Ibu dalam Paradigma Patriarki

0
1101
Dwi Yuniarti Hasanah

Oleh: Dwi Yuniarti Hasanah
Mahasiswa Ilmu Pemerintahan, FISIP, UMRAH

Pada tanggal 22 Desember setiap tahunnya dirayakan sebagai hari ibu atau “Happy Mother day”. Banyak anak memanfaatkan hari ini dengan memebrikan hadiah spesial untuk ibunya. Hari Ibu atau Hari Perempuan dalam konteks sejarah bahwa Hari Ibu lahir dari peristiwa perjuangan kaum perempuan menuju kemerdekaan dan perbaikan nasib perempuan yang dikeluarkan melalui Dekrit Presiden Soekarno pada 22 Desember 1959 untuk mengenang diselenggarakannya Kongres Perempuan pertama pada 1928 di Yogjakarta.

Ibu adalah orang tua perempuan seorang anak, baik melalui hubungan biologis maupun sosial. Umumnya, ibu memiliki peranan yang sangat penting dalam membesarkan anak, dan panggilan ibu dapat diberikan untuk perempuan yang bukan orang tua kandung (biologis) dari seseorang yang mengisi peranan ini. Contohnya adalah pada orang tua angkat (karena adopsi) atau ibu tiri (istri ayah biologis anak).

Perempuan ada kalanya diidentikkan dengan pekerjaan pada wilayah domestik atau rumah tangga. Namun seorang perempuan memiliki potensi besar untuk melakukan banyak kebaikan. Ia dapat mengambil peran dalam berbagai profesi di bidang pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Ibu adalah seorang perempuan yang multitalent. Bukan hanya saja melakukan pekerjaan rumah, namun mendidik anak, memanajemen keuangan kelurga dan lain sebagainya. Perempuan merupakan salah satu komponen dalam masyarakat disamping kaum laki-laki. Kelebihan ini menjadi kan seorang ibu pada zaman ‘now’, lebih banyak ibu yang bekerja atau mencari nafkah di banding ibu rumah tangga yang melakukan pekerjaan rumah dan mendidik anak di rumah.

Hal ini yang kemudian bisa dikatakan bahwa perempuan adalah mitra sejajar dengan laki-laki. Jika kita lihat dari sudut pandang budaya patriarki, bahwa seorang ibu (perempuan) itu lebih berperan sebagai seorang ibu rumah tangga, yang patuh kepada suami (laki-laki). Sebelum jauh pembahasan nya kita perlu tahu, apa itu patriarki? Patriarki merupakan sebuah sistem yang menempatkan laki-laki dewasa pada posisi sentral atau yang terpenting, sementara yang lainnya seperti istri dan anak diposisikan sesuai kepentingan the patriarch (laki-laki dewasa tersebut).

Dalam sistem patriarki, perempuan diposisikan sebagai istri yang bertugas mendampingi, melengkapi, menghibur, dan melayani suami (the patriarch), sementara anak diposisikan sebagai generasi penerus dan penghibur ayahnya. Di negara-negara barat, Eropa barat termasuk Indonesia, budaya dan ideologi patriarki masih sangat kental mewarnai berbagai aspek kehidupan dan struktur masyarakat. Bila dilihat dari garis keturunan, masyarakat Sumatera Utara lebih cenderung sebagai masyarakat yang patrilineal yang dalam hal ini posisi ayah atau bapak (laki-laki) lebih dominan dibandingkan dengan posisi ibu (perempuan). Contoh suku yang menganut faktor budaya patriarki adalah Batak, Melayu dan Nias.

Dalam banyak pandangan sumber utama patriarkhisme ini adalah interpretasi laki laki atau teks teks suci, terutama tentang kisah kejatuhan Adam dari surge. Cerita ini sangat terkenal, terutama dalam masyarakat Yahudi dan Kristen awal. Intinya adalah bahwa Adam terjatuh dari surge karena Hawa, sehingga Hawa dianggap sebagai asal usul kejahatan di Bumi. Tuhan lalu mengutuknya sekaligus memerintahkannya untuk taat kepada Adam. Cerita ini secara terang melegitimasi patriarkhisme bahkan melegitimasi kebencian pada perempuan, mengunggulkan dominasi laki-laki dan mewajibkan perempuan untuk patuh kepada laki laki.

Budaya patriarki yang mendudukkan perempuan tidak sejajar dengan kaum laki-laki sedikit banyak mempengaruhi peran perempuan dalam masyarakat. Budaya ini lebih jauh akan mempengaruhi peran perempuan di ranah yang lebih luas misalnya dalam wilayah publik. Terlihat bahwa kaum perempuan yang terlibat dalam lembaga-lembaga politik formal, di badan perwakilan dari waktu ke waktu sangat rendah. Oleh karena itu pemberdayaan dan emansipasi terhadap perempuan menjadi penting. Emansipasi sebenarnya lebih mengarah pada kemampuan perempuan terjun ke dalam sektor publik. selain itu juga mendorong kaum laki-laki untuk berbagi tugas dalam ranah domestik atau rumah tangga. ***

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here