Gitar Kenangan

0
518
jembia- GITAR KENANGAN

Cerpen: Seto Permada

Aku telah lama menggantung di sudut ruangan, penuh debu seperti dahulu, seperti seorang manusia, benda mati pun memiliki cerita untuk disampaikan.

Hari ini begitu cerah. Aku menunggu di dalam etalase, menatap jalan yang tak pernah sepi. Aku berada di toko kecil di Pasar Kutoarjo, seperti yang menurut firasatku ada seorang pria dan wanita yang ia cintai akan segera tiba dan membawaku.

Akulah gitar yang dibuat dengan kasar, lalu dijual dengan harga yang kecil. Warnaku cokelat, sama dengan pria itu di dalam mimpiku semalam. Ia datang dengan uang pas, tanpa perlu repot-repot menawar. Dalam mimpiku, ia tidak mengerti cara memainkan benda sepertiku. Ia hanya ingin menyenangkan gadis itu. Kebahagiaan yang tak biasa ini aku ceritakan pada teman-temanku, ada yang ikut senang, ada yang tak ramah.

“Apa kamu yakin, dia akan datang? Toh, itu cuma mimpi,” tanya temanku, sesama gitar.
“Aku sangat yakin.”
“Selamat, ya Kawan. Mudah-mudahan aku segera menyusulmu,” ucap Biola yang dipatok harga tinggi karena ia di dunia manusia dianggap benda antik peninggalan seorang pemain biola terkemuka, begitulah katanya. Namun hingga kini belum laku-laku.

Aku adalah gitar akustik. Panjangku sekitar satu lengan manusia, aroma kayuku masih khas dan menyengat. Tiada hari tanpa menunggu pemilik baru, yang akan merawat dan memainkanku. Kesabaran, dan harapan tak henti-hentinya kurajut. Sampai sedikit penyetel senarku mengalami penuaan atau yang disebut karatan.

Untunglah tidak lama, kudengar suara sesuatu menghentak lantai trotoar, berjumlah empat kaki. Kuyakin mereka datang, sepasang manusia yang bukan kekasih. Bisa kudengar dari detak jantungnya yang bunyinya merambat dibawa angin dan getaran lantai. Bagaimana sebuah gitar bisa mendengar?

“Sebentar lagi ada yang datang. Lihat,” kata drum.

Toko itu menjual banyak sekali alat musik: mulai dari berbagai jenis gitar, drum, piano, terompet, seruling, harmonika, saksofone, dan yang lain. Namun sebab perawatannya yang amat kurang, sangat jarang ada pengunjung yang bertandang. Aku beruntung sekali. Sebentar lagi, mereka datang dan menyerahkan uang pada Mpok Satiem.

Benarlah, semenit kemudian, laki-laki itu datang ke toko tempatku. Namun, warna kulitnya hitam. Bukankah semalam cokelat? Ah, pasti bukan dia. Dan juga gadis itu, sama hitamnya dengan pria di sebelahnya. Ia memanggil-manggil, bibirnya tebal. Dengan sigap Mpok Satiem keluar dari ruang dalam yang biasa dipakai untuk menonton televisi. Membunuh waktu.

“Mau cari apa, Dik?”
“Ada gitar akustik tidak, Bu?”
“O, ada. Mau pilih yang mana, Dik?”

Kulihat laki-laki itu bingung. Aku juga bingung. Apa benar, dia yang berada dalam mimpiku? Harapan yang surut pasang kembali. Segera kualihkan pikiranku. Ia berjalan mendekatiku. Sekejap beralih ke arah lain. Peristiwa seperti ini sering aku lihat di layar televisi yang menyala terpampang di atas meja kasir pada suatu malam-malam, seorang pria berjalan seolah bingung untuk menentukan pilihannya. Ia hanya berlagak bingung, dan wanita-wanita cantik hampir semuanya berharap terpilih. Ada juga yang tidak berselera dan mematikan lampu agar tak dipilih. Tapi aku bukan seorang wanita, entah apa jenis kelaminku di dunia gitar. Semenjak aku dibuat, penciptaku tidak memberiku nama dan jenis kelamin, tidak seperti tumbuhan dan hewan.

Dia memutuskan untuk bertanya saja pada wanita di sebelahnya, gitar mana yang akan dipilih. Aku baru menyadari betapa tingginya darah dalam aliran jantungku ini. Aku harus bersaing untuk mendapatkan tempat dengan gitar sejenisku. Gitar di bawahku tersenyum licik. Gitar itu sengaja tubuhnya dikilat-kilatkan supaya menarik. Aku menghela napas. Sedangkan gitar di sebelahku—di sisi kanan-kiriku—yang berjumlah sepuluh, semuanya menunjukkan yang terbaik dari yang mereka miliki, termasuk teman yang meragukanku tadi.

Bibir yang sederhana dari wanita itu seolah seperti dicekat waktu. Gerakannya pelan. Mungkin waktu ingin supaya aku berlama-lama dalam ketegangan. Aku membayangkan bibir itu akan mengeluarkan keputusan yang mengejutkan. Jangan-jangan keputusan itu tidak untukku, jangan-jangan ia juga tidak bisa memutuskan. Dan jangan-jangan….

“Bagaimana Ran, aku bingung.”
“Seharusnya kamu cari-cari dulu di internet sebelum membeli.”

Aku kasian, pria itu sudah berusaha menyenangkan wanita itu, namun masih juga mendapat respon dingin. Apa iya? Itu semua kan cuma ada di dalam mimpi. Bisa saja mereka memang benar-benar kekasih.

Angin jalanan berlari masuk toko seolah menambah keramat keputusan wanita itu. Musim kemarau membuat debu jalan bertambah pekat. Debu yang melekat di kotak kacaku bahkan ada yang menyusup menembus celah celah sempit.

“Mungkin gitar itu saja, bagimana?”

Dadaku hendak runtuh. Tangan itu menunjuk ke arahku. Mungkin inilah mimpi yang nyata. Teman-temanku semua bengong. Aku senang, tapi mengapa? Ah, aku tidak perlu memikirkan. Yang harus kulakukan adalah tersenyum. Lelaki itu pun menurut, kutahu cintanya telah membuat jiwanya tunduk dengan apa yang diperintahkan gadis itu. Lelaki itu memegang kotak dan membuka pintu etalase.

Pria itu mengangkat tubuhku. Tangan gelapnya menjajal senarku yang kendur. Sampai kapan ia akan berlagak bisa? Mungkin itu adalah bagian dari kesenangannya. Setelah ia membayar tunai, aku ditenteng keluar toko. Teman-temanku tampak lesu, ada juga yang tersenyum dan mengucapkan selamat.

Sepanjang jalan, wanita itu bicara, seolah tidak memberikan kesempatan pria itu sesekali membalas. Isinya semacam curhatan tanpa akhir. Aku sadar, bagian ini tidak ada dalam mimpiku, termasuk bagaimana masa depanku nanti. Hanya Tuhan yang tahu. Pria itu hanya mengangguk dan mengangguk. Wanita itu memperlihatkan wajah tak suka. Begitulah awal aku keluar dari sebuah toko yang menyekapku. Entah bagaimana nanti teman-temanku, semoga mendapat kebahagiaan dengan cepat, tidak sepertiku.

***

Malam-malam berlalu. Dalam sinar bulan yang terang, lelaki itu bertanya padaku, “Gitar, apa kamu mendengarku dari dunia sana?”

Tentu, aku bisa sangat mendengarmu, tapi tidak bisa segera menjawabmu. Butuh putaran waktu yang penuh untuk menembus batas kemustahilan dan membuat kita saling menjawab dengan suara. Kamu beraroma kesedihan, sedangkan aku tetap dengan aromaku, kayu yang dipelitur. Sudah tentu kita lahir di dunia dengan aturan yang berbeda. Tuhan menginginkan kita untuk berbicara dari hati ke hati.

Tangan kering pria itu tidak pernah memetikku, kecuali saat berhadapan dengan wanita yang sempat bersamanya. Petikannya tak pernah merdu.

Dan aku tahu, beginilah lanjutan mimpiku.

Di sepanjang jalan waktu lalu, ternyata aku ditakdirkan bertemu dengan wanita itu hanya untuk waktu itu saja. Selebihnya, tidak ada pertemuan dan tidak ada suara yang keluar dari mulutku, yang dihentakkan oleh tangan lelaki kesepian. Bagaimana caranya aku mengembalikan kepercayaan dirinya pada wanita? Dalam kalimat klise berulangkali terucap dari orang ke orang yang kutemui, “Wanita bukan hanya satu, carilah hingga ke ujung dunia.” Tapi bagi lelaki itu, gadis itu adalah cinta pertamanya. Mana mungkin bisa begitu cepat untuk melupakan kenangan pertama? Aku bukanlah alat musik lagi semenjak dibeli oleh lelaki yang kusut itu. Sebagaimana gitar pada umumnya—seharusnya berbunyi dan bernyanyi, dipetik dan digenjreng, berdendang dan membawa khayal pemetiknya ke alam duniaku, sehingga kesadaran tidak diperlukan lagi pada saat-saat seperti itu—namun aku lebih sebagai tempat curhat.

“Ia menolakku saat kunyatakan cinta,” katanya kepadaku.

Sebenarnya saat itu, aku amat yakin kalau lelaki itu bakal diterima. Bukankah mereka sama-sama hitam? Tapi mungkin yang pria itu butuhkan adalah sedikit keberanian untuk mengembangkan bunga-bunga di hati wanita yang dicintainya itu. Bahkan untuk sekadar memegang tangan pun harus ratusan kali mengerutkan dahi, sampai akhirnya ia cuma memegang ujung tubuhku saja.

Kejenuhan sebagai penyendiri membuat lelaki itu kerap menyalahkanku, karena gara-gara aku, ia tidak bisa merantau ikut teman-temannya. Dan karena wanita yang dicintainya menyukai pria pemain gitar, ia melepas satu-satunya simpanan pasca kelulusan SMA demi hanya untuk membeliku, membeli benda yang dianggap menyusahkan. Bukankah hargaku murah? Ingatkah, hargaku tidak menyentuh angka 200.000 rupiah! Aku sebenarnya sedih, tapi sebagai benda—yang dianggap mati— tak bisa berkata sedih padanya. Aku diciptakan untuk diam dan menerima kekalahan. Jika dulu aku tahu akan ditinggalkan, lebih baik aku menjadi barang tak laku di toko Mpok Satiem.

***

Sebelas tahun itulah yang membuatku saat ini menggantung sendirian di sudut ruang kamar, penuh debu seperti dahulu. Besi-besi penyangga setelan sudah karatan sempurna. Teman-temanku di sini pun mengalami hal serupa. Hanya ada beberapa jam menyenangkan selama aku terbeli. Tidak ada yang berubah, kecuali tubuhku yang mulai lengkap dengan sarang laba-laba. Aku terus berharap seseorang nanti akan memetikku, membuatku bersuara merdu. Lelaki itu sudah lama merantau dan tak membawaku pergi.

***

Purworejo, 15 Desember 2015

SETO PERMADA,
Lahir 12 Oktober 1994.
Alumnus SMAN 4 Purworejo ini sekarang bekerja sebagai pengrajin bata merah di Bruno.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here