Guru di Daerah Terpencil Masih Minim

0
131
SISWA salah satu sekolah di Natuna bermain saat jam istirahat. F-istimewa

NATUNA – Jumlah guru di daerah terpencil masih sangat minim di Natuna. Terlebih banyak pembangunan Sekolah Satu Atap (SATAP) yang masih perlu dibenahi sarana dan prasarana (Sapras) pendukung sekaligus ketersediaan guru pengajar.

Banyak masyarakat berpikir, kurangnya perhatian pemerintah akan dunia pendidikan menjadi catatan penting bagi kemajuan daerah. Terutama pembangunan dengan konsep Satap di setiap daerah terpencil.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia gencar membangun Satap mulai SD, sampai SMP di daerah terpencil. Namun semua itu perlu adanya dukungan dari daerah dalam kesiapan seluruh Sapras.

Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Natuna Suherman menjelaskan, dengan beredarnya keluhan masyarakat akan minimnya guru menjadi bahan catatan yang perlu diusahakan sejak berdirinya konsep Satap. Sekarang ini, ketersediaan guru untuk mengajar di Satap yang berada di Desa Segeram Kecamatan Bunguran Utara masih sangat terbatas. Namun untuk memberikan pengajaran dan pelajaran masih memakai atau diperbantukan dari guru SD yang ada didaerah sekitar.

”Saat ini kita masih memakai guru SD yang ada disitu, karena konsep Satap di daerah itu baru dan juga masih sangat minim sapras maupun kekurangan guru dan memang di awal konsep satap seperti itu,” kata Kadisdikpora Natuna Suherman saat ditemui di ruang kerjanya, Jumat (14/9).

Dikatakannya, untuk sekolah di daerah Segeram masih baru dua bulan dipergunakan, dan masih banyak kekurangan sapras yang perlu dilengkapi seluruhnya supaya bisa dipergunakan dengan layak. ”Kita sudah memikirkan untuk ke depannya setelah ada bangunan itu akan perlahan-lahan melengkapi saprasnya. Kejadian ini sama seperti Satap di Desa Pengadah Kecamatan Bunguran Timur Laut dulunya juga seperti itu, bertahun tahun SD dan SMP hanya 1 Kepala sekolah, dan guru bantu, serta kurang sapras. Namun kita tetap berusaha melengkapinya semua,” ungkapnya.

Tahun ini Kemendikbud juga akan segera membangun Satap di Desa Segeram dengan anggaran sekitar Rp1,3 miliar karena daerah tersebut sangat jauh dari sekolah yang ada.

”Makanya kita akan terus mengusahakan supaya pembangunan Satap bisa selesai tahun ini. Setelah ada bangunan sendiri baru dinas akan meminta ke Bupati Natuna untuk menunjuk atau melantik kepala sekolah definitif untuk ditempatkan di Satap,” jelasnya.

Konsep Satap di Desa Segeram, adalah untuk mengantisipasi agar anak-anak yang ada bisa bersekolah seperti di daerah lain. Karena selama ini banyak orang tua pindah rumah karena ketiadaan sekolah di daerah tersebut.

”Kita sudah memikirkan sebelumnya, tentang konsep Satap ini supaya orang tua tidak perlu pindah rumah dekat sekolah agar anaknya bisa sekolah,” jelasnya. (hrd)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here