Goro Hingga Ziarah

0
409
MAHASISWA dan mahasiswi Himanegara ketika sedang berdiskusi untuk menggelar kegiatan Bakti Ramadan. f-istimewa

Himanegara Gelar Bakti Sosial Ramadan

Himpunan Mahasiswa Ilmu Administrasi Negara (Himanegara), Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universita Maritim Raja Ali Haji (FISIP-UMRAH) menggelar kegiatan Bakti Ramadan baik itu gotong-royong (goro), ziarah dan lainnya.

TANJUNGPINANG – Kegiatan itu berlangsung pekan lalu mulai Sabtu (18/5) hingga Minggu (19/4) di Pulau Penyengat. Bakti Ramadan itu, mengusung tema ‘Menjadikan Ramadan Sebagai Momen Kebersamaan’. Kegiatan ini merupakan bentuk pengamalan terhadap Tri Dharma Perguruan Tinggi, yakni pengabdian masyarakat dan disesuaikan dengan momen bulan Ramadan.

Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk membangun rasa kebersamaan mahasiswa Ilmu Administrasi Negara.

Selain itu, menumbuhkan rasa kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan di luar kampus. Selanjutnya, membentuk mental mahasiswa agar mampu bersosialisasi dengan baik kepada masyarakat.

Kegiatan ini diikuti seluruh mahasiswa-mahasiswi Ilmu Administrasi Negara dengan jumlah peserta adalah sebanyak 23 orang.

Ketua Himanegara FISIP-UMRAH, Muslim Hamdi menyebutkan, kegiatan yang digelar diisi dengan agenda silaturahmi ke rumah masyarakat, ziarah ke makam Raja Ali Haji, berbuka puasa bersama masyarakat, Salat Tarawih berjamaah dan tadarusan di Masjid Raya Sultan Riau Pulau Penyengat serta diskusi.

Kemudian, dilanjutkan dengan menjelajahi tempat-tempat bersejarah di Pulau Penyengat. Sekaligus Operasi Semut yakni gotong-royong membersihkan sampah.

”Agenda silaturahmi pada kegiatan ini, diisi dengan penelitian menggunakan metode wawancara tentang dampak penetapan Pulau Penyengat sebagai Cagar Budaya Nasional bagi masyarakat,” ujar Muslim Hamdi.

Selain itu, kegiatan yang diadakan pada bulan Ramadan ini juga bertujuan untuk menggali kehidupan masyarakat di bidang pendidikan, ekonomi, sosial dan budaya setelah Pulau Penyengat menjadi daerah Cagar Budaya Nasional.

Intinya, lanjut Muslim, daerah yang dilindungi oleh negara melalui undang-undang ini. Maka sumber daya didalamnya, juga harus diberdayakan pula.

Tujuannya agar mereka bisa berpartisipasi dalam memelihara budaya dan mengembangkan perekonomian mereka.

Kemudian hasil dari wawancara ini akan dijadikan bahan diskusi untuk bisa menemukan solusi dari permasalahan yang terjadi pada masyarakat Pulau Penyengat, lalu dijadikan tulisan berupa Artikel Ilmiah dan akan direkomendasikan kepada kepada Pemerintah Kota Tanjungpinang.

Karena memang belajar dan berpikir tidak cukup hanya di ruang kelas, pikiran mesti di refresh dengan kenyataan hidup dalam masyarakat.

Hal lainnya, karena di Pulau Penyengat sana terdapat ilmu pengetahuan yang lebih bagi mereka yang peka dan bisa memaknainya.(ADLY ‘BARA’ HANANI)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here