Habitat Tumbuhan dan Spesies Langka

0
1004
INDAH: Pulau Pejantan nampak indah. Pulau ini banyak spesies langka dan tumbuhan unik. F-Net

Potensi Pulau Pejantan jadi Kawasan Wisata dan Riset Dunia 

Unik dan sangat langka. Hanya saja belum diketahui banyak orang. Namun, spesies dan tumbuhan yang ada membuat dunia tercengang. Itulah Pulau Pejantan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri.

Pulau Pejantan – DI sana berkembang spesies yang langka. Ilmuwan bidang botani dan hewan sudah melakukan penelitian yang cukup mendalam bahkan bertahun-tahun.

Hasilnya pun sudah dipublikasikan ke seantro dunia dan mencengangkan. Potensi inilah yang diminta ditangkap Pemprov Kepri dan Pemkab Bintan menjadi kawasan wisata untuk diperkenalkan ke dunia internasional.

Seperti diungkapkan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Kepri Buralimar, yang sudah pernah mendengar keunikan-keunikan di pulau itu.

”Sudah pernah dengar. Tapi yang lebih mengetahuinya Pemkab Bintan lah. Kalau Pemkan Bintan ingin menjadikannya DPUD (Destinasi Pariwisata Unggulan Daerah), bisa ditetapkan melalui SK bupati,” ujarnya via ponselnya, Minggu (26/3).

Namun, sebelum menetapkan kawasan wisata, hendaknya koordinasi dengan instansi lain termasuk kementerian dan pemerintah provinsi. Sehingga bisa ditetapkan apa unggulan di sana.

Kalau sudah ditetapkan jadi DPUD, maka provinsi akan memberikan dukungan. Sebab, itu akan menambah destinasi wisata bagu turis mancanegara yang akan berlibur ke Kepri.

Ia juga mendukung langkah anggota DPRD Kepri yang mendorong agar potensi Pulau Pejantan bisa dimanfaatkan menjadi kawasan wisata.

Ing Iskandarsyah, Ketua Komisi II DPRD Kepri juga mengaku belum pernah ke Pulau Pejantan. Namun, ia sudah membaca beberapa artikel dan tujuan tentang keunikan spesies yang ada di pulau itu.

Iskandarsyah mengatakan, ini peluang untuk Kepri terutama Pemkab Bintan. Daerah ini bisa menjadi kawasan yang menyenangkan bagi turis.

”Karena banyak juga turis yang suka dengan hal-hal langka seperti itu,” jelasnya kemarin.

Karena itu, segala potensi alam maupun laut yang ada harus dioptimalkan. Apalagi, kata dia, wisata menjadi yang menjanjikan membantu kesejahteraan masyarakat.

Selama ini, kata dia, pihak peneliti luar negeri dan Kementerian Lingkungan Hidup sudah ke sana. Namun, peran pemerintah daerah belum banyak.

Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah baik Pemkab Bintan dan Pemprov Kepri juga turun ke sana untuk melihat potensi itu dan dikelola menjadi lokasi wisata.

”Paling tidak, kita daerah terlibat,” harapnya.

Ing Iskandarsyah berharap hasil temuan penelitian dari Kementerian Lingkungan Hidup Indonesia dan hasil riset Institute of Critical Zoologists (ICZ) Jepang di Pulau Pejantan menjadi potensi besar kawasan pariwisata dan pusat pengetahuan di Indonesia maupun dunia.

Sebagaimana diketahui, wilayah yang berada di bawah administrasi Kecamatan Tambelan itu telah ditemukan 350 spesies baru berdasarkan hasil riset ICZ Jepang.

Sedangkan hasil riset Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menemukan 93 spisies diantaranya 53 spesies sudah teridentifikasi dan 40 spesies belum teridentifikasi.

Sebaiknya berdasarkan temuan lembaga tersebut, pemerintah daerah Kepri apakah melalui Bappeda harus segera menindaklanjutinya dengan melakukan kajian lebih dalam atau bertatap muka ke KLHK guna mencari tahu lebih jauh tentang hasil riset mereka.

Berdasarkan hasil riset tersebut, kata dia, sudah layak Pejantan dijadikan kawasan wisata alam, wisata selam (diving), wisata goa dan panjat dinding (rock climbing), wisata susur hutan (jungle tracking), dan pelepasan tukik untuk konservasi satwa penyu.

”Dengan kekayaan alam yang luar biasa itu, kita akan usahakan ke Kementerian LHK agar Pulau Pejantan ditetapkan sebagai kawasan konservasi Suaka Margasatwa (SM) atau Kawasan Ekosistem Esensial (KEE),” ungkapnya.

Menurut hasil riset sementara Tim Kementerian Lingkungan Hidup di sana, bahwa Pulau Pejantan sangat unik dan harus dipertahankan karena memiliki potensi besar untuk pariwisata dan pusat keragaman hayati.

Di pulau yang memiliki luas 927,34 hektare ini, tim menemukan spesies baru seperti tupai yang memiliki bulu tiga warna, biawak dengan corak berbeda, pepohonan di atas batu granit, dan aliran air di bawah batu granit, ekosistem mangrove, hutan pantai, hutan hujan dataran rendah, ekosistem goa batu granit, dan ekosistem terumbu karang.

Pulau Pejantan ini terletak di Desa Mantebung, Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Provinsi Kepri. Pulau ini dihuni oleh 12 Kepala Keluarga (KK) dengan jumlah penduduk sekitar 40 orang suku Melayu yang bekerja sebagai nelayan.

Fasilitas umum di pulau ini masih sangat terbatas, sehingga memerlukan sentuhan pembangunan yang intensif.

Sementara itu, Wakil Ketua Kerukunan Keluarga Tambelan di Tanjungpinang Robby Patria mengatakan, hasil temuan KLHK dan peneliti Jepang tersebut sudah cukup menjadi dasar menetapkan Pejantan sebagai Kawasan Konservasi.

Karena peneliti Jepang sudah meneliti selama 4 tahun ditambah dengan hasil riset Tim KLHK.

”Tentu ada yang menarik sehingga mereka sampai empat tahun meneliti pulau yang jauh dari jangkauan manusia. Kalau tidak ada yang istimewa dari Pulau Pejantan tidak mungkin mereka menghabiskan banyak modal untuk sampaia ke pulau itu. Kita dorong pemerintah untuk serius menyelamatkan Pejantan dari kegiatan ilegal yang selama ini terjadi di sana,” kata Robby.

Dengan ditetapkannya Pejantan sebagai kawasan Konservasi misalnya, tambah Robby, setidaknya menyelamatkan flora dan fauna di sana dari tangan jahil.

Tentu pulau tersebut lebih aman dan terjaga sehingga bisa jadi kawasan riset Indonesia bahkan dunia karena beberapa tumbuhan dan hewannya tidak ditemukan di daerah lain.(Martunas)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here