Hobi atau Penyakit?

Fenomena Game Online

0
752
M. Hadi Wijaya

Oleh: M. Hadi Wijaya
Mahasiswa Tadris Bahasa Inggris, STAI Miftahul Ulum, Tanjungpinang

Pasukan hp miring, begitulah sebutan untuk orang yang berkumpul untuk bermain bersama dalam suatu game. Tren permainan di era digital ini makin digandrungi oleh berbagai lapisan usia. Game online di satu sisi memang memberikan dampak positif, namun lebih banyak juga dampak negatifnya, khususnya bagi anak-anak. Apalagi pada permainan game online banyak yang mengandung adegan baik secara verbal maupun secara fisik.

Fenomena game online bagai tak terhindarkan di zaman milenial ini. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan orang tua sekalipun ikut keranjingan dalam memainkan game. Baik di kedai kopi, coffee shop, bahkan tak jarang di pos kamling sering sekali jadi tempat perkumpulan. Salah satu alasan pesatnya perkembangan dalam hal ini adalah kemudahan dalam akses game itu sendiri. Mudah dibawa kemana-mana, bahkan bisa dimainkan kapanpun dan dimanapun.

Di satu sisi, bermain game dapat menghilangkan stres, menumbuhkan kreativitas dan meningkatkan kemampuan problem solving. Beberapa peneliti dari University of Rochester di New York, Amerika melakukan riset mengenai pengaruh positif dari bermain game.

Baca Juga :  Hukum Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah

Dalam riset tersebut, para gamers usia antara 18 hingga 23 tahun dibagi menjadi dua kelompok. Yang pertama, adalah gamer yang dilatih dengan game Medal of Honor (Sebuah game FPS yang cukup terkenal). Mereka main game ini satu jam tiap hari selama sepuluh hari berturut-turut. Hasil penelitian menyebutkan bahwa para pemain game ini memiliki fokus yang lebih terhadap apa yang terjadi di sekelilingnya, jika dibandingkan dengan mereka-mereka yang jarang main game, apalagi yang tidak main sama sekali. Mereka juga mampu menguasai beberapa hal dalam waktu yang sama atau bahasa kerennya multitasking.“

Pada sisi lain, game online memiliki pengaruh negatif dengan perilaku agresif anak. Dengan semakin tinggi intensitas bermain game online pada anak-anak maka akan semakin tinggi pula perilaku agresif anak hingga dibutuhkan pengawasan yang lebih tinggi pula oleh orang tuanya. Layanan game online selalu menyuguhkan konten yang memacu adrenalin. Selain itu, di dalam permainan, semua pemain diberikan kesempatan yang setara atau sama untuk menang, sementara pada kehidupan nyata adanya label-label negatif pada seseorang yang kecanduan pada kebiasaan ini.“ Karena kecenderungan anak-anak bermain game online sampai larut malam malam membuat sejumlah daerah membuat Peraturan Daerah tentang pengaturan jam malam yang diberlakukan pada anak usia sekolah. Setiap warnet yang menyajikan jasa game online di-sweeping, pada jam-jam sekolah dan di malam hari. Hasilnya cukup bagus sebagai efek jera. Bahkan sebagian usaha game online ditutup pemerintah karena melanggar ketentuan penerapan jam malam pada anak-anak usia sekolah. Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organizations (WHO) sudah menetapkan bahwa Kecanduan game atau yang disebut game disorder merupakan penyakit gangguan mental. WHO menyebut ini sebagai International Statistical Classification of Diseases (ICD). Pemicunya karena gangguan yang disebabkan oleh kebiasaan atau kecanduan.

Baca Juga :  Memaknai Pertumbuhan Ekonomi Kepri 2017 dan Resolusi 2018

Di lain pihak praktisi kesehatan jiwa, dr. Kristiana Siste, SpKJ (K) dari Departemen Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia yang dikutib berbagai media nasional, menyebutkan, seseorang dikatakan gaming disorder bila memenuhi kriteria yang telah ditetapkan WHO, yaitu jika melakukan permainan tersebut di luar jam kewajaran dan lebih memprioritaskan permainan itu dibandingkan dengan aktivitas yang seharusnya lebih diutamakan.

Berdasarkan arahan dari WHO, penyembuhan gangguan gaming disorder harus dilakukan selama kurang lebih 12 bulan melalui arahan psikiater. Namun, jika gangguan yang terjadi sudah sangat parah, pengobatan bisa saja berlangsung lebih lama. Jadi, masihkah Anda ingin meneruskan kebiasaan main game online sampai waktu yang berlebihan? Ataukan Anda tetap akan membiarkan anak-anak Anda dan orang terdekat Anda larut dengan hobi mereka itu? Ustaz kondang Abdul Somad dalam satu dakwahnya menyebut, orang yang candu game sudah mubasir waktu. Orang yang mubasir saudara dengan setan. Makanya yang kecanduan game tak lagi digoda setan karena saudara dengan setan. Nauzubillahiminzalik. ***

Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here