Harga Ikan di Pasaran Ekspor Anjlok

0
124
KAPAL nelayan Bintan berlabuh usai menjual ikan hasil tangkapan, dan antre membeli bahan bakar.

BINTAN – Pengusaha perikanan di Kabupaten Bintan masih menghadapi dilema yang cukup rumit, dalam melakukan ekspor ikan ke luar negeri. Saat ini, harga ikan di pasaran ekspor masih anjlok, meski sudah memasuki tatanan kehidupan baru atau adaptasi dengan pola hidup baru (new normal).

Sebelumnya, ekspor ikan dari Kabupaten Bintan maupun Provinsi terhambat atau tidak bisa masuk ke Malaysia. Karena pemerintah negara jiran ini menetapkan lockdown. Ekspor ikan hanya bisa dilakukan ke Singapura.

Baru-baru ini, Malaysia sudah membuka kran impor ikan bagi negaranya. Pengusaha Bintan pun kembali melakukan ekspor ikan ke Malaysia. Ekspor ikan ke Singapura tetap berjalan. Hanya saja, hargaikan di pasaran ekspor, baikMalaysia maupun Singapura, masih anjlok dibandingkan harga normal.

Baca Juga :  Kapolsek Ajak Pelajar Memahami Makna Pancasila

Harga ikan di pasaran ekspor turun, karena permintaan turun. Sebab, perhotelan di Singapura maupun Malaysia, juga mengandalkan turis yang berkunjung. Selama pandemi Covid-19, turis ke Singapura dan Malaysia turun drastis. Sehingga, permintaan ikan untuk menu perhotelan berkurang.

”Untuk harga jual (ekspor) ikan di Singapura, itu anjlok mencapai 50 persen dibandingkan harga biasanya (normal). Kalau di Malaysia, harga turun mencapai 40 persen. Ini sudah terjadi saat mulai pandemi Covid-19, dan sampai sekarang,” sebut Salikin, seorang pengusaha perikanan Bintan, Selasa (2/6) kemarin.

Penurunan harga ekspor ini, kata Salikin, untuk semua jenis ikan berkualitas ekspor. Seperti harga ikan jenis kakap merah di Malaysia, sebelum lockdown, harga masih berkisar 8 dolar per kilogram. Setelah dicabut lockdown, harga kakap merah dibeli hanya berkisar 4 sampai dengan 5 dolar per kilogram. Sama halnya dengan jenis tenggiri. Jika sebelumnya bisa 8 dolar, sekarang cuma 4 dolar per kilogram.

Baca Juga :  Rp7 Miliar untuk Lanjutan Stadion Megat Alang Perkasa

”Kalau di Singapura, lebih parah lagi anjloknya. Tapi bagaimana pun, kami tetap ekspor ikan ke Singapura dan Malaysia. Karena, kami harus belihasil tangkapan nelayan Bintan,” ujar Salikin.

”Kalau tak kita beli ikan dari nelayan dan tak ekspor, nelayan mau makan apa? Nelayan kan hidupnya dari penjualan ikan,” sambungnya.

Saat ini, sebut Salikin, pengusaha perikanan di Bintan, rata-rata melakukan 6 kali ekspor seminggu. Setiap hari, ada 2 kapal yang mengekspor ikan dari Bintan.

”Rata-rata, 2 kapal ini membawa ikan sebanyak 400 fiber box. Setiap fiber box, berisi 80 kilogram sampai 100 kilogram ikan. Dalam masa new normal ini, pelayanan administrasi ekspor ikan, tidak ada masalah,” jelas Salikin.

Baca Juga :  Tak Amalkan Pancasila, Banyak Pejabat Berurusan dengan KPK

”Yang jadi masalah, ya harga jual saja. Mudahmudahan sebulan ke depan, harga normal kembali. Kan di Singapura dan Malaysia sudah new normal,” tambahnya. (fre)

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here