HIPMI Sebut Daya Beli Masyarakat Lesu

0
605
Albino Prashesarb

TANJUNGPINANG – Ketua Badan Pengurus Cabang (BPC) Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) Kota Tanjungpinang, Albino Prashesarb menuturkan, daya beli masyarakat di Tanjungpinang turun. Hal ini bisa terlihat dari sepinya kunjungan masyarakat ke warung-warung makan dan kedai kopi di kawasan Bintancenter (Bincen). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, pihaknya sebagai pebisnis properti juga mengalami dampaknya.

Hal ini disebabkan beberapa faktor. Diantaranya masyarakat sedang mengenggam uang atau sangat berhati-hati dalam mengeluarkan. Masyarakat kini memperhitungkan pendapatan dan pemasukan. Masyoritas kini, sulit mencari uang pemasukan lebih. Dibuktikannya, ia sering melakukan kunjungan kebebrapa rumah makan dan kedai kopi, semua mengaku sepi. ”Saya sering tanya, rata-rata para pemilik kedai kopi mengaku berkurang pengunjung bila dibandingkantahun sebelumnya,” kata Bino kepada Tanjungpinang Pos, Jumat (21/7).

Ini salah satu membukti daya beli masyarakat sudah mulai berkurang. Tak hanya dirasakan warung kopi saja, tetapi juga dirasakan berbagai bisnis atau usaha lainnya. Mulai di Tanjungpinang dan Kepri bahkan nasional. Ini disebabkan kondisi ekonomi dunia yang juga berdampak pada daerah. ”Saya rasa semua usaha mengalami hal yang sama. Berkurangnya daya beli masyarakat,” terang dia.

Bahkan, meski pengujung ramai menurutnya tidak bisa jadi patokan. Sebab belum tentu melakukan transaksi. Bahkan jika pun membeli, diyakini tidak akan berani banyak-banyak. Semua diperhitungkan sesuai kebutuhan. ”Mereka belanja seperlunya saja untuk keperluan di rumah,” ucap dia.

Untuk mengatasi ini semua, lanjut dia, perlu ada peran dari pemerintah. Bahkan jika pemerintah ingin mengandeng HIPMI, siap bergabung. Yaitu dengan melakukan pelatihan-pelatihan anak muda menjadi enterpreuner. Selain itu, pemerintah harus memiliki program yang pro pada pemula usaha. Apakah itu memberikan modal pinjaman usaha atau lainnya yang intinya, para pemula mau memulai mencoba.

Kebanyakan sekarang bukan tidak memiliki ide, tetapi tak memiliki keberanian mencoba. Harus dikaui, jika para pengusaha semakin banyak, maka mendorong pertumbuhan ekonomi. Tentu usaha yang dimulai tak harus besar dan dengan jumlah karyawan yang besar. Dimulai dari hal kecil, namun bila tekun dilakukan bisa membuah hasil. ”Jadi sektor mikro juga hidup,” ungkapnya. (dri)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here