Gunung Ranai Jadi Petunjuk Nelayan

0
196
WALAU kondisi cuaca ekstrem nelayan sepempang tetap melaut dengan berpatokan pada Gunung Ranai. f-hardiansyah/tanjungpinang pos
Meskipun cuaca ekstrem, Gunung Ranai jadi petunjuk nelayan tradisional Desa Sepempang jika ingin melaut. Sehingga, kondisi cuaca ekstrem pun nelayan tetap pergi melaut untuk mencari ikan.

NATUNA – Sebagian nelayan Natuna, hingga saat ini masih melakukan aktivitas di laut walau cuaca tidak bersahabat.

Nelayan setempat berpedoman pada Gunung Ranai, apabila hendak turun melaut.

Sebab, gunung tersebut masih dijadikan sebagai kompas utama oleh sebagian nelayan.

Bahkan, bukan hanya sebagai kompas tapi gunung dengan ketinggian sekitar 1.300 Mdpl itu juga dijadikan sebagai petunjuk utama dalam upaya mengidentifikasi kondisi laut.

”Kami masih berpedoman pada gunung itu, kalau gungungnya diselimuti awan pekat kami tidak melaut. Tapi kalau gunungnya cerah, atau berawan tipis kami turun melaut,” kata Bahran (31), Nelayan Desa Sepampang di Pelabuhan Sepempang, kemarin.

Menurutnya, tingkat akurasi petunjuk dari gunung itu sudah tidak diragukan lagi.

Karena, kondisi Laut Natuna tergambar pada rupa Gunung Ranai seperti yang disebutkan diatas.

”Kami memang yakin dengan petunjuk ini, dan ini terjadi di laut maka petunjuk ini sudah berlaku sejak nenek moyang kami dulu. Kalau gunungnya masih keliatan silahkan saja melaut, tapi kalau tak keliatan jangan coba-coba lah,” tegasnya.

Namun begitu, bukan berarti dia tidak mengindahkan imbauan maupun peringatan dari instansi pemerintah terkait.

Tapi karena faktor keyakinan dan kebiasaan, mereka acapkali mengandalkan petunjuk gunung tersebut.

”Imbauan itu ada bang, cuma jarang sampai kepada kami. Tapi tak apa lah, selama gunung masih nampak, kami tetap melaut,” ujarnya.

Di musim utara ini, Bahran dan rekan-rekannya tetap melaut bila kondisi memungkinkan.

Hanya saja, rentang berlayarnya dikurangi dari rentang berlayar yang mereka lakukan di luar musim utara.

”Kalau kami tidak melaut, kami mau makan apa. Kami tergantung pada penghasilan melaut ini. Cuma kalau kondisi lagi macam ini, paling kami beraninya melaut paling jauh sampai 19 mil. Tapi kalau di luar musim utara kami berani sampai jarak 70 hingga 80 mil. Maklumlah alat kita juga belum canggih, dan kapalnya masih terbatas kapasitas,” ungkapnya.

Ia berharap, ada perhatian dari pemerintah terhadap nelayan agar mereka bisa berbuat lebih banyak lagi di laut dalam rangka menggali potensi kelautan Natuna.

”Ya, kami ingin ada bantuan semacam kapal yang agak besar, dan alat yang lebih canggih agar kami bisa berlayar lebih jauh mencari ikan dan lebih lama di laut meskipun cuacanya agak buruk. Mudah-mudahanlah ada perhatian,” harapnya.(HARDIANSYAH)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here