Hari Pers Nasional : Pers Itu Baik atau Buruk?

0
55
HIJRIAN SANDI

Oleh: Hijrian Sandi
Mahasiswa Fakultas Sosial dan Politik Program Studi Ilmu Administrasi negara Universitas Maritim Raja Ali Haji Tanjungpinang, Provinsi Kepri Tinggal di Tanjunguban Utara

JUMAT, tanggal 9 Februari 2018 kemarin, adalah peringatan berdirinya Hari Pers Nasional yang ke-72 tahun. Yang mana saat ini banyak yang memanfaatkan teknologi dalam menerima informasi, dan informasi yang diterima terkadang tidak hanya hal-hal positif melainkan hal yang berbau negatif juga sering masuk ke dalam informasi yang ingin kita cari.

Informasi yang negatif ini sendiri sering disebut dengan kata “Hoax” yang artinya kebenaran informasi itu masih diragukan. Pertanyaannya apakah Pers itu baik? Jika baik, kenapa informasi hoax sering kita jumpai?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kita harus tau Pers itu apa dan manfaatnya, ada 8 manfaat dari Pers, yaitu;
1. Menjadi penyalur aspirasi rakyat.
2. Bebas mencari atau mendapatkan kebenaran sehingga dapat mewujudkan keadilan.
3. Menjadi kontrol sosial yang bebas memberikan keritik, saran dan pengawasan.
4. Menjadi penyebar informasi yang dapat memenuhi hak masyarakat.
5. Menjadi wahana komunikasi massa.
6. Menjadi penghubung antar semua manusia.
7. Menjadi pendidik karena bebas menyebarkan IPTEK.
8. Menjadi pemberi hiburan kepada masyarakat.

Dilihat dari manfaat adalah “Pers bebas mencari atau mendapatkan kebenaran sehingga dapat mewujudkan keadilan”. Tugas utama dari Pers itu sendiri yakni mencari, menulis, dan menyiarkan informasi secara independen dengan mengesampingkan sikap primordial tentu akan mempengaruhi objektivitas dan kualitas berita professional.

Pada zaman globalisasi saat ini, fungsi Pers sebagai lembaga independen sering disalahgunakan oleh politisi yang “memiliki kepentingan” tertentu, sehingga media massa cenderung punya keberpihakan yang setara.

Tidak heran kalau banyak media massa yang terindikasi tidak objektif, hanya menyampaikan informasi yang bertujuan menaikkan pamor tokoh tertentu dan sebaliknya menjatuhkan pihak lain dengan menyebarkan berita-berita Hoax yang dapat mengaburi presepsi masyarakat banyak, dan lebih disayangkan adalah masyarakat lebih gemar mengkonsumsi berita secara langsung melalui media sosial dibanding membaca berita di media massa.

Untuk saat ini menyebarkan informasi kini juga sangat mudah, bisa dilakukan lewat ujung jari. Sehingga untuk menyebarkan segala informasi yang simpang siur atau tidak jelas sekalipun menjadi mudah, dan ini salah satu dari yang menyebabkan kenapa berita Hoax ini gampang disebar, dan juga berita-berita yang berdasarkan fakta, kurang menarik dibandingkan dengan berita bohong dengan judul-judul bombastis kemudian dengan cepat menjadi viral, dan ini disebut sebagai “Virus Digital”.

Lalu salah satu penyebabnya adalah kepedulian orang-orang terhadap kredibilitas sumber berita sangat kecil sehingga berita bohong itu mudah menyebar dan menjadi viral.

Terjawab sudah bahwa sebenarnya Pers itu sangat penting dan sangat berguna untuk masa dimana teknologi sudah menjadi canggih.

Dan baik buruknya Pers tergantung pada Pers itu sendiri, jika saja Pers ini mengesampingkan kepentingan politisi dan mengabaikannya maka berita hoax yang diterima masyarakat akan berkurang, dan juga agar berita hoax tidak mudah menyebar yaitu dengan cara pemerintah dan politisi dapat menyikapi media dengan profesional sesuai aturan yang termasuk dalam undang-undang Pers.

Jangan sampai Pers dijadikan alat untuk mencapai kepentingan pribadi, dan Pers Indonesia menjadi benar-benar indpenden, satu hal yang perlu disikapi adalah melindungi hak profesi dan wewenang insan Pers untuk bermotivasi dengan penuh independen tanpa campur tangan pihak tertentu yang memiliki agenda pribadi dan kelompok.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here