Hukum untuk Keadilan dan Bukan untuk Pertentangan

0
153
Ismanullah

Oleh: Ismanullah
Mahasiswa Ilmu Hukum, FISIP, UMRAH

Akhir–akhir ini beredar informasi tentang kasus mantan guru honorer di SMA Negeri 7 Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), Baiq Nuril Maknun yang dinyatakan bersalah karena telah menyebarkan rekaman berupa kesusilaan. Kasus ini bertentangan dengan hukum di Indonesia dan berkaitan dengan Pancasila. Di dalam kasus ini masyarakat Indonesia beranggapan bahwa seorang Baiq Nuril ini tidak bersalah, karena dengan bukti-bukti yang kuat beserta fakta yang berpihak kepada beliau. Namun, bedasarkan keputusan kasasi Mahkamah Agung (MA), menyatakan Baiq Nuril bersalah. Hal ini menjadi pertentangan antara kasus Baiq Nuril dengan kasus pembakaran bendera berisi kalimat tauhid atau sebagai bendera Hizbut Tauhid Indonesia (HTI) yang sedang menjadi perbincangan masyarakat Indonesia pada saat ini. Dengan adanya kasus ini, apakah hasil keputusan dari kasasi MA ini dikatakan adil bagi seseorang Baiq Nuril.

Kasus Baiq Nuril ini menjadi perbincangan masyarakat, karena dianggap tidak adil di pandangan masyarakat. Beberapa media menyebut, kasasi memberikan hukuman 6 bulan penjara serta dikenakan denda sebesar 500 juta rupiah. Beberapa media lain juga menyebut, juru bicara MA Suhadi mengatakan, putusan kasasi nomor 574 K/PID.SUS/2018 pada tanggal 26 September 2018 terkait kasus Baiq Nuril Maknun yang dinyatakan bersalah telah sesuai dengan ketentuan hukum.

Dari bukti–bukti dan fakta tentang kasus Baiq Nuril telah menguat. Pada tahun 2012 Baiq Nuril dapat panggilan suara dari seseorang yang berinisial‘’M’’ berupa sebuah percakapan, ‘’M’’ diduga telah melakukan pelecehan seksual terhadap Baiq Nuril. Dalam sebuah percakapan, Baiq Nuril berinsiatif untuk merekam obrolan dengan ‘’M’’melalui panggilan suara yang diduga merupakan unsur dari pelecehan seksual terhadap dirinya. Kemudian beliau menceritakan rekaman obrolanya dengan ‘’M’’ kepada teman rekan kerjanya yang bernama Imam, lalu Imam menyebarkan rekaman itu ke Dinas Pemuda dan Olahraga. Setelah rekaman obrolanya tersebar, ‘’M’’ akhrinya melaporkan Baiq Nuril kepada pihak yang berwajib atas dasar pasal 27 ayat (1) UU informasi dan ITE. Dan Baiq Nuril sempat dinyatakan tidak bersalah dalam persidangan di pengadilan setempat. Tetapi, ia kalah dalam banding. Jaksa penuntut umum mengajukan banding atas putusan pengadilan sampai ke tingkat MA. Dan kasasi MA, akhirnya menyatakan bahwa Baiq Nuril bersalah karena telah menyebarkan rekaman berupa kesusilaan atas dasar pasal 27 ayat (1) UU informasi dan ITE.Hal ini juga menjadi pertentangan antara kasus Baiq Nuril dengan kasus pembakaran bendera yang berisi kalimat tauhid atau sebagai bendera Hizbut Tauhid Indonesia (HTI) yang saat ini menjadiperbincangan masyarakat Indonesia.

Kemudian dalam kasus pembakaran bendera yang bertulis tauhid atau bendera Hizbut Tauhid Indonesia (HTI), ketiga tersangka yang beriniasial‘’F’’ dan ‘’M’’ sebagai pembakar bendera dan Uus Sukmana sebagai pembawa bendera yang dinyatakan bersalah dan divonis 10 hari penjara dan tidak mengajukan banding. Berdasarkan data yang dikutip dari berbagai media massa, ketiga tersangka telah terbukti secara sah bersalah karena telah melanggar pasal 174 KUHP dan dijatuhi hukuman 10 hari kurungan penjara dan dikenakansanksi oleh majelis hakim Hasanudin dalam sidang yang digelar di Pengadilan Negeri Garut, Jalan Merdeka Tarogong Kidul, Senin (05/11/2018). Hal ini menjadi perbincangan orang – orang yang beranggapan bahwa kasus Baiq Nuril yang tidak bersalah dan dinyatakan bersalah serta dikenakan hukuman 6 bulan penjara dan denda sebesar 500 juta rupiah, sedangkan kasus pembakaran bendera yang bertulis tauhid atau Hizbur Tauhid Indonesia (HTI) yang dinyatakan bersalah dan divonis hukuman 10 hari kurungan penjara.

Kedua kasus ini sedang menjadi perbincangan masyarakat yang beranggapan bahwa hukuman yang diberikan dalam kasus Baiq Nuril tidak setimpal dengan kasus pembakaran bendera yang bertulis tauhid atau Hizbur Tauhid Indonesia (HTI). Karena pandangan masyarakat tentang kasus Baiq Nuril yang tidak bersalah tetapi dinyatakan bersalah dan dikenakan hukuman 6 bulan penjara dan denda sebesar 500 juta rupiah ini tidak setimpal dengan pembakaran benderayang bertulis tauhid atau Hizbur Tauhid Indonesia (HTI) yang secara sah bersalah hanya divonis hukuman 10 hari kurungan penjara dan sanksi yang dikenakan. Padahal kedua kasus ini merupakan hasil Keputusan – keputusan yang diberikan kepada seseorang yang dinyatakan secara sah bersalah merupakan hasil dari keputusan sidang yang telah ditetapkan sesuai dengan undang – undang yang berlaku.

Dalam kasus ini, kedua kasus berkaitan dengan sila – sila Pancasila. Kasus Baiq Nuril berkaitan dengan sila kedua yang berbunyi “ kemanusiaan yang adil dan beradab “. Di dalam sila kedua Pancasila, yang memiliki makna berani membela kebenaran dan keadilan terhadap Bangsa Indonesia serta mengakui dan memperlakukan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk Tuhan yang Maha Esa. Dan kasus pembakaran bendera termasuk dalam sila ketiga yang berbunyi “persatuan indonesia” yang memiliki makna mempersatukan bangsa yang beragam. Pancasila yang merupakan sumber dari segala sumber hukum, yang dapat menjadi nilai – nilai yang harus ditanamkan pada diri seseorang, sehingga pelangaran – pelanggaran yang memberikan dampak buruk kepada seseorang atau orang lain serta tindakan -tindakan yang tidak diinginkan dapat terhindarkan.

Pandangan masyarakat terhadap hukum di Indonesia masih belum berjalan dengan baik atau sesuai dengan keinginan mereka. Masyarakat beranggapan bahwa penegakan hukum di Indonesia ini bisa dibeli. Nyatanya, penegakan hukum di Indonesia ini berjalan sesuai dengan ketentuan undang-undang yang berlaku. Emanuel Kant pernah mengatakan bahwa “ hukum yang baik, hakim yang buruk, maka hukumnya buruk dan hakim yang buruk, hakim yang baik, maka hukumnya baik “. Dan dalam penegakan hukum di Indonesia, Seseorang yang bersalah akan dinyatakan bersalah dan seseorang yang benar akan dinyatakan benar dengan bukti – bukti yang kuat serta fakta yang dapat menjadi sebuah proses penyelesaian yang berupa keadilan dalam penegakan di ranah hukum.

Dan masih banyak orang – orang yang beranggapan bahwa keadilan dan kebenaran itu sama, Padahal keadilan dan kebenaran memiliki sebuah perbedaan. Perbedaan antara kedua itu hanya berbeda pada metodologi. Keadilan tidak memerlukan metodologi serta diperlukan rasa dan perspektif. Sedangkan kebenaran membutuhkan metodologi dan tahap – tahap standarnya. Misalnya dalam kasus yang sedang kita bicarakan yaitu kasus Baiq Nuril dan kasus pembakaran bendera yang bertulis tauhid atau bendera Hizbut Tauhid Indonesia (HTI). keadilan dalam kasus Baiq Nuril yaitu karena adanya rasa keadilan pada seseorang. Dan kebenaran dalam Baiq Nuril yaitu terpenuhinya unsur – unsur yang berupa menyebarkan rekaman kesusilaan yang termasuk dalam pasal 27 ayat (1) UU informasi dan ITE. Sedangkan dalam kasus pembakaran bendera yang bertulis tauhid atau bendera Hizbut Tauhid Indonesia (HTI), keadilanya sudah tidak terpenuhi unsur – unsurnya. Dan kebenaranya dalam kasus pembakaran bendera yang bertulis tauhid atau bendera Hizbut Tauhid Indonesia (HTI) sudah jelas melanggar pasal 174 KUHP.

Dari kedua kasus ini, penegakan hukum di Indonesia itu berdasarkan ketentuan -ketentuan undang – undang yang berlaku dan diterapkan melalui sidang hasil keputusan kepada seseorang yang dinyatakan bersalah. Hukum itu bertujuan untuk menciptakan keadilan pada seseorang yang dinyatakan tidak bersalah dan tidak adanya sebuah pertentangan yang melibatkan suatu pihak atau belah pihak dalam hukum. Masyarakat yang masih beranggapan bahwa kasus ini ada yang belum adil dan sudah adil, itu semua sudah ditentukan berdasarkan hasil keputusan pihak – pihak yang berwenang. Kita sebagai masyarakat yang menilai perkembangan hukum di Indonesia hanya bisa memberikan pendapat tentang penegakan hukumnya. Apakah sudah berjalan dengan baik hukum di Indonesia yang sesuai kita harapkan khususnya masyarakat, itu semua menjadi tanggung jawab kita bersama sebagai Warga Negara Indonesia yang merupakan negara hukum.***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here