Guru Itu Agen Pendidikan Karakter dan Budi Pekerti

0
820
Totok Haryanto, SE., MM

Oleh: Totok Haryanto, SE., MM
Pengurus PGRI Kota Tanjungpinang

Mengacu pada fungsi pendidikan nasional Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 pasal 3 menyebutkan, Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan dan membantu watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan bangsa.

Aturan itu untuk mengembangkan potensi peserta didik. Tujuannya agar menjadi manusia beriman yang bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, beraklak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Pada sisi lain, prioritas pembangunan nasional sebagaimana yang dituangkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang (RPJP) Nasional Tahun 2005 – 2025 (UU No 17 Tahun 2007). Ini untuk mewujudkan masyarakat yang beraklak mulia, bermoral, beretika, berbudaya, dan beradab berdasarkan falsafah Pancasila.

Pendidikan sebagai sebuah kegiatan dan proses aktivitas yang disengaja merupakan gejala masyarakat ketika sudah mulai disadari pentingnya upaya untuk membentuk, mengarahkan, dan mengatur manusia sebagaimana yang dicita-citakan masyarakat.

Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Depdiknas adalah bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak. Karakter mengacu pada serangkaian sikap (attitude), perilaku (behavior), motivasi (motivation), dan keterampilan (skill). Kekuatan karakter akan terbentuk dengan sendirinya jika ada dukungan dan dorongan dari lingkungan sekitar.

Peran keluarga, sekolah, dan masyarakat sangat dominan dalam mendukung dan membangun kekuatan karakter. Karakter tidak bisa diwariskan, karakter harus dibangun dan dikembangkan secara sadar dari hari demi hari dengan melalui suatu proses yang tidak instan. Karakter bukanlah suatu bawaan sejak lahir yang tidak dapat diubah lagi seperti sidik jari.

Setiap orang bertanggung jawab atas karakternya. Kita memiliki kontrol penuh atas karakter kita, artinya kita tidak dapat menyalahkan orang lain atas karakter kita yang baik atau buruk, karena kita yang bertanggung jawab penuh. Mengembangkan karakter adalah tanggung jawab pribadi kita sendiri.

Dalam dunia pendidikan, sosok Ki Hadjar Dewantara sebagai Bapak pendidikan bangsa Indonesia ini banyak mengajarkan berbagai hal yang sangat terkenal di bidang pendidikan. Konsep pendidikan nasional yang dikemukakan sangat membumi dan berakar pada budaya nusantara, antara lain tut wuri handayani, “tri pusat” pendidikan (keluarga, sekolah, masyarakat. Konsep Tri Pusat Pendidikan, yakni sekolah, keluarga, dan masyarakat tersebut tidak bisa diabaikan. Sistem pendidikan nasional ini tidak ditempatkan di alam lingkungan sekolah saja, akan tetapi ada keikutsertaan keluarga dan masyarakat yang membentuk sukses dan gagalnya pendidikan nasional.

Pendidikan di alam demokrasi, tidak hanya diserahkan kepada guru di lingkungan civitas akademika. Sebab pendidikan yang benar tidak hanya mengasah intelektual semata, namun juga rohani kejiwaan anak didik dan fisik kesehatan jasmani.

Di lingkungan sekolah, pendidikan diberikan kepada anak didik dalam waktu terbatas, sehingga terbatas pula waktu bagi para siswa untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan guru. Oleh sebab itu, guru harus berkonsentrasi memberi perhatian kepada kepribadian dan fisik anak didik secara terbatas pula. Di dalam lingkungan keluarga, anak sesungguhnya sudah dididik sejak dalam kandungan.

Keluarga menjadi kiblat perjalanan dari dalam kandungan sampai tumbuh menjadi dewasa dan berlanjut di kemudian hari. Di lingkungan masyarakat, karakter dan wawasan serta tingkah laku seseorang akan mencerminkan kualitas kepribadian. Berada pada lingkungan macam apa sehingga anak didik itu otomatis melekat pada akar masyarakat sekitarnya. Integritas dan kepribadian sang anak akan bisa di lihat dari akar sosial lingkungannya.

Penulis sebagai praktisi pendidikan formal terus berupaya mensosialisasikan pentingnya membangun pendidikan karakter dan budi pekerti tidak hanya di lingkungan sekolah saja. Melalui program kultum subuh di Masjid Al Amin Perumahan Griya Hang Tuah Permai Batu 11 Tanjungpinang,yang dibimbing langsung oleh Drs. H. Marwin Jamal, MA Kakanwil Departemen Agama Kepulauan Riau, penulis selalu menyampaikan materi yang ada korelasi/ hubungannya peran sinergitas keluarga, guru dan masyarakat dalam membangun pendidikan karakter dan budi pekerti, sehingga diharapkan masyarakat khususnya generasi muda Kepri akan menjadi Sumber Daya Manusia yang berkualitas dan beraklak mulia. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here