Ilmu Jurnalistik Sangat Penting

0
111
NARASUMBER Martunas Situmeang, Nikolas Panama foto bersama dengan mahasiswa usai Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Bidikmisi UMRAH Tanjungpinang, Sabtu (23/2) di Gedung Expo Bintan di Pamedan. F-istimewa

Warek I UMRAH Buka Pelatihan Jurnalistik untuk Mahasiswa

Wakil Rektor I Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH) Tanjungpinang Prof.Dr.rer.nat Rayandra Asyhar, M.Si mengatakan, ilmu jurnalistik sangat penting bagi mahasiswa. Salah satunya agar bisa membedakan keberimbangan informasi dan bisa menjadi modal menangkal informasi kebohongan alias hoax.

TANJUNGPINANG – HAL ini dikatakan Rayandra saat membuka Pelatihan Jurnalistik Mahasiswa Bidikmisi UMRAH Tanjungpinang yang digelar di Gedung Expo Pamedan Tanjungpinang, Sabtu (23/2). Rayandra mengatakan, jurnalis atau wartawan, selalu berupaya menyajikan berita-berita yang berimbang. Ada konfirmasi dan tidak asal diterbitkan.

”Artinya, ada keadilan dalam membuat berita,” katanya.

Mahasiswa, jelasnya lagi, butuh ilmu pengetahuan di berbagai bidang. Bukan hanya pengetahuan di bidang mata kuliah jurusannya saja. Ilmu jurnalistik salah satunya bisa menambah wawasan dan pengetahuan mahasiswa.

Pada kesempatan itu, ia juga meminta agar mahasiswa bidikmisi belajar keras dan harus bisa tamat 8 semester atau 4 tahun. Jika tidak, maka pemerintah tidak akan menanggung biaya kuliah mereka.

”Manfaatkan kesempatan ini untuk menyerap ilmu yang disampaikan narasumber. Dua narasumber kita ini sudah banyak pengalaman dalam pekerjaan mereka sebagai wartawan. Mereka sangat paham ilmu jurnalistik ini,” pesannya.

Kegiatan ini dilakukan Organisasi Forum Mahasiswa Bidikmisi (Formadiksi) UMRAH Tanjungpinang. Kegiatan tersebut salah satu program kerja tahunan mereka.

Sekretaris Umum Formaduksi UMRAH Tanjungpinang, Sri Handayani mengatakan, mereka memilih kegiatan ini karena ilmu jurnalistik sangat diperlukan mahasiswa. Dari pelatihan ini, mahasiswa bisa mengembangkan bakat mereka untuk menulis atau kelak bisa menjadi wartawan yang handal.

Mahasiswi Akuntansi Semester VI yang juga Sekretaris Pelaksana Kegiatan ini menambahkan, setidaknya, dengan pelatihan ini, mahasiswa tidak buta sama sekali bagaimana cara menulis berita termasuk dalam membedakan berita hoax dan berita yang kebenarannya teruji.

Pelatihan dengan tema ‘Satu Goresan Sejuta Perubahan’ ini menghadirkan dua narasumber yakni Martunas Situmeang selaku Redpel Tanjungpinang Pos dan Nikolas Panama dari Antara.

Saat itu, Martunas lebih banyak menjelaskan ilmu dasar cara menulis berita sekaligus memberi pelatihan. ”Teori dengan praktik langsung lebih baik daripada hanya mempelajari teori semata. Karena itu, buatkan berita dengan data-data yang saya sampaikan. Waktunya hanya 20 menit,” jelas Martunas usai memberi ilmu dasar jurnalistik.

Sebelum diberi tugas menulis satu berita kejadian (straight news), ia terlebih dahulu menyampaikan 5W1H yang merupakan modal dasar membuat berita.

Kemudian, ia juga mengatakan, untuk menulis satu berita straight news harus berpedoman pada piramida terbalik. Artinya, informasi yang paling penting harus diletakkan di lead pertama, kedua, ketiga dan seterusnya.

Gunanya, apabila ada pemotongan berita saat hendak diterbitkan, informasi penting tetap bisa diperoleh pembaca. Namun, kata dia, ada juga kalanya berita itu berpedoman pada bentuk piramida asli yakni runcing di bagian atas.

Metoda ini biasanya dipakai untuk berita-berita yang lebih pada penggambaran situasi (news feature) yang kadang disebut catatan kaki.

Berita feature, terkadang lebih disukai pembaca karena selain isinya dalam, juga menggambarkan humanis dari satu peristiwa. Tergantung seorang wartawan menyajikannya.

Ia juga menyebutkan, menulis berita harus mengalir seperti air dari gunung. Artinya, air yang turun dari gunung tetap sampai ke laut atau danau.

Berita yang dibaca pembaca dari atas akan sampai ke bawah hingga selesai. ”Kalau cara menulis berita bagus, pembaca akan mengikutinya sampai habis. Tidak terputus di tengah jalan,” ungkapnya.

Salah satu yang terpenting bagi wartawan saat menulis berita adalah, wartawan tidak bisa membuat kesimpulan. Wartawan juga tidak bisa terbawa emosi dalam menulis berita. Tugas wartawan adalah mencari data sebanyak-banyaknya lalu menulis sesuai fakta kemudian ada konfirmasi.

Makin banyak data yang diperoleh di lapangan, maka isi beritanya makin bagus dan berbobot. Itu akan membuat pembaca lebih puas karena mendapatkan banyak informasi.

Saat itu, Niko menjelaskan tentang jenis-jenis berita termasuk teknik dasar menulisnya. Ia berpesan, menulis berita itu harus dengan hati. Dengan demikian, berita yang ditulis akan berimbang.

Nikolas mengatakan, dalam menulis satu berita, maka yang terpenting adalah apakah berita itu eksklusif, berita terbaru (straight news), serta lihat juga ketokohan narasumbernya.

Memang, kata dia, wartawan dalam menuliskan berita memiliki sudut pandang yang berbeda dalam memilih angle beritanya. Dua wartawan di lokasi kejadian yang sama, namun style penulisannya bisa berbeda.

Itu karena sudah pandang mereka berbeda melihat satu kejadian atau satu peristiswa. Ia berharap mahasiswa makin tertarik menjadi penulis dengan pelatihan itu.(DESI LIZA)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here