Halo, Gaes! (Kepala Hotak Kau!)

0
377
Jerumat - Halo, Gaes

HALO, Gaes! Ketemu lagi sama gue di kolom Jerumat. Gue yakin, lu udah pada kangen sama kolom yang bikin GMZ dan sometimes bikin KZL di halaman 15 ini. Gak berasa, udah hari Minggu aja. Dan gue, you know, Gaes, mesti nulis lagi, mesti ngetik lagi, biar bisa say hello buat kalian semua, Gaes.

Jadi begini, Gaes. Asal kalian tahu aja, jadi kolumnis itu not easy. Kepala harus bisa berpikir extraordinary. Isu-isu mainstream harus ditanggepi dengan cara yang not usual which is biar terlihat like smart people. But, Gaes, di situ challenge-nya. Apalah arti hidup ini kalau nggak ada tantangan. Kurang asyique, bosque.

Maka, dari situ, gue bertahan, Gaes. Entah kapan pastinya gue mulai nulis kolom ini. Tapi, CMIIW, as I remember, sebelum lulus kuliah, gue udah mulai nulis kolom ini. Saat itu, di usia yang masih kinyiz-kinyiz, gue iseng-iseng kirim. And you know what, Gaes, rupanya diterima. Keterusan deh sampai sekarang. Sampai gue gak bisa itung lagi, udah berapa jumlahnya sekarang, Gaes di komputer. Beberapa ada yang like, banyak juga kok yang jadi haters. Biasanya, haters ini come from golongan yang merasa kecubit sama tulisan gue, Gaes. Jadi, kalau kalian nggak kuat, ngadepin haters, jangan maksa diri jadi penulis kolom, Gaes. Itu berat.

Kalau gak percaya, tanya sama Bang Husnizar Hood. He is totally junjungan kalau ngomongin kemampuan ngejaga stamina nulis kolom. Bayangin lho, Gaes, doi udah nulis lebih dari separo umur gue. As long as that, Bang Nizar sama Mahmud masih bisa hadir setiap Minggu di koran pagi. Malah, kalau kalian balik halaman gue ini, langsung ketemu deh sama tulisan doi di halaman 16.

Once time, Bang Nizar told me: kalau lagi sepi peristiwa, pening ape yang nak ditulis, kalau banyak kejadian pun pening juge. Semue-mue nak ditulis. Tapi kolom ade batas. Aku pikir itulah kreativitas.

You got it, Gaes? Susah. Because, kalau cuma nyalin peristiwa demi peristiwa, itu so ordinary. Gak ada yang bakal mau baca kolommu, Gaes. Peristiwa itu cuma trigger buat explode kreativitas dalam kepala. Diibaratin sumbu, Gaes. Ledakan itu yang kemudian jadi ide-ide untuk sebuah kolom yang GMZ.

Nulis is easy, ngedit baru difficult, Gaes. Coz, ketika nulis which is kita itu cuma mindahin ide dari kepala ke screen komputer. Seperti mesin fotokopi. Ide itu kertas yang diatas, yang di-scan. Tulisan itu kertas yang jadi, which is pasti di bawah. Nah, itu baru kerja menulis actually, Gaes. Ngedit lain cerita. Di situ, kalian butuh sesuatu yang disebut craftmanship. Kayak tukang ukir kayu gitu lho, Gaes. Kudu ngerti presisi, mesti pinter sama yang namanya teori.

Word by word harus dibaca, Gaes. Gak boleh ada kesalahan, entah itu typo apalagi pilihan kata. ‘Kan beda tuh antara hampir and nyaris. Walau sama-sama almost in English, Gaes, believe me, keduanya beda banget pemakaiannya di bahasa Indonesia. Capek lho, Gaes, ngedit itu. Tapi for you all, Gaes, gue seneng ngelakuinnya. Setelah koran dicetak, gue selalu berharap tulisan gue bisa bikin happy Minggu pagi kalian, Gaes.

Sering lho, Gaes, gue kehabisan ide. Ya maklumin aja. Every weekend, harus ada something new buat disampaikan. Harus punya different angle biar tulisannya gak mainstream. Biasanya kalau sudah begini, gue banyakin nonton film dan baca buku. Apa aja sih. Random beud. Not spesific. Kadang film action, thriller, or sometimes drama-drama yang menye abiz. Dari pemeran yang se-beautiful Jennifer Lawrence, se-cool Emma Stone, sampai se-GMZ dedek Chelsea Islan. Yawla, mereka so perfect dalam acting-nya masing-masing.

Kalau buku, still need my argue, Gaes? No one, sekali lagi, no one, bisa jadi penulis tanpa banyak baca buku. Peribahasa yang wisdom ‘kan pernah bilang begini, Gaes: buku ini kayak dunia, kalau kagak pernah traveling, ya berarti cuma baca satu buku. So, membaca itu kunci dapat ide, Gaes. But remember one thing, baca buku. Bukan baca Facebook yang banyak hoax apalagi status mantan yang bikin KZL.

Yang bikin gue happy zaman now itu, buku bisa dianggap lebih murah dari kuota internet. Sometimes, kita easygoing aja keluarin duit Rp 100 ribu buat beli paket. But so different kalau beli buku yang harganya around Rp 50-75 ribu. I really don’t know why anak-anak zaman now bisa berpikir begitu. Paket internet, copy-paste-ganti-sikit kata Einstein, akan membawamu dari A ke Z. But books, bakal membawamu ke mana pun. So that kenapa gue selalu spare duit buat beli satu buku every month. Walau malah seringkali lebih banyak sih, Gaes. Aku anggap itu part of investation for writer.

Oh iya one more thing, Gaes. Kalau stuck pas nulis, jangan malu. Semua penulis pernah ngerasain itu. Gue one of them, sering malahan. While gue nulis ini aja ada stuck-nya koq. Honestly, itu normal banget. Artinya human being. Gak ada marathon 42 kilometer yang straightly tanpa pake berhenti, Gaes. Sometimes, perlu memperlambat langkah agar mampu sampai finish. Tapi, kalian gak boleh stop lagi stuck. Tantang diri untuk tetap menulis sesuai dengan target. Enjoy and fearless. Kan masih proses nulis, belum editing. Baru nanti kalau sudah tumpah semua, pick your time buat ngedit. Otak kita kesakitan kalau buat multitasking, Gaes. One by one saja. Cuma uda-uda di Rumah Makan Padang aja yang sanggup multitasking bawa makanan berpiring-piring di tangan. We are not, Gaes.

Ada many people yang bilang, jadi penulis enak lho, Gaes. Padahal, as I told you, butuh perjuangan. Walau sih emang, nggak pernah pakai seragam setiap hari kayak PNS atau karyawan perusahaan lain, but harus mampu mencintai kata-kata, Gaes. Unfortunately, ini nggak pernah diajarin di kelas pas kita semua sekolah, Gaes. So, nggak ada panduan kilat how-to-be writer. Dan gue yakin, one and only yang bisa bikin seseorang jadi penulis adalah kesehatan akal pikirannya, Gaes. Jadi, kalau mau jadi penulis, ya betulin dulu how-you-think-nya. Makanya, jumlah penulis di sekitar kita sedikit, Gaes.

But, once you try, kamu nggak akan bisa berhenti, Gaes. Karena finally kamu aware, bahwa menulis adalah skill komunikasi yang penting untuk dikuasai jelang lenyapnya Indonesia kita pada 2030 nanti, Gaes. Ini info bener atau hoaks sih, Gaes?

Bagi kalian yang tahu informasinya lebih rinci, boleh tulis komentar di bawah ini. Jangan lupa subsribe channel gue ya, Gaes. Oh iya, klik juga icon lonceng di sebelahnya. Jadi, kalau gue upload video baru, langsung bunyi notif-nya di hape kalian, so gak pernah ketinggalan feed video terbaru dari gue. See you, Gaes.

Dari senarai paparan di atas, silakan pilih kemungkinan yang kalian inginkan: a) Saya jadi Youtuber; b) Saya jadi pengkritik Prabowo; c) Saya jadi Admin Lambe Turah; atau d) Kepala Hotak Kau!. Jawaban Anda saya nanti, karena saya merasa setelah menulis skrip di atas membuat saya sedikit hilang keseimbangan.***

OLEH: FATIH MUFTIH
Sayap Kiri Jembia

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here