019 dan terutama pada triwulan pertama adalah menggenjot realisasi serapan APBD dan termasuk APBN yang ada pada instansi-instansi vertikal.

Memang bila dilihat dari sisi besaran, nilai APBD/APBN itu hanya berkisar pada angka 6 – 7 persen. Tetapi sebagai stimulan, pemberdayaan anggaran sebesar Rp8,9 triliun (dana transfer) dan belum termasuk APBN yang ada pada instansi vertikal, harus benar-benar mejadi perhatian serius dari semua pihak-pihak terkait.

Bila tidak, maka kita akan mengulangi kesalahan masa lalu sebagaimana juga terjadi pada triwulan 3/2018 dimana salah satu penyebab melambatnya pertumbuhan ekonomi Kepri ke angka 3,74 persen adalah rendahnya nilai realisasi APBD/APBN pada triwulan 3 yang mengakibatkan pertumbuhan pengeluaran konsumsi pemerintah hanya mencapai angka sebesar 1,13 persen (y on y).

Dengan adanya momentum kampanye Pilpres dan Pileg saat ini yang notabene menggunakan akan menyedot anggaran yang relatif cukup besar baik itu untuk keperluan logistik kampanye maupun konsumsi pelaksanaan kampanye, hendaknya dapat dijadikan sebagai stimulan perekonomian Kepri pada triwulan pertama ini.

Jika hal ini disinergikan dengan akselerasi penyerapan anggaran pemerintah (APBD dan APBN), maka pertumbuhan ekonomi triwulan I/2019 akan dapat digenjot lebih dahsyat lagi guna untuk mencapai target pertumbuhan 6-7 persen pada 2019.

Bila pada triwulan I/2018 realisasi penyerepan APBD/APBN, terutama untuk anggaran belanja modal (infrastruktur) dan belanjabarang/jasa yang masing-masing hanya sebesar 5,41 % dan 10,08 %, maka pada triwulan I/2019 harus mampu ditingkatkan ke angka 15-20 persen.

Untuk tujuan dimaksud, ada 4 hal yang harus menjadi fokus perhatian dari semua stakeholders terkait. Pertama (dari sisi penggunaan), terus mendorong investasi baik baru maupun perluasan kapasitas.

Dalam hal ini, BP Batam telah berkomitmen untuk mengawal realisasi investasi dan termasuk ekspansi usaha melalui peningkatan pelayanan dan mempercepat perizinan serta mengawasi dengan ketat pelaksanaan rencana bisnis perusahaan yang telah mendapatkan Skep atau SPJ (Surat Perjanjian).

Kedua (dari sisi produksi), kebijakan-kebijakan dan program-program aksi/kegiatan para stakeholders, harus diarahkan untuk mendongkrak sektor industri manufaktur terutama subsektor penghasil industri logam dasar, industri mesin dan perlengkapan, industri pengolahan lainnya, jasa reparasi dan pemasangan mesin & peralatannya.

Produk-produk dari subsektor ini adalah untuk tujuan ekspor dan juga memenuhi kebutuhan bahan baku/penolong bagi industri-industri lain yang ada di Batam.

Ketiga (dari sisi konsumen terutama 40 persen kelompok terbawah), adalah menjaga stabilitas daya beli masyarakat melalui pengendalian harga (inflasi) agar potensi demo dari para pekerja sebagai dampak dari tak terkendalinya harga-harga (terutama kebutuhan pokok), dapat dihindarkan.

Dalam hal ini, tim TPID baik provinsi maupun kabupaten/kota bisa ambil bagian dalam menjaga stabilitas inflasi pada level rendah dan BP Batam siap untuk mendukungnya sesuai dengan kewenangan yang ada.

Bahkan untuk mendorong daya beli para pekerja keluarga muda (generasi milenial) dalam hal kepemilikan properti (tempat tinggal/perumahan), stabilitas harga atau kredit yang relatif terjangkau, perlu menjadi perhatian dari para pengembang agar para keluarga milenial yang jumlahnya relatif besar,dapat memiliki rumah/tempat tinggal.

Dalam hal ini perlu ada relaksasi kebijakan perpajakan dan perizinan baik oleh Pemda maupun BP Batam termasuk OJK. Dengan demikian, sektor properti akan tetap tumbuh mantap dan para investor/calon investor pun tetap bergairah untuk berinvestasi.

Keempat (dari sisi pekerja), adalah kerjasama dan partisipasi yang sinergis dari para pekerja dan LSM untuk turut serta membangun kembali kejayaan perekonomian Kepri dan terutama Batam.

Dalam hal ini, kondusifitas dan keamanan berinvestasi di Kepri/Batam harus benar-benar dijaga oleh para pekerja dan LSM agar para investor (terutama asing) tetap melirik Batam/Kepri sebagai tujuan utama untuk berinvestasi dan tidak ke daerah lain seperti Kendal yang telah gencar mempromosikan wilayahnya sebagai tempat berinvestasi nyaman, aman, dan kondusif.

Semoga kebersamaan, kegotong royongan dan keguyuban yang ada pada masyarakat Kepri/Batam selama ini, boleh menjadi modal sosial yang tangguh untuk kita berdayakan dalam mewujudkan target pertumbuhan ekonomi 7 persen pada 2019.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here