Hilangnya Kampungku

0
401
Suhardi

Oleh: Suhardi
Pemerhati Sosial, Alumnus Pascasarjana UKM Malaysia

Pulang kampung atau mudik telah menjadi rutinitas tahunan bagi perantau di negeri ini. Pemandangan itu kian terlihat di penghujung bulan Ramadan. Orang berbondong-bondong menggunakan berbagai alat transportasi untuk pulang ke kampung halaman. Bahkan terkadang, keinginan untuk pulang kampung di luar nalar. Mereke rela berdesak-desakan, berjejal diatas atap kereta api, berlama-lama dijalan hanya sekedar ingin pulang kampung.

Aura romantisme kampung menjadi daya tarik yang luar biasa. Tidak ada variabel yang pasti kenapa orang ingin pulang kampung. Boleh jadi kerinduan yang menggelayut dipikiran itu hanya akan terobati dengan pulang kampung. Sebab kampung adalah tempat semuanya bermula. Tempat indah yang jauh dari kedustaan. Tempat yang tidak menonjolkan kasta-kasta duniawi. Kendati ada perbedaan, tapi perbedaan itu tidak membuat orang berjarak. Malahan membuat orang semakin dekat satu dengan yang lainnya.

Dikampunglah, tatanan nilai dan budaya itu dibangun dan dijadikan panduan dalam kehidupan. Budaya gotong royong itu tumbuh subur dan menjadi alat ukur untuk menggerakkan kebersamaan dalam membangun. Budaya santun dengan menjaga nilai-nilai agama dan adat menjadi soko guru dalam kehidupan. Alampun bersahabat dengan memberika udara segar dan sejuk, serta tumbuhnya pepohanan, sayuran dan ladang bagi petani. Keriuhan kampung semakin terdengar dengan lantunan nyanyian anak kampung. Sesekali diselingi dengan suara dari meriam bambu jelang berbuka dan bila syawal datang.

Kini, tatanan nilai dan budaya itu seakan hilang dari kampung. Wajah lugu kampung berubah sudah. Tumpukan bedak-bedak kota sudah menempel di wajah ayu kampung yang tidak lagi menyenangkan mata bila memandang. Tak ada lagi beda antara kota dengan kampung. Apa yang ditemukan di kota, sekarang dengan mudah kita pandang dikampung. Jarang, bahkan boleh dikatakan tak ada lagi dentuman meriam bambu, kilau cahaya obor atau hidangan kampung yang menyelerakan. Semua sakan berganti dengan yang lain. Anak-anak sibuk dengan mainan gadget atau telpon pintarnya, tak ketinggalan ibu dan bapak asyik berselancar di dunia maya, juadah kotapun telah memenuhi meja hari raya.

Dalam benak kebanyakan perantau yang pulang, terkadang muncul pertanyaan dimana kampungku?, mana kampungku yang dulu mengajarkanku arti kehidupan. Bagaimana mungkin kampungku menanggalkan keramatnya dan menggantinya dengan keramat yang kuat dirupa, namun rapuh dijiwa. Silaturrahim dan saling sapa tidak sekuat dan tidak sesering dulu. Berkunjungpun hanya setakat keluarga dekat. Boleh dikatakan berkunjung rumah kerumah sesama warga itu kian jarang dan hampir punah. Apa sesengguhnya yang terjadi dengan kampung?. Entahlah

Boleh jadi, ini akibat konsekuensi zaman. Zaman sudah berubah. kini tidak ada lagi sekat-sekat. Jangankan sekat kampung, sekat antara negara bangsa juga sudah tidak ada. Kalau dulu, apa yang terjadi dikampung sebelah, hanya beberapa orang saja yang tahu, namun kini, apa yang terjadi dibelahan bumi lainpun, kita sudah tahu. Nilai-nilai dari luar yang tidak selaras dengan budaya dan tatanilai kita, menyeruak masuk dengan mudahnya dan ironinya banyak diantara kita yang menjadikan nilai luar itu sebagai panduan dan meninggalkan nilai-nilai yang telah lama tumbuh dalam kehidupan di kampung.

Akhirnya, tak ada beda antara kota dan kampung. Yang berbeda hanyalah infrastruktur, yang berbeda hanyalah rumah luar. Ruh dan jiwanya hampir sama. Padahal kampung adalah dimana nilai itu bermula dan dijaga. Setiap perantau pulang bukan hanya ingin pulang dalam makna menjenguk kampung dan handai tolan saja, tapi juga ingin menapaktilasi dan menyelam di sungai yang penuh nilai. Ingin meneguk airnya dan melepaskan dahaga yang selama ini mereka rasakan di padang gersang kota. Tapi sayang, sungai itu sudah kering bahkan sudah ada yang hilang. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here