Hujan, Petani Sayur Merugi

0
184
Petani sayur di Dompak saat panen kangkung dan bayam sebelum musim hujan turun, beberapa minggu lalu. f-istimewa

Akibat turun yang hampir satu bulan terakhir ini, membuat hasil panen petani menurun drastis. Bahkan, ada yang gagal panen. Akibatnya, harga suyur mayur di pasaran mengalami kenaikan.

TANJUNGPINANG – Katimun, ketua Kelompok Tani Harapan Jaya Dompak mengungkapkan, pada musim penghujan kali ini, petani sayur mulai khawatir. Meskipun siklus iklim ini berlangsung setiap tahun, tetapi mereka tetap khawatir kondisi tanaman sayur bagi anggotanya bisa rusak.

”Tanjungpinang diguyur hujan hampir satu bulan. Musim hujan ini merupakan masa sulit bagi anggota petani kami yang mayoritas petani sayuran. Sebagian besar jenis tanaman sayur mayur tidak akan tahan dengan curah hujan yang cukup tinggi,” kata Katimun, kemarin.

Menurut dia, sejauh ini tidak ada hal yang menjadi kendala yang berarti bagi anggota petaninya. Hanya faktor cuaca yang tidak bisa ditanganinya. Karena, tanam sayur pada musim hujan, sambung dia, sayuran basah seperti sawi, kangkung, timun, kacang, terong, bayam tidak tumbuh subur. Berbeda dengan saat musim kemarau, justru sayur basah tumbuh subur.

”Lingkungan yang basah mempercepat pembusukan tanaman. Dan, sayur basah tersebut tidak tumbuh subur. Inilah yang dialami anggota kelompok kami di Dompak,” bebernya.

Sambung Katimun, kalau anggotanya banyak pusing menghadapi musim tanam yang dibarengi musim penghujan. Namun menurutnya, petani sayur tetap mengolah lahan pertanian sayur meski dihantui kerugian, demi untuk menutupi biaya hidup sehari-hari.

Ia juga membeberkan, saat hujan petani cabai, dan tomat juga mengeluh. Karena, di musim hujan penyakit yang menyebabkan daun cabai cepat diserah penyakit keriting. Misalnya, penyakit tungau, trips, dan serangan hama lainnya.

Sementara itu, untuk menjaga kesuburan tanah, petani tetap mengandalkan pupuk kandang yang diselingi dengan pupuk buatan pabrik. ”Kita tetap bersyukur. Hujan adalah nikmat Allah yang diberikan umatnya,” ujarnya.

Ia berharap, ke depannya anggota petaninya yang mencapai hampir 20 orang, tetap sukses meskipun cuaca tidak bersahabat akhir-akhir ini. Sebab, menjadi petani di Dompak, salah satunya membutuhkan biaya yang cukup besar. Karena, lahannya berbeda dengan lahan yang ada di kawasan Sumatra atau Pulau Jawa, tanpa pupuk kandang atau kompos, tetap subur tanamannya, beda di Dompak. (ABAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here