Hukum Tumpul ke Atas, Tajam ke Bawah

0
2080
Fran Siska Novrianty

Fran Siska Novrianty
Mahasiswi Ilmu Pemerintahan, Stisipol Raja Haji Tanjungpinang

Di Cina, koruptor dipotong lehernya. Di Arab Saudi, koruptor dipotong tangannya. Tapi, di Indonesia, koruptor justru yang dipotong masa tahanan.

Kutipan tersebut merupakan potongan puisi dari sastrawan kondang di Indonesia, Taufik Ismail, yang berjudul “Ketika Indonesia Dihormati Dunia”.

Dalam syairnya, beliau menyatakan kebanggaannya terhadap rakyat Indonesia dahulu yang sederhana, santun, pemimpinnya yang jujur dan ikhlas. Namun, beliau juga menyatakan keprihatinannya terhadap Indonesia sekarang yang dikenal karena korupsinya.

Setiap negara yang merdeka dan berdaulat harus mempunyai hukum nasional di segala bidang hukum. Seperti yang kita ketahui saat ini, hukum-hukum yang ada di Indonesia sudah banyak mengadili dan narapidananya ditetapkan bersalah.

Mungkin beberapa di antara masyarakat menyatakan hukuman yang diberikan itu sudah adil dan ada juga yang merasa putusan hukumnya tidak adil, karena merasa apa yang telah dilakukannya masih biasa diberi hukuman yang lebih ringan.

Kondisi hukum yang masih seperti ini, ketika berhadapan dengan orang yang memiliki kekuasaan, baik itu kekuasaan politik atau uang maka hukum menjadi tumpul. Tetapi ketika berhadapan dengan orang lemah, yang tidak memiliki kekuasaan dan sebagainya maka hukuman bisa lebih tajam. Hal ini terjadi karena proses hukum itu tidak berjalan secara otomatis, tidak terukur sebagaimana proses penegakan hukum semestinya.

Bangsa yang kaya akan kritik, berimajinasi, serta di dalam setiap peristiwa yang terjadi di tengah perubahan masyarakat tidak bisa dipungkiri seorang pemuda untuk memegang peranan penting dalam hampir setiap meraih cita-cita.

Begitu pula dengan negara Indonesia saat ini. Banyak kasus-kasus yang membuat mereka terjerumus ke dalam kasus hukum. Penegak hukum berbagai kasus di negeri ini acap kali mengingkari rasa keadilan yang mengesankan masyarakat, diskriminasi hukum kerap dipertontonkan aparat penegak hukum.

Contohnya, seorang gadis yang masih remaja berumur 14 tahun diperkosa sampai mati. Di mana anak SMA mengaku anak pejabat polri, mahasiswa membunuh seorang dosen karena skripsi yang ia kerjakan tidak diterima atau ditolak.

Ada juga Sonya Depari yang memaki-maki seorang polisi wanita yang memberhentikan mobil kendaraannya, kini ia malah menjadi duta narkoba.

Zaskia Gotik yang pekerjaannya hanya penyanyi dangdut yang sangat dikenal dengan goyangan itik yang sangat tidak mendidik bagi masyarakat bangsa Indonesia malah melecehka Pancasila. Tiba-tiba ia diangkat menjadi duta Pancasila.

Sedangkan di Jepang, Malaysia dan negara lainnya korupsi dihukum mati. Namun, kenapa di negara Indonesia yang sudah merdeka, orang salah dibela sampai mati? Nenek-nenek yang mencuri dua batang pohon ubi divonis 1 tahun penjara, tetapi PT Bumi Mekar Hijau membakar 20.000 hektar hutan divonis tidak bersalah.

Seseorang yang maling sandal seharga 5.000 divonis lima tahun penjara, sedangkan korupsi Rp 21,2 Miliar divonis hanya 4,5 tahun penjara. Di letak keadilan.

Dari istilah hukum tumpul ke atas namun sangat tajam ke bawah dapat diartikan bahwa salah satu sindiran yang nyata bahwa keadilan di negeri ini lebih tajam menghukum masyarakat kelas menengah ke bawah dibandingkan para pejabat kelas atas.

Coba bandingkan dengan para koruptor yang notabene adalah para pejabat kelas ekonomi ke atas mulai dari tingkat anggota DPRD hingga para mantan menteri juga terjerat kasus korupsi.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here