Harga Cabai Merah Masih Tinggi

0
86
Pedagang bumbu dapur di Pasar Tradisional Kota Lama. f-desi/tanjungpinang pos

Pengawasan dari Pemerintah Dipertanyakan

TANJUNGPINANG – Harga cabai merah di pasar tradisional masih terbilang tinggi, yaitu Rp80 ribu per kilo. Meskipun turun dibandingkan sehari menjelang Lebaran mencapai Rp120 ribu per kilo.

Begitu juga dengan petai, sempat mencapai Rp120 ribu per kilo kini kembali normal yaitu Rp35 ribu per kilo.

Pantauan Tanjungpinang Pos di Pasar Tradional Kota Lama, Senin (10/6) pagi, harga cabai rawit juga tinggi, yaitu Rp60 ribu per kilo atau sama sehari sebelum Lebaran. Harga ini naik dari biasanya hanya berkisar Rp35-40 ribu per kilo.

Pedagang rempah dapur, Abdulrahman menuturkan, mulai hari ini, cabai merah mengalami penurunan.

“Saya baru mulai jualan hari ini, setelah lima hari libur merayakan Lebaran. Harga cabai merah masih tinggi karena didatangkan menggunakan pesawat dari Pulau Jawa,” ujarnya.

Sedangkan harga cabai hijau normal, yaitu Rp36 ribu per kilo. Meskipun hari ini, ia belum memiliki stoknya.

Dituturkannya, harga bawang merah Jawa kini juga sudah mengalami penurunan, yaitu Rp36 ribu per kilo. Sebelumnya mencapai Rp48 ribu per kilo.

Selain itu, jenis bawang merah Birma senilai Rp20 ribu dan bawang India lebih murah yaitu Rp15 ribu per kilo.

Salah satu warga, Setiawan menuturkan, perlu peran kepala daerah menjamin kestabilan harga. Menurutnya, harga dari satu pedagang ke pedagang lainnya juga tak jarang terjadi perbedaan yang signifikan.

Ia menilai, hal ini terjadi karena kurangnya pengawasan dari pemerintah daerah melalui OPD terkait. Diharapkan pemerintah bisa menjamin kestabilan harga.

Ditambakannya, bila dibandingkan dengan kawasan Bintan, harga cabai di sana masih terkendali. Mengalami kenaikan namun tidak signifikan yaitu Rp60 ribu per kilo.

“Dari sebelum Lebaran harga cabai di sana bisa stabil di Rp60-Rp65 ribu per kilo. Di Tanjungpinang saya heran kenapa tidak bisa stabil padahal satu daratan. Menurut saya, ini kurangnya pengawasan dari pemerintah,” tambahnya.

Pesannya kepada kepala daerah, ikut serta memberikan perhatian terhadap kestabilan harga bumbu dapur. Ini juga upaya meningkatkan kesejahtraan masyarakat.

“Di Bintan saja bisa stabil, kenapa di Tanjungpinang tidak bisa,” tuturnya.(dlp)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here