Ikan di Laut Natuna Sedang Krisis

0
121
NELAYAN Natuna memeriksa budidaya keramba ikan. f-istimewa

Alat Tangkap Tradisional Dan Pemanasan Global Bikin Masalah

Laut Natuna kini seakan-akan bukan lagi gudangnya ikan. Bahkan, Natuna sendiri mengalami krisis ikan. Penyebaran ikan tongkol sudah berkurang. Stok di pasar pun ikut minim.

NATUNA – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti pernah mengatakan, potensi penangkapan ikan di perairan Natuna bisa mencapai 400.000 ton per tahun atau senilai 400 juta dolar AS atau sekitar Rp5,84 triliun (kurs Rp14.600 per dolar US).

Bahkan, untuk memanfaatkan potensi perikanan yang begitu besar, Kementerian Kelautan dan Perikanan telah menganggarkan dana sebesar Rp300 miliar untuk pengembangan kawasan Natuna selama dua tahun.

Sementara itu, Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Natuna, Zakimin menyebutkan, kondisi perikanan di Natuna saat ini bisa dikategorikan sebagai kondisi paceklik.

Keadaan ini disebut paceklik lantaran diduga disebabkan oleh sejumlah faktor yang mempengaruhi terjadinya krisis ikan.

”Ya betul, kondisi sekarang kita memang susah dengan ikan. Bahkan saya menyebutnya sebagai paceklik ikan,” kata Zaki di Bukit Arai, kemarin.

Ia mengatakan, sedikitnya ada empat faktor penyebab ikan menjadi susah diakses oleh masyarakat. Penyebab pertama adalah kondisi laut yang kurang memungkinkan bagi nelayan untuk leluasa menangkap ikan. Gelombang dan angin cendrung kencang belakangan ini.

Penyebab kedua, populasi ikan di perairan Natuna diduga berkurang karena migrasi ikan (terutama sekali ikan tongkol) kemungkinan besar tidak menyebar ke perairan Natuna akibat pemanasan global.

Padahal, di Indonesia, ikan tongkol kebanyakan di perairan Natuna dan Aceh. Dampak kondisi ini dapat mempengaruhi populasi plankton di Natuna yang menjadi salah satu mata rantai siklus kehidupan habitat laut.

Kemudian penyebab ketiga adalah terbatasnya kemampuan nelayan terutama sekali dari sisi alat tangkap. Rata-rata nelayan Natuna masih menggunakan cara dan alat-alat tangkap tradisional yang notabene kurang mampu berlayar jauh dan tidak kuat melawan gelombang yang agak besar.

Penyebab terakhir, daya beli masyarakat di Natuna melemah, sehingga kalaupun terdapat ikan tapi dengan harga yang agak tinggi, mereka susah dapat membelinya.

”Hipotesanya kurang lebih seperti itu sehingga saya menduga keadaan ini sebagai paceklik,” ujar Zaki.

Mengatasi kondisi di atas, pemerintah akan menggelar operasi pasar yang bukan hanya untuk komponen sembako, tapi juga ikan akan masuk dalam operasi pasar yang telah direncanakan pemerintah.

”Kami akan menggelar operasi pasar untuk mengatasi keadaan ini. Kami sudah koordinasi dengan Disprindag dan Perindo. Kebetulan Perindo masih punya stok ikan karang di coldstorage SKPT Selat Lampa yang sudah dikumpulkan sejak beberapa waktu lalu. Mengatasi keadaan semacam ini juga tugas Perindo. Mudah-mudahan operasi pasar ini secepatnya bisa terlaksana dan berjalan lancar,” tutupnya.(HARDIANSYAH -MARTUNAS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here