Harga Ikan Naik 500 Persen

0
1242
TINJAU: Gubernur Kepri, H Nurdin Basirun meninjau kapal nelayan Natuna belum lama ini. f-istimewa/humas pemprov kepri

Hasil ikan laut melimpah, namun harganya melambung naik. Inilah ironi kemaritiman Kepri yang masih saja terjadi. Mencekik rakyat kecil. Solusi nihil.

Tanjungpinang – NATUNA misalnya, salah satu lumbung ikan yang berlimpah kondisinya lebih parah lagi. Saat ini, harga ikan di sana naik hingga 500 persen.

Padahal, saking banyaknya ikan di Natuna, daerah tersebut menjadi sasaran empuk nelayan negara asing untuk mencuri ikan. Kini, stok ikan pun menipis di wilayah perbatasan itu.

Sudah sepekan belakangan ini warga Natuna mengeluhkan susahnya dapat ikan. Hal ini disebabkan karena ikan jarang beredar di pasaran. Apalagi nelayan engan melaut lantaran cuaca ekstrem melanda perairan Natuna.

Ramlan warga Ranai mengaku tak mampu membeli ikan karena harganya sangat mahal belakangan ini. Semua itu karena pasokan ikan dari nelayan di Natuna sangat minim sehingga harga yang dipatok para pedagang terbilang sangat tinggi sekali.

”Susah ikan sekarang Bang. Beberapa hari yang lalu harganya masih normal. Sekarang sudah naik berlipat ganda,” tuturnya di Jalan Sudirman, Ranai, Senin (20/2).

Ia menjelaskan, harga ikan tongkol yang biasanya 1 ekor ukuran 1 Kg sekitar Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu, sekarang melonjak naik sampai 500 persen.

”Orang tak berani turun laut, makanya ikan jarang dan jadi mahal. Kemarin-kemarin ikan yang biasa Rp 10 ribu sampai Rp 15 ribu sekilo, sekarang udah Rp 70 ribu hingga Rp 100 ribu per ekor ukuran sedang. Memang ngeri sekali naiknya,” terang Ramlan.

Ia pun mengakui, kondisi ini tidak lepas dari dampak cuaca buruk yang melanda Natuna belakangan ini. Sehingga nelayan enggan untuk melaut.

”Ya, karena gelombang tinggi, orang tak berani melaut. Mungkin ikan yang ada sekarang ini berupa ikan simpanan dari waktu-waktu sebelumnya saja,” pungkasnya.

Sementara Sarmi seorang pedagang gorengan khas Natuna seperti kernas maupun ipok-ipok mengaku, tidak bisa berjualan makanan khas Natuna itu, lantaran tingginya harga jual ikan di pasar.

”Bahan baku pembuatan makanan khas Natuna seperti kernas maupun ipok-ipok semuanya menggunakan bahan ikan tongkol. Karena harga ikan mahal jadi kita tidak jual,” paparnya.

Sementara sejauh ini Sekretaris Disperindag Kabupaten Natuna Hikmatul menuturkan bahwa pemerintah tidak bisa berbuat banyak dalam mengatur harga penjualan ikan di Natuna.

”Kendala kenaikan harga ikan dikarenakan cuaca ekstrem yang seminggu terakhir ini melanda Natuna. Sehingga banyak nelayan yang enggan melaut. Sedangkan mengenai harga ikan itu semua otoritas pasar, dimana pemerintah tidak bisa ikut campur dalam hal penentuan harga jual,” tegasnya.

Pihaknya memprediksi penurunan harga ikan akan berlangsung sekitar seminggu ke depan. Karena dengan melihat cuaca sekarang ini banyak nelayan yang akan turun melaut.

”Jika melihat keadaan cuaca sekarang, mudah-mudahan harga ikan akan kembali normal. Karena diperkirakan akan banyak nelayan yang akan melaut,” tutupnya.

Di Lingga, ikan laut juga langka dan harganya naik drastis. Seperti ikan Kurau misalnya, harga normal Rp 40 ribu per kilogram dan saat ini naik menjadi Rp 60 ribu sekilo atau naik sekitar 50 persen.

Aleng, salah seorang penjual ikan segar di Pasar Ikan KUD Tanjungpinang mengatakan, pasokan ikan segar sudah mulai berkurang di pasar khususnya di pasar ikan sejak dua pekan lalu.

Kalau sudah pasokan berkurang, lanjut dia, secara otomatis harga ikan segar melonjak naik. Seperti harga ikan tongkol yang dijualnya saat ini mencapai Rp 25 hingga 30 ribu per kilogram.

Sebelumnya, harga ikan tongkol hanya Rp 15 ribu per Kg.

”Angin kuat dan nelayan tak turun ke laut membuat harga ikan naik hingga dua kali lipat,” katanya kemarin.

Sementara Buyung pedagang lainnya menyebutkan, ikan segar yang dijualnya sudah mulai melonjak naik. Mulai dari jenis ikan tamban yang dijual Rp 18 ribu hingga 20 ribu per Kg. Sebelumnya, ikan tamban Rp 12 ribu per Kg.

Berbeda dengan harga sotong seharga Rp 80 ribu per Kg. Sebelumnya, harga sotong hanya Rp 45 ribu per Kg. Udang Rp 90 ribu perkilo dari sebelumnya Rp 60 ribu per Kg.

Dari pantauan di beberapa penjual ikan segar, kebanyakan masyarakat tercengang dengan harga ikan segar yang naik.

Informasi yang didapat, penjual tersebut tidak dapat pasokan ikan segar. Sehingga tidak menjual ikan segar di Pasar Bestari Bincen Tanjungpinang.

Gubernur Kepri, H Nurdin Basirun mengatakan, kelangkaan seperti ini tidak terjadi setiap saat. Hanya di musim tertentu saja seperti musim utara.

Ia mengakui, banyak nelayan di Kepri yang menggunakan kapal kecil dan alat tradisional untuk menangkap ikan, sehingga hasilnya juga tak banyak.

Saat musim utara, banyak nelayan tradisional tak berani melaut karena kapalnya kecil. Takut dihempaskan angin dan tenggelam.

”Nanti kita cari solusinya. Memang kondisinya masih begitu karena banyak nelayan tradisional. Kalau sudah kapal modern, gelombang laut pun bisa dilalui. Saya paham betul lah soal laut ini,” ujarnya.

Pihak BMGK Tanjungpinang memprediksi angin utara akan berakhir pada pertengahan Maret 2017 ini. (mas/cr25/tir/dri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here