HIMKA Galang Kekuatan Berangus Narkoba

0
390
BEBERAPA mahasiswa saat menggelar rapat di kedai kopi KPK untuk membahas rencana aksi sosialisasi terkait bahaya narkoba di Kepri, belum lama ini. f-istimewa

TANJUNGPINANG – Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) dinyatakan darurat narkoba pascapenangkapan narkotika jenis sabu-sabu seberat 1,6 ton di perairan Kabupaten Anambas.

Kapal ikan berisi jaring ketam asal Taiwan, dengan bendera Singapura tanpa dilengkapi dokumen ditangkap tim gabungan dari Polri dan Bea Cukai (BC), Selasa (20/2).

Lokasi penangkapan kapal tersebut di Karang Helen Mars (Berdekatan dengan Karang Banteng).

Tertangkapnya barang harap dalam jumlah besar itu dikhawatirkan telah memasuki Anambas. Untuk itu, Ketua Himpunan Mahasiswa Kabupaten Anambas (HIMKA) Tanjungpinang Khaidir mengajak mahasiswa bersatu memerangi narkoba yang mulai meresahkan masyarakat Kepri. Khaidir bersama mahasiswa yang tergabung dalam HIMKA meminta kepada aparat hukum untuk menangkap gerbong narkoba yang berada di Kepri.

”Saya dan kawan-kawan mahasiswa sangat perihatin dengan kondisi Kepri saat ini yang mana Kepri darurat narkoba setelah kamaren terjadi penangkapan sabu-sabu dalam jumlah besar di perairan Anambas. Tidak main-main, beratnya mencapai 1,6 ton dan cukup untuk menghancurkan masa depan pemuda-pemudi Kepri,” tegas Khaidir.

Sehingga, Khaidir bersama mahasiswa dari berbagai kampus akan menggelar aksi peduli untuk pelajar mahasiswa serta masyarakat Kepri.

Aksi yang dimaksud akan membagikan selebaran tentang bahayanya narkotika serta sejarah penangkapan narkotika yang telah terjadi di Kepri.

Ia mengatakan, saat ini masih mengumpulkan kawan-kawan mahasiswa/mahasiswi lainnya untuk berperan dalam aksi tersebut. ”Kalau barang haram ini masuk, berapa generasi yang akan rusak dan hancur. Maka dari pada itu kami dari HIMKA meminta pihak berwajib baik itu BNN (Badan Narkotika Nasional) dan Kepolisian untuk mengusut tuntas barang haram yang sudah masuk di Kepri berton-ton itu,” harapnya.

Bagaimana tidak, tren kasus narkoba tahun 2018 ini mulai mencuat kembali. ”Karena kami menduga ada cukong besar yang coba-coba bermain memasukkan barang haram itu ke Indonesia dan penegak hukum harus serius untuk memberantas narkoba ini. Selain itu, kami berharap masyarakat yang berada di perbatasan melaporkan kapal-kapal yang melintas yang mencurigakan,” sarannya.

Sebagai daerah kepulauan yang banyak pelabuhan tak resmi, Kepri memang rawan tempat masuknya barang haram itu. Gubernur Kepri H Nurdin Basirun juga mengatakan, para mafia sering memanfaatkan laut Kepri untuk aktivitas ilegal para mafia.

Penangkapan sabu di perairan Kepri kurun waktu 10 hari sudah dua kali dalam jumlah yang besar yakni 1 ton dan 1,6 ton. Jika aparat tidak jeli dan sabu ini lolos, maka sangat banyak masyarakat Indonesia yang jadi korban narkoba ini. (abh)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here